maaf email atau password anda salah


Cuaca Panas Merusak Kesehatan Mental

Berbagai riset membuktikan bahwa cuaca panas tidak hanya membuat tubuh sakit, tapi juga merusak kesehatan mental.

arsip tempo : 171891127412.

Ilustrasi cuaca panas. Shutterstock.. tempo : 171891127412.

Komunitas ilmuwan dari Goddard Institute of Space Studies (GISS) NASA merilis laporan pada 14 September 2023 bahwa musim panas tahun ini menjadi yang terpanas di bumi sejak pencatatan global dimulai pada 1880. Gabungan suhu rata-rata pada Juni, Juli, dan Agustus mencapai 0,23 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan dengan musim panas lainnya dalam sejarah. Selain itu, suhu Bumi 1,2 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan dengan rata-rata musim panas antara 1951 dan 1980.

Cuaca panas 2023 memang terjadi di seluruh belahan dunia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 6 September melaporkan bahwa suhu permukaan laut global mencapai tingkat tertinggi selama tiga bulan berturut-turut. Selain itu, penurunan luasan es laut di Antarktika ke tingkat terendah turut menyumbang peningkatan suhu Bumi. Sejauh ini perubahan iklim bagi tubuh manusia banyak dikaitkan dengan berkurangnya pemenuhan air seperti dehidrasi dan masalah kesehatan fisik lainnya.

Sementara itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga berdampak signifikan pada kesehatan mental. Penelitian lainnya pada 2021 menyatakan bahwa negara berpendapatan rendah dan menengah mendapat paparan kesehatan mental yang serius disebabkan oleh perubahan cuaca yang ekstrem.

Sayangnya, aspek ini masih terabaikan, sehingga belum ada penanganan yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi dampak negatif yang muncul.

Ilustrasi cuaca panas. Shutterstock.

Pengaruh Cuaca Panas pada Mental

Perubahan cuaca ekstrem mempengaruhi aktivitas keseharian seseorang. Dalam kondisi perubahan suhu, individu melakukan berbagai upaya penyesuaian agar dapat bertahan dalam situasi tersebut. Penyesuaian dilakukan pada aspek fisik dan psikologis. Kegagalan penyesuaian dapat menimbulkan berbagai masalah.

Beberapa pengaruh dari paparan cuaca panas yang berkepanjangan pada perubahan kognitif misalnya perubahan fungsi otak dan kelelahan mental. Selain itu, cuaca panas yang terjadi pada siang dan malam juga mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa tingginya suhu menimbulkan masalah tidur seseorang dan menyebabkan insomnia.

Dalam aspek perilaku, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa cuaca panas menimbulkan gejolak emosi seseorang sehingga meningkatkan stres dan agresi. Dalam beberapa kasus, kesulitan pengelolaan emosi dan perilaku selama melewati masa suhu tinggi dalam jangka panjang dapat mempengaruhi intensi seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Anak-anak merupakan kelompok yang juga rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti malnutrisi yang disebabkan oleh kelaparan. Cuaca panas juga mengakibatkan ruang belajar menjadi tidak nyaman dan dapat menurunkan performa kognitif anak.

Suhu Panas di Indonesia

Sebagai negara tropis yang dilewati oleh garis khatulistiwa, Indonesia menjadi negara yang tidak terhindarkan dari suhu panas yang hampir merata di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa, pada September lalu, suhu di sejumlah wilayah di Indonesia mencapai 35,4-38 derajat Celsius. Salah satu daerah dengan suhu tertinggi adalah Kertajati, Jawa Barat, dengan suhu mencapai 38,6 derajat Celsius. Cuaca panas terik itu terjadi karena minimnya tingkat pertumbuhan awan sehingga penyinaran matahari pada siang hari menjadi sangat panas.

Selain itu, kecepatan angin, tutupan awan, dan kelembaban udara yang rendah berkontribusi pada meningkatnya suhu di Indonesia. Dengan demikian, dampak suhu panas bagi kesehatan mental bagi penduduk Indonesia kemungkinan juga besar.

Efek Mental Masih Kurang Dipedulikan

Permasalahan kesehatan mental yang ditimbulkan dari efek cuaca panas belum banyak menjadi perhatian masyarakat.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental yang masih rendah mengakibatkan masyarakat cenderung abai pada perubahan-perubahan psikologis yang dialami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, stigma masyarakat tentang layanan kesehatan mental. Masyarakat Indonesia masih memiliki anggapan bahwa seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental merupakan aib. Apa yang dialami tidak patut untuk diketahui oleh orang lain termasuk konselor atau terapis.

Kedua, kurangnya kesadaran pentingnya kesehatan mental. Kesehatan mental dianggap sebagai masalah yang akan dengan sendirinya berkurang tanpa melalui bantuan atau metode khusus.

Ketika seseorang mengeluh tentang masalah psikologis yang dialami, respons yang muncul adalah meminta untuk sabar dan lebih dekat dengan kegiatan keagamaan. Meskipun faktanya permasalahan psikologis dapat dirasakan oleh siapa pun dengan latar belakang apa pun.

Ketiga, layanan kesehatan mental yang terbatas dan belum inklusif. Ketersediaan layanan kesehatan mental juga mempengaruhi seseorang untuk mengunjungi tenaga profesional ketika mengalami permasalahan psikologis. Khususnya di era digital, pemanfaatan teknologi semestinya mampu mendekatkan layanan kesehatan mental dengan masyarakat dan lebih inklusif.

Ilustrasi cuaca panas. Shutterstock.

Menjaga Kesehatan Mental Selama Cuaca Panas

Selain menjaga kebugaran fisik selama menghadapi cuaca panas, masyarakat perlu melakukan berbagai upaya untuk menjaga kesehatan mental. Tetap melakukan aktivitas di dalam ruangan seperti meditasi dan relaksasi menggunakan musik dapat membantu seseorang untuk meredam stres yang disebabkan oleh suhu yang tinggi.

Apabila upaya tersebut tidak menghasilkan perubahan signifikan, kita dapat menggunakan layanan profesional untuk mendapatkan penanganan yang lebih efektif. Pelayanan kesehatan mental di puskesmas atau unit layanan lain dapat digunakan sebagai alternatif untuk memperoleh penanganan yang tepat.

Dalam proses meningkatkan resiliensi selama menghadapi gelombang cuaca panas, peran komunitas untuk saling memberikan dukungan dan pendampingan sesama anggota sangat penting. Bagaimana komunitas merespons suatu peristiwa dapat mempengaruhi seluruh anggota di dalamnya.

Komunitas yang mampu memberikan penguatan positif untuk mampu bertahan pada situasi sulit, seperti cuaca panas, dapat membantu meningkatkan kemampuan seseorang menyesuaikan diri. Peran komunitas terkecil, seperti keluarga, karang taruna, pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK), dan komunitas-komunitas lainnya dapat dimaksimalkan untuk mengelola kesehatan mental individu di masyarakat.

Petugas kesehatan dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada bidang kesehatan mental bisa bersinergi dengan komunitas untuk dapat menyelenggarakan program penguatan kesehatan mental. Sehingga masyarakat dapat lebih tangguh dan adaptif selama menghadapi fase cuaca panas yang panjang. Walau musim hujan diperkirakan mulai datang bulan ini, ke depan, hawa panas terik akan makin sering terjadi akibat dari perubahan iklim.

---

Artikel ini ditulis oleh Siti Aminah, dosen psikologi pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Terbit pertama kali di The Conversation.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 20 Juni 2024

  • 19 Juni 2024

  • 18 Juni 2024

  • 16 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan