maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Cerpen

Charles Baudelaire

Ilusi, kata kawanku, sama tak terduganya dengan hubungan antarmanusia atau antara manusia dan benda-benda. Ketika ilusi lenyap-yakni ketika kita melihat orang atau fakta sebagaimana adanya di luar diri kita-maka kita mengalami suatu perasaan yang ganjil. Itu disebabkan sebagian oleh rasa sesal atas bayangan yang musnah dalam benak kita; sebagian lagi oleh rasa kaget di hadapan fakta baru yang nyata. Kalaupun ada fenomena yang selalu sama, dan sifat semacam itu tak bisa salah ditafsirkan, itulah cinta keibuan. Sulit membayangkan seorang ibu tak memiliki rasa cinta keibuan sebagaimana membayangkan nyala api tanpa hawa panas. Maka tidakkah amat sah bila kita menisbatkan segala tindakan dan perkataan seorang ibu yang berkaitan dengan anaknya pada cinta keibuan? Namun, sebelumnya, simak dulu kisah sederhana ini, yang telah membuatku terlenakan oleh sifat paling alamiah dari ilusi.

Sebagai pelukis, aku dituntut untuk selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh segenap wajah dan raut muka orang-orang yang kutemui. Kau tahulah kesenangan apa yang kami dapat dari alat penglihatan itu karena mata kami lebih tajam dan lebih peka daripada mata orang lain. Di ujung kota tempat tinggalku, di mana lahan-lahan kosong yang luas ditumbuhi rerumputan memisahkan rumah yang satu dengan yang lain, aku kerap melihat seorang pemuda belia yang raut wajahnya kemerahan. Menggodanya menarik perhatianku lebih daripada yang lain. Lebih dari sekali dia menjadi modelku. Terkadang aku memintanya memerankan sosok seorang gipsi, terkadang sesosok malaikat, dan pada waktu lain sosok bocah pemanah asmara. Aku memerintahkannya membawa biola sang gipsi pengembara, mahkota duri dan paku salib, atau obor cinta.

Baca Selengkapnya

Berita Lainnya

Koran Edisi Lainnya

  • 29 September 2022

  • 28 September 2022

  • 27 September 2022

  • 26 September 2022

  • 25 September 2022

  • 24 September 2022

Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan