maaf email atau password anda salah


Ancaman Kematian di Balik Penggunaan Antibiotik Berlebihan

Penggunaan antibiotik berlebihan membuat bakteri kebal. Resistansi antibiotik diprediksi menimbulkan 50 juta kematian pada 2050.

arsip tempo : 171854458433.

Ilustrasi mengonsumsi antibiotik. UNSPLASH. tempo : 171854458433.

Dalam proyeksi yang cukup mengejutkan, para ahli memperkirakan sebuah kenyataan suram pada 2050: jumlah kematian tahunan akibat resistansi antibiotik akan mencapai 10 juta jiwa. Resistansi antibiotik merupakan kondisi saat antibiotik tidak lagi mampu membunuh bakteri di tubuh sehingga bakteri terus berkembang biak dan sakit pasien makin parah, lalu berakhir meninggal. Angka kematian itu melampaui proyeksi kematian akibat kanker—dikenal sebagai penyakit ganas, mematikan, dan membutuhkan terapi yang rumit.

Antibiotik ditemukan pada 1928 dan mulai masif digunakan di dunia medis pada 1950-an. Antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa dari berbagai penyakit infeksi yang sering berdampak fatal akibat ketiadaan terapi yang efektif. Bahkan Sir Alexander Fleming, penemu antibiotik pertama penisilin, diberi Hadiah Nobel atas temuannya itu.

Sayangnya, prediksi Fleming tentang resistansi antibiotik pada akhirnya menjadi kenyataan. Tidak menunggu lama, beberapa antibiotik yang berhasil ditemukan dan dikembangkan dalam periode 1950-1960 mengalami resistansi akibat penggunaan berlebihan.

Baca: Mewaspadai Resistansi Antibiotik

Dampaknya, penyakit infeksi yang sebelumnya dapat disembuhkan dengan obat ini menjadi lebih sulit diatasi. Setidaknya ada enam "hitam-putih" seputar resistansi antibiotik yang perlu kita pahami.

Ilustrasi antibiotik. PEXELS

1. Resistansi antibiotik berdampak pada semua orang

Resistansi antibiotik bukan hanya ancaman bagi mereka yang salah menggunakan antibiotik dan yang sedang menderita penyakit infeksi. Siapa pun bisa terkena dampaknya, termasuk mereka yang sebelumnya tidak pernah menderita penyakit infeksi, seperti pneumonia dan infeksi saluran kemih. Musababnya, penyakit infeksi bisa terjadi pada siapa saja serta antibiotik merupakan kebutuhan esensial dalam beberapa jenis penanganan dan pengobatan di rumah sakit.

Antibiotik tidak hanya digunakan dalam mengobati infeksi, tapi juga diperlukan dalam kasus lain. Misalnya pada penanganan pasca-operasi, kemoterapi atau pengobatan kanker, dan transplantasi organ. Dengan kata lain, antibiotik yang efektif adalah kebutuhan kita semua dalam berbagai skenario pengobatan.

2. Resistansi antibiotik adalah fenomena alami

Secara alami, bakteri memang memiliki kemampuan terhindar dari efek antibiotik sebagai strategi alamiah untuk kelangsungan hidupnya. Makhluk dengan sel tunggal ini memiliki berbagai macam mekanisme untuk mengalahkan antibiotik atau menghindari dampak mematikan obat tersebut.

Salah satu strategi yang dimiliki bakteri adalah memproduksi enzim yang dapat merusak atau menurunkan khasiat senyawa antibiotik. Sebagai contoh, penisilin bisa terdegradasi oleh enzim beta-laktamase yang diproduksi bakteri. Meskipun resistansi merupakan fenomena alami, penggunaan antibiotik yang serampangan bisa memperparah fenomena kekebalan bakteri patogen terhadap antibiotik.

3. Industri farmasi tak tertarik bikin antibiotik

Pembuatan dan riset antibiotik baru kurang menarik bagi industri farmasi. Musababnya adalah rendahnya peluang mendapatkan profit bisnis yang besar.

Industri bisa menghabiskan lebih dari US$ 1 miliar (setara dengan Rp 15,6 triliun) guna menghasilkan satu obat untuk dapat dipasarkan. Khusus untuk antibiotik, biaya ini cenderung lebih mahal. Di sisi lain, resistansi menyebabkan umur pakai antibiotik menjadi sangat pendek sehingga biaya besar untuk riset tidak bisa ditanggulangi dengan profit yang rendah.

Hal ini berbeda dengan obat penyakit kronis, seperti diabetes atau hipertensi, yang bisa dan sering digunakan seumur hidup sehingga industri dapat meraup keuntungan yang lebih besar. Akibatnya, investasi dalam pengembangan antibiotik menjadi sangat rendah. Sebagai konsekuensi logis, industri farmasi tidak lagi melihat produksi antibiotik sebagai langkah bisnis yang menguntungkan.

4. Sedikit antibiotik baru

Seretnya riset dalam pengembangan dan produksi antibiotik menciptakan krisis baru. Dalam 10 tahun terakhir, hanya ada beberapa antibiotik baru yang dinyatakan lolos uji klinis untuk dapat digunakan dalam pengobatan.

Selain itu, mayoritas antibiotik yang digunakan dalam pelayanan kesehatan saat ini merupakan antibiotik yang ditemukan puluhan tahun yang lalu atau bentuk modifikasinya. Misalnya amoksilin yang merupakan antibiotik spektrum luas yang sudah berusia 70 tahun. Ada pula meropenem—salah satu antibiotik yang saat ini paling mujarab—yang dikembangkan sejak awal 1980-an.

Sedikitnya jumlah antibiotik baru ini sangat mengkhawatirkan karena kita semakin kehabisan pilihan pengobatan untuk penyakit infeksi. Di sisi lain, kita sangat memerlukan obat baru yang lebih efektif untuk mengatasi infeksi dan membunuh bakteri yang semakin kebal.

Ilustrasi antibiotik. UNSPLASH

5. Penggunaan antibiotik di Indonesia tidak terkontrol

Penggunaan antibiotik di Indonesia tergolong tidak terkontrol. Hal ini terlihat dari minimnya pengawasan terhadap penjualan antibiotik di tingkat masyarakat. Di fasilitas kesehatan, peresepan antibiotik juga dinilai berlebihan.

Salah satu permasalahan utamanya adalah penggunaan antibiotik secara tidak tepat. Di mayoritas daerah, obat ini dapat dengan mudah diperoleh di apotek tanpa resep dokter dan dikonsumsi sebagai bagian dari pengobatan mandiri (swamedikasi). Upaya swamedikasi seperti ini semestinya hanya untuk penyakit ringan, seperti gejala flu, sakit kepala, dan gatal-gatal, bukan untuk penyakit infeksi.

Selain itu, antibiotik sering salah digunakan untuk mengatasi gejala flu. Antibiotik sebenarnya tidak berefek terhadap flu yang pada dasarnya disebabkan oleh virus.

Penggunaan antibiotik serampangan seperti ini merupakan salah satu penyebab utama yang memperparah kekebalan bakteri terhadap antibiotik. Padahal antibiotik tergolong obat keras, yaitu kelompok obat yang hanya boleh dijual kepada konsumen jika disertai dengan resep dokter.

Selain terjadi problem di tingkat masyarakat, hasil penelitian terbaru mengungkapkan regulasi pemerintah ihwal masalah ini tergolong buruk. Misalnya tidak adanya koordinasi antarsektor. Di sektor kesehatan, upaya pengawalan antibiotik di rumah sakit sering tidak terlaksana. Bahkan upaya ini sebatas formalitas untuk akreditasi rumah sakit.

Di sektor keuangan, anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk langkah ini tidak mendapat prioritas. Selain itu, minimnya program terkait bagi tenaga kesehatan memperparah masalah ini.

6. Memerlukan penanganan secara global

Resistansi antibiotik adalah masalah yang sudah berdampak serius secara global. Untuk mengatasi ancaman serius ini, tindakan global sangat penting. Para pemimpin dunia bersama organisasi internasional telah bersatu untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam memerangi resistansi antibiotik dan menjaga efektivitas antibiotik yang senantiasa kita butuhkan.

Saya, kamu, dan setiap individu memiliki peran dalam melawan fenomena resistansi antibiotik.

Masyarakat dapat berkontribusi dengan menghindari pembelian antibiotik tanpa resep dokter. Dalam penggunaan yang benar, keseluruhan antibiotik yang diresepkan dokter harus dikonsumsi sampai habis meski gejala penyakit sudah tidak dirasakan lagi.

Selain itu, penggunaan antibiotik sisa untuk anggota keluarga lain harus dihindari. Terakhir, pola hidup bersih juga penting dalam rangka mencegah terjadinya infeksi.

---

Artikel ini ditulis oleh Yori Yuliandra, lektor kepala ilmu farmasi Universitas Andalas, Padang. Terbit pertama kali di The Conversation.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juni 2024

  • 15 Juni 2024

  • 14 Juni 2024

  • 13 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan