Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Hingga 1 Mei, setidaknya ada 228 kasus di 20 negara.
Penyakit ini belum tentu akan mewabah seperti Covid-19, tapi belum tentu juga sebaliknya.
Respons yang cepat, serius, dan ilmiah terhadap wabah adalah kunci penanganan wabah.
Pemerintah jangan sampai salah langkah dalam menyampaikan informasi mengenai ancaman wabah penyakit hepatitis akut, karena masyarakat masih jenuh dengan segala tetek bengek pandemi. Yang terbaik adalah sampaikan fakta penyakit ini sejelas-jelasnya, sebaik-baiknya. Ancaman ini nyata adanya, jangan pernah lagi menyangkal seperti yang dilakukan di awal pandemi Covid-19 pada 2020.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sejak WHO mengumumkan kejadian luar biasa hepatitis akut ini pada 15 April, kasusnya semakin banyak ditemukan. Hingga 1 Mei, setidaknya ada 228 kasus di 20 negara. Terakhir, Indonesia melaporkan tiga kasus. Tentu saja ini bukan angka sebenarnya. Sebab, dalam hal wabah baru, jumlah yang terhitung mengikuti fenomena puncak gunung es. Yang ketahuan sedikit, yang sebenarnya berkali lipat jumlahnya. Di Jawa Timur saja, per 4 Mei 2022 telah ditemukan 114 kasus penderita dengan gejala jaundice (kekuningan) akut di 18 kabupaten/kota.
Penyakit ini memang belum tentu akan mewabah seperti Covid-19, tapi belum tentu juga sebaliknya. Yang sudah jelas, penyakit ini mematikan, seperti terbukti pada tiga kasus kematian yang diumumkan pemerintah. Hepatitis itu sendiri masuk dalam tiga besar penyakit paling mematikan di dunia yang disebabkan oleh kuman. Dua lainnya adalah TBC dan HIV/AIDS. Karena itu, pemerintah dan masyarakat tidak boleh lengah.
Respons yang cepat, serius, dan ilmiah terhadap wabah adalah kunci penanganan wabah. Dalam jangka pendek, respons yang demikian membantu menghindarkan kepanikan sekaligus meletakkan dasar yang kokoh untuk penanganan wabah lebih jauh.
Belajar dari pengalaman soal Covid-19, langkah penanganan tersebut harus meliputi kesiapan untuk melakukan tes secara masif dan penelusuran kotak. Layanan kesehatan harus siaga hingga ke level pelayanan intensif. Untuk memastikan sistem tanggap darurat berjalan baik, pemerintah perlu melakukan simulasi penuh menghadapi wabah secara berkala dengan melibatkan semua aktor, termasuk masyarakat. Simulasi semacam ini pernah dilakukan di Bali pada April 2008 untuk menghadapi kemungkinan pandemi flu burung, tapi tidak berlanjut.
Hal penting berikutnya adalah sosialisasi protokol kesehatan kepada masyarakat. Mengingatkan masyarakat yang telah jenuh dengan pandemi untuk mewaspadai ancaman wabah baru memang tidak akan mudah. Jika terlalu keras, akan dianggap menakut-nakuti. Sebaliknya, kalau terlalu ringan, akan diabaikan. Tapi satu hal yang penting: jangan menutup-nutupi fakta--kita pernah punya pengalaman buruk soal ini di awal pandemi Covid-19. Sampaikan saja semua informasi mengenai wabah baru ini secara terbuka kepada publik, apa adanya, termasuk jika ada hal mengenainya yang belum diketahui pasti.
Pemahaman tentang tahap-tahap perkembangan penyakit dan langkah-langkah penanganannya juga perlu disosialisasi. Misalnya, anjuran Kementerian Kesehatan agar warga jangan menunggu sampai warna kuning di tubuh muncul untuk memeriksakan kesehatannya, melainkan segera ke dokter jika mengalami diare, sakit perut, mual, dan muntah.
Lalu, dalam jangka panjang, Indonesia perlu terlibat dalam upaya-upaya strategis seperti riset vaksin dan obat, serta langkah-langkah non-medis seperti memperbaiki lingkungan. Pandemi merupakan keniscayaan. Pemicunya adalah pemanasan global, kerusakan hutan dan lingkungan, yang membuat manusia dengan hewan liar makin sering berkontak sehingga meningkatkan peluang kemunculan penyakit yang berasal dari hewan (zoonosis). Kita pernah punya Komisi Nasional Zoonosis di bawah Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Sayangnya, komisi ini dibubarkan pada 2016.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo