maaf email atau password anda salah


Evaluasi Learning Loss Pasca-Pandemi

Learning loss siswa berkurang dari enam bulan pembelajaran pada masa pandemi jadi enam bulan. Belum ke kondisi pra-pandemi.

arsip tempo : 171920799560.

Sekolah menengah kejuruan di Bandung Barat, Jawa Barat, 24 Agustus 2023. TEMPO/Prima Mulia. tempo : 171920799560.

Awal 2020, riset terbatas kami menunjukkan hanya 28 persen siswa yang melaksanakan pembelajaran daring, sedangkan sisanya belajar tatap muka di luar sekolah atau terpaksa tidak belajar sama sekali. Riset lain kami juga menemukan terjadinya penurunan angka partisipasi sekolah dari tahun ajaran 2019/2020 ke 2020/2021.

Penurunan angka partisipasi sekolah selama masa pandemi telah membawa dampak signifikan terhadap pendidikan di Indonesia. Salah satunya terjadi learning loss, yaitu hilangnya kemampuan yang telah dikuasai siswa sebelumnya atau kesenjangan (learning gap) antara kemampuan belajar siswa dan standar tertentu, baik nasional maupun internasional.

Seperti apa learning loss yang terjadi di Indonesia dan sudah pulihkah kita dari kondisi tersebut?

Learning Loss: Siswa Belum Mencapai Standar

Hasil studi kami menemukan bahwa siswa kelas awal di Indonesia mengalami indikasi kehilangan hasil belajar setara dengan 0,47 standar deviasi/sd (atau enam bulan pembelajaran) untuk literasi dan 0,44 sd (atau lima bulan pembelajaran) untuk numerasi setelah satu tahun belajar pada masa pandemi. Standar deviasi atau simpangan baku adalah persebaran data pada suatu sampel untuk melihat seberapa jauh atau dekat nilai data dengan rata-ratanya.

Indikasi tersebut menunjukkan capaian pembelajaran, yang seharusnya sudah dikuasai siswa setelah satu tahun belajar pada tahun ajaran normal, berkurang menjadi setengahnya saja. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibanding di Amerika Serikat (0,14 sd) atau Cina (0,22 sd).

Sekolah menengah kejuruan di Bandung Barat, Jawa Barat, 24 Agustus 2023. TEMPO/Prima Mulia

Learning loss yang terjadi juga berkontribusi terhadap semakin lebarnya kesenjangan hasil belajar, dengan sejumlah besar siswa belum mencapai standar kompetensi yang diharapkan.

Studi kami menemukan pada tahun ajaran 2020/2021, di bidang numerasi, hanya satu dari lima anak kelas I (atau sekitar 22 persen siswa) yang mencapai standar kurikulum darurat, yaitu kurikulum nasional yang sudah disederhanakan dan digunakan pada masa pandemi. Sebagai contoh, mayoritas siswa belum mampu melakukan operasi hitungan sederhana dengan jumlah hitungan lebih dari 20.

Sementara itu, untuk literasi, hanya satu dari tiga siswa kelas II yang telah memenuhi standar kemampuan minimum berdasarkan indikator sustainable development goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Artinya, sebagian besar siswa belum mampu membaca teks sederhana dengan lancar dan mandiri serta mengerti makna dari teks yang mereka baca.

Efek Jangka Panjang Learning Loss

Tidak hanya mendisrupsi perkembangan anak pada masa sekarang, learning loss juga berpotensi mengganggu masa depan anak.

Keterampilan dasar yang diperoleh sejak dini, seperti literasi dan numerasi, sangat dibutuhkan siswa untuk mempelajari pengetahuan serta keterampilan yang lebih kompleks. Ketidakmampuan untuk memenuhi keterampilan dasar akan membatasi potensi siswa untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menciptakan inovasi.

Studi Bank Dunia menunjukkan hilangnya hasil belajar siswa selama masa pandemi berpotensi mengurangi pendapatan generasi saat ini sebesar US$ 17 triliun atau setara Rp 259,3 kuadriliun ketika dewasa.

Temuan ini serupa dengan hasil analisis yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)—organisasi internasional dari 38 negara yang berkomitmen pada demokrasi dan ekonomi pasar—yang menunjukkan bahwa kehilangan hasil pembelajaran juga berpotensi menurunkan pendapatan negara-negara G20.

Untuk konteks Indonesia, kehilangan hasil belajar anak bahkan berpotensi mengurangi pendapatan negara hingga 24-34 persen.

Selain itu, hilangnya akses ke sekolah yang kerap diikuti oleh perkembangan kemampuan belajar yang lebih lambat berpotensi menjerat anak terjebak pada masalah-masalah sosial. Misalnya, studi kami di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menunjukkan bahwa anak-anak yang kehilangan akses belajar berpotensi terjebak pada perkawinan anak.

Aktivitas belajar mengajar pada hari pertama sekolah pasca libur kenaikan kelas di Cidadap, Jawa Barat, 17 Juli 2023. TEMPO/Prima Mulia

Apakah Kita Sudah Pulih dari Learning Loss?

Untuk menjawab pertanyaan ini dan mengisi celah pengetahuan di mana studi-studi sebelumnya hanya berfokus pada penurunan hasil pembelajaran yang terjadi tanpa melihat potensi siswa untuk terus berkembang, studi terbaru Inovasi—program kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia—mencoba mengidentifikasi potensi pemulihan pembelajaran siswa pasca-pandemi di Indonesia.

Kami melakukan tes terhadap 4.100 siswa kelas awal di sekolah mitra Inovasi di tujuh kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kalimantan Utara. Tes tersebut diambil secara berkelanjutan: sebelum masa pandemi (2020), satu tahun setelah masa pandemi (2021), dan dua tahun setelah masa pandemi (2022).

Meskipun performa siswa masih lebih rendah dibanding sebelum masa pandemi, temuan baru kami menunjukkan adanya indikasi pemulihan pembelajaran yang setara dengan 0,16 sd untuk literasi dan 0,12 sd untuk numerasi (atau setara dengan dua bulan pembelajaran).

Sebagai ilustrasi, pada akhir semester I (Desember), siswa kelas I diharapkan sudah memahami konsep dasar numerasi, yaitu menyebutkan bilangan hingga 99. Namun studi awal kami menggambarkan bahwa banyak siswa kelas I baru memahami konsep bilangan hingga 99 pada akhir semester II (Mei).

Dengan adanya indikasi pemulihan setara dua bulan pembelajaran, siswa mampu menguasai konsep tersebut pada akhir Maret. Artinya, meskipun ada keterlambatan dalam capaian pembelajaran, upaya pemulihan telah membantu mengurangi jarak keterlambatan tersebut.

Temuan ini menunjukkan, meskipun hasil belajar belum bisa pulih sepenuhnya, ada indikasi proses pemulihan pembelajaran. Temuan tersebut juga sejalan dengan studi serupa yang dilakukan di India yang menunjukkan ada indikasi pemulihan pembelajaran setelah sekolah dibuka kembali. Dengan kata lain, perkembangan akademis siswa saat ini lebih cepat jika dibanding kondisi pada awal masa pandemi.

---

Artikel ini ditulis oleh George Adam Sukoco dari Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (Inovasi) dan Senza Arsendy dari The University of Melbourne. Terbit pertama kali di The Conversation.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 24 Juni 2024

  • 23 Juni 2024

  • 22 Juni 2024

  • 21 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan