maaf email atau password anda salah

Edisi Minggu, 1 September 2013

Ide

Bandung Mawardi,
PENGELOLA JAGAT ABJAD SOLO

Keraton Surakarta sering menjadi referensi keburukan, bersumber dari aksi-aksi perebutan kekuasaan. Kabar tentang konflik keluarga dan kerabat di Keraton Surakarta terus berlanjut, menimbulkan aib dan stigmatisasi publik. Keraton Surakarta perlahan dianggap "situs konflik", mengalami kepudaran harmoni. Insiden memalukan berlangsung di Keraton Surakarta, Senin, 26 Agustus 2013. Adegan legitimasi kekuasaan menguak nalar kekerasan: abai tata krama dan etika berpolitik. Keraton Surakarta semakin kehilangan pamor, mengalami keruntuhan imajinasi kesejarahan dan kekuasaan di abad XXI. Keributan-keributan berdalih perebutan kekuasaan dan legitimasi politik-kultural justru memamerkan "teater bebalisme". Publik semakin memiliki imajinasi ironis atas kebermaknaan Keraton Surakarta akibat konflik perebutan kekuasaan para ahli waris raja.

Kita bisa menilik imajinasi Keraton Surakarta di masa silam, tercatat oleh para pengembara asal Eropa dan Amerika Serikat. Deskripsi dan narasi para pengembara itu pantas menjadi perbandingan, rujukan untuk mengimajinasikan Keraton Surakarta. Eliza Ruhamah Scidmore (1897), pengelana asal Amerika Serikat, mencatat tentang kehidupan di Keraton Surakarta atau Solo. Catatan kecil tapi bisa memberi ajakan pembaca mengimajinasikan masa lalu: "… kerajaan Islam tua di sana cuma diberi daerah kekuasaan sebatas keraton, seluas 1 mil persegi. Susuhunan atau junjungan rakyat Solo hidup sebagai tahanan rumah pemerintah Belanda, cuma bayangan dari penguasanya yang mengagumkan, leluhurnya… (James R. Rush, Jawa Tempo Doeloe, 2013). Laporan itu memberi kesan ada teater politik, menempatkan keraton dan raja sebagai imajinasi kekuasaan bagi kaum pribumi. Pemerintah kolonial menjadikan Keraton Surakarta sebagai "situs imajinasi kultural", yang kehilangan otoritas politik.

Baca Selengkapnya

Cerpen

Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan