maaf email atau password anda salah


Menghitung Toleransi Maksimal terhadap Cuaca Panas

Ilmuwan menyepakati suhu bola basah 35 derajat Celsius sebagai batas maksimal toleransi tubuh manusia terhadap cuaca panas.

arsip tempo : 171825139128.

Seorang wanita mengeringkan keringat saat gelombang panas. Shutterstock. tempo : 171825139128.

Headline berita soal cuaca panas yang melanda belahan bumi utara bernada sama: gelombang panas mencatatkan rekor tertinggi dan mengancam kelangsungan hidup manusia. 

Di Inggris, misalnya. Media mengabarkan negara itu akan menjadi kelewat panas dalam tiga dekade mendatang. Berita tersebut membawa kekhawatiran lebih besar bagi 97 persen populasi dunia yang tinggal di lokasi dengan musim kemarau yang lebih panas ketimbang di Inggris.

Kabar baiknya, warga Inggris tidak perlu pindah ke Swedia pada 2050. Kabar buruknya, cuaca panas yang mematikan sudah terjadi, semakin parah, dan ada kemungkinan akan menjadi masalah yang jauh lebih besar di hampir setiap belahan dunia.

Ilustrasi temperatur suhu. UNSPLASH

Suhu panas menjadi pembunuh senyap yang menyebabkan kematian dalam jumlah yang lebih banyak daripada semua bencana alam. Sejumlah peristiwa gelombang panas pada beberapa dekade terakhir, termasuk musim panas tahun ini, ikut menyebabkan ribuan orang meninggal. Angka kematian di negara berkembang tak dihimpun secara pasti. Jumlahnya ada kemungkinan lebih besar dari angka yang tercatat.

Baca: Mewaspadai Suhu Panas

Kemungkinan terburuk masih menanti dan kita harus bersiap dari sekarang.

Suhu di permukaan bumi saat ini mencapai titik tertinggi sejak pertama kali manusia mencatatnya. Ini bisa menjadi suhu tertinggi sejak sebelum zaman es.

Gelombang panas yang terjadi belakangan ini menjadi bukti nyata pemanasan global. Gejala itu jauh lebih jelas terasa ketimbang dampak perubahan iklim lainnya, seperti banjir dan kekeringan. Pemanasan global akan terus terjadi sampai kita berhasil mencapai nol emisi.

Sementara suhu terus meningkat, kemampuan tubuh manusia untuk menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan sekitar tak berubah. Penelitian pada 2020 menunjukkan bahwa 35 derajat Celsius ke atas membuat tubuh manusia gagal mengeluarkan hawa panas metabolis. Para ahli mengusulkan angka tersebut dipakai sebagai batas ketahanan tubuh manusia terhadap cuaca panas.

Perlu dicatat batas 35 derajat Celsius itu merupakan wet-bulb temperature atau suhu bola basah, bukan angka yang tertera di termometer atau suhu bola kering. Wet-bulb temperature adalah pengukuran suhu yang memperhitungkan kemampuan tubuh untuk mendingin lewat penguapan. Pada tingkat kelembapan 100 persen, suhu bola dingin sama dengan temperatur di termometer. Jika tidak, suhu bola basah di bawah angka yang tertera di termometer. 

Suhu bola basah 35 derajat Celsius merupakan kondisi ekstrem. Sebagian besar lokasi di bumi tak pernah diselimuti wet-bulb lebih dari 30 derajat Celsius.

Lebih Sah dengan Suhu Bola Basah

Namun pemanasan global dapat mendorong gelombang panas yang menyebabkan lebih banyak lokasi bersuhu bola basah lebih tinggi dari 35 derajat Celsius. Sebelumnya, orang-orang yakin manusia bisa beradaptasi terhadap kenaikan suhu seperti itu. Kenyataannya, tidak.

Suhu bola basah digunakan dalam bidang meteorologis dan klimatologis untuk menghitung tekanan panas. Angka itu merupakan kombinasi perhitungan panas dan kelembapan. Suhu bola basah dapat terjadi di tempat dengan kelembapan tinggi bersuhu rendah serta tempat kering bersuhu tinggi. 

Berbagai penelitian terkini mencari tahu lebih banyak soal batas 35 derajat Celsius tersebut. Riset di Amerika Serikat pada tahun lalu mendapati seorang yang sehat terserang hipertermia (kegagalan mengatur suhu inti tubuh) setelah terpapar suhu panas yang jauh di bawah 35 derajat Celsius, yaitu sekitar 32 derajat Celsius. 

Temuan tersebut menjadi pengingat bagi para ilmuwan bahwa 35 derajat Celsius merupakan batas maksimal secara teoritis, bukan praktis. Di sisi lain, peneliti bisa mendapatkan batas toleransi yang berbeda jika riset berlangsung di negara panas, seperti India dan Brasil. Sebab, fisiologi manusia dapat menyesuaikan diri terhadap suhu panas hingga batas tertentu.

Suhu di Inggris, misalnya, masih jauh di bawah 32 derajat Celsius. Suhu bola basah di atas 32 derajat Celsius terjadi secara sangat jarang dan singkat di wilayah pesisir Timur Tengah. Meski demikian, akibat pemanasan global, kondisi seperti itu bisa menyebar ke lokasi-lokasi lain. 

Cuaca panas dapat memaksa kita mengubah cara hidup. Misalnya, menggeser aktivitas musim panas dari siang menjadi malam hari atau malah menghapusnya sama sekali. Panas akut telah membuat banyak orang membatalkan rencana liburan mereka ke Eropa dan negara-negara lain pada musim panas.

Warga beraktivitas di Jakarta, Mei 2022. TEMPO/M Taufan Rengganis

Para peneliti di University of Sydney, Australia, mengembangkan sistem peringatan dini cuaca panas serta menjalankan riset seperti yang berlangsung di Amerika Serikat. Sepertinya, dalam waktu dekat, kita bakal mendapat gambaran yang lebih detail soal dampak langsung cuaca panas terhadap tubuh manusia. 

Tantangan berikutnya adalah menghitung atau memprediksi akibat panas ekstrem terhadap biaya kesehatan, pekerjaan, dan kualitas hidup. Untuk itu, peneliti iklim dan kesehatan perlu mengembangkan model yang memperhitungkan perilaku serta adaptasi manusia dan informasi seputar fisiologi, cuaca, serta iklim. Kita juga perlu memahami dampak cuaca panas bagi alam sekitar dan mencari cara untuk melindungi margasatwa dari sengatan panas.

Di luar itu, hal yang paling utama adalah kesepakatan bersama untuk mencapai nol emisi karbon secepat mungkin guna menghentikan kenaikan suhu bumi.

---

Artikel ini ditulis oleh profesor Steven Sherwood, pakar perubahan iklim dari University of New South Wales, Australia. Terbit pertama kali dalam bahasa Inggris di 360info dan diterjemahkan oleh Reza Maulana dari Tempo.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 13 Juni 2024

  • 12 Juni 2024

  • 11 Juni 2024

  • 10 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan