maaf email atau password anda salah


Mayapada

Waspadai 9 Tanda Bahaya Sakit Kepala Akibat Tumor Otak

Sakit kepala diantara pasien tumor otak pun bervariasi. #Infotempo

arsip tempo : 171885211692.

Ilustrasi sakit kepala.. tempo : 171885211692.

Sakit kepala adalah salah satu keluhan yang paling sering dirasakan. Namun hanya sebagian kecil seseorang dengan sakit kepala yang memiliki tumor otak sebagai penyebabnya.

Karena itu, penting untuk mengenali ciri ciri sakit kepala yang disebabkan oleh tumor. Sifat sakit kepala bervariasi diantara pasien dengan tumor otak, sehingga perlu diperhatikan keluhan sakit kepala yang menjadi "tanda bahaya" atau red flags yang membuat seseorang perlu waspada.

Pertama, sakit kepala yang baru muncul atau akut, ini biasanya terasa lebih parah atau lebih sakit dari yang biasa dirasakan.

Kedua, sakit kepala yang baru muncul saat menjadi dewasa, terutama di atas usia 50 tahun.
Ketiga, sakit kepala pada orang dewasa yang lebih tua atau pada anak-anak.

Keempat, sakit kepala terasa saat aktivitas, onset di malam hari, atau onset di pagi hari.
Kelima, sakit kepala yang bersifat progresif makin lama makin terasa sakit.

Keenam, sakit kepala yang berhubungan dengan demam atau gejala sistemik lainnya.
Ketujuh, sakit kepala dengan meningismus yaitu ditandai dengan leher terasa kaku, photophobia atau tidak tahan terhadap cahaya terang.

Kedelapan, sakit kepala dengan tanda-tanda perubahan neurologis yang baru seperti hilangnya kendali gerakan secara bertahap di lengan atau kaki, kelemahan atau mati rasa pada lengan atau kaki.

Kesembilan, sakit kepala yang timbul saat batuk, bersin, atau membungkuk.
Jika mengalami salah satu keluhan sakit kepala tersebut, segera lakukan konsultasi dengan dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan skrining apakah sakit kepala tersebut berhubungan dengan tumor otak atau masalah kesehatan yang lain.

Tumor otak adalah massa atau pertumbuhan abnormal sel di otak. Tumor otak ada yang bersifat jinak dan beberapa tumor otak bersifat kanker (ganas). Tumor otak dapat berasal dari otak itu sendiri atau penyebaran dari kanker di bagian tubuh lain yang disebut sebagai tumor otak metastasis.

Seberapa cepat tumor otak tumbuh bisa sangat bervariasi, dan fungsi sistem saraf yang terganggu akibat tumor otak, selain dipengaruhi oleh pertumbuhan tersebut, lokasi tumor otak pun ikut berpengaruh. “Selain sakit kepala, dapat muncul keluhan-keluhan lain yang dirasakan penderita tumor otak seperti rasa mual atau muntah yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, masalah penglihatan atau pendengaran, gangguan memori atau kesulitan berpikir jernih, terjadi perubahan kepribadian atau perilaku, bahkan timbul kejang pada seseorang yang tidak pernah kejang” kata Dokter Spesialis Saraf, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Sheila Agustini Sp.S.

Saat ini, teknologi di dunia bedah saraf terus berkembang, dan tentunya untuk memaksimalkan keselamatan pasien dan hasil pengobatan yang lebih baik. Mayapada Hospital terus mengembangkan layanan bedah saraf termasuk dengan adanya Neuronavigasi Intraoperative yang canggih serta tindakan “Awake Brain Surgery” atau operasi otak terjaga (pasien dalam posisi sadar dan terjaga) dengan menggunakan mikroskop bedah canggih “robotic visualization system” berstandar internasional Kinevo 900.

Dengan adanya mikroskop “robotic visualization system” dan Neuronavigasi Intraoperative, dokter spesialis bedah saraf beserta tim dokter dapat melakukan tindakan operasi secara minimal invasif dan lebih akurat untuk daerah-daerah otak yang terletak di area yang dalam dan sulit untuk dijangkau. Sehingga akan menurunkan risiko dan memaksimalkan pengambilan jaringan tumor.

Jika tumor berada di area otak yang dapat menimbulkan kejang atau dekat bagian otak yang mengontrol penglihatan, gerakan, atau bicara, awake brain surgery merupakan pilihan terapi tumor otak di area elokuen (penting) tersebut. Selama tindakan operasi, dokter akan mengajukan pertanyaan dan memantau aktivitas di otak saat pasien merespons.

“Seorang gitaris yang memiliki tumor otak di area yang mengganggu aktifitas motorik halusnya, tetap bermain gitar saat dioperasi agar kami dapat melihat dan memonitor area otak yang bisa dipertahankan karena fungsi otak yang terkena tumor masih baik sehingga saat sembuh dia tetap bisa berkarya," ujar Dokter Spesialis Bedah Saraf, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Zainy Hamzah, Sp.BS.

Selain peralatan canggih dan keahlian dokter dalam melakukan diagnosis hingga tindakan pembedahan, tentunya kolaborasi dokter dari berbagai disiplin ilmu spesialisasi juga ikut berperan. Dokter Spesialis Bedah Saraf, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Budi Susanto, Sp.BS, mengatakan, penanganan tumor otak adalah penanganan yang komprehensif karena melibatkan beberapa spesialisasi dalam penanganan pasien seperti dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi, dokter spesialis saraf, dokter spesialis rehabilitasi medis untuk membantu proses pemulihan.

"Terkadang pasien, bahkan pasangan ataupun keluarga pasien membutuhkan pendampingan dengan dokter psikiater selama proses penyembuhan agar tetap tenang dan tidak depresi," ujar dr Budi.

Penanganan tumor otak selain pembedahaan juga diperlukan penanganan kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi, bahkan bisa merupakan kombinasi ketiganya. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Prof. dr. Abdul Muthalib, SpPD-KHOM, menjelaskan, imunoterapi adalah pemberian obat yang bertujuan untuk merangsang sistem imun tubuh untuk melawan kanker, salah satu contohnya adalah anti VEGF yang bertujuan untuk mengurangi tumor angiogenesis dan vasogenic brain edema.
"Selain kemoterapi, saat ini obat-obatan golongan TKI (Tyrosine Kinase Inhibitor) juga diberikan sebagai terapi kanker," kata Prof Abdul Muthalib.

Mayapada Hospital memiliki pesawat Radioterapi LINAC (Linear Accelerator) yang memiliki keunggulan mendistribusi sinar radiasi maksimal pada target sel kanker dan minimal pada sel jaringan sehat. Radioterapi dilakukan oleh dokter ahli onkologi radiasi.

Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS), dr. Ratnawati Soediro, SpOnk.Rad, mengatakan, radioterapi Mayapada Hospital Jakarta Selatan didukung oleh alat dengan teknologi mutakhir terkini dan tim profesional yang memungkinkan untuk melakukan advanced techniques dengan berbagai keunggulannya termasuk verifikasi 4D apabila dibutuhkan, sehingga presisi dan akurasi meningkat, lebih nyaman, serta efek samping yang minimal. "Pesawat radioterapi LINAC dapat melakukan advanced techniques seperti Stereotactic Radiosurgery (SRS) dan Stereotactic Radiotherapy (SRT)," kata dia.

dr.Ratnawati menjelaskan, radiosurgery stereotaktik (SRS) menggunakan sinar radiasi yang terfokus secara tepat dan presisi untuk mengobati tumor dan masalah lain pada otak dan tulang belakang, seperti kanker, epilepsi, trigeminal neuralgia, dan AVM (arteriovenonosus malformation). Radioterapi stereotaktik (SRT) merupakan radioterapi dari berbagai sudut di sekitar tubuh untuk terapi tumor. "Ini berarti tumor menerima radiasi dosis maksimal dan jaringan di sekitarnya menerima dosis minimal,” ujarnya.

Tahir Neuroscience Center dan Oncology Center Mayapada Hospital menyediakan layanan komprehensif dalam penanganan tumor otak dan kanker lainnya, dengan peralatan terkini serta kolaborasi multi-spesialisasi dokter, mulai dari deteksi dini, diagnosis, terapi tindakan bedah, kemoterapi, imunoterapi dan radioterapi, hingga rehabilitasi medis saat proses penyembuhan

Konten Eksklusif Lainnya

  • 20 Juni 2024

  • 19 Juni 2024

  • 18 Juni 2024

  • 16 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan