maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Ide

Bandung Mawardi,
PENGELOLA JAGAT ABJAD SOLO

Keraton Surakarta sering menjadi referensi keburukan, bersumber dari aksi-aksi perebutan kekuasaan. Kabar tentang konflik keluarga dan kerabat di Keraton Surakarta terus berlanjut, menimbulkan aib dan stigmatisasi publik. Keraton Surakarta perlahan dianggap "situs konflik", mengalami kepudaran harmoni. Insiden memalukan berlangsung di Keraton Surakarta, Senin, 26 Agustus 2013. Adegan legitimasi kekuasaan menguak nalar kekerasan: abai tata krama dan etika berpolitik. Keraton Surakarta semakin kehilangan pamor, mengalami keruntuhan imajinasi kesejarahan dan kekuasaan di abad XXI. Keributan-keributan berdalih perebutan kekuasaan dan legitimasi politik-kultural justru memamerkan "teater bebalisme". Publik semakin memiliki imajinasi ironis atas kebermaknaan Keraton Surakarta akibat konflik perebutan kekuasaan para ahli waris raja.

Kita bisa menilik imajinasi Keraton Surakarta di masa silam, tercatat oleh para pengembara asal Eropa dan Amerika Serikat. Deskripsi dan narasi para pengembara itu pantas menjadi perbandingan, rujukan untuk mengimajinasikan Keraton Surakarta. Eliza Ruhamah Scidmore (1897), pengelana asal Amerika Serikat, mencatat tentang kehidupan di Keraton Surakarta atau Solo. Catatan kecil tapi bisa memberi ajakan pembaca mengimajinasikan masa lalu: "… kerajaan Islam tua di sana cuma diberi daerah kekuasaan sebatas keraton, seluas 1 mil persegi. Susuhunan atau junjungan rakyat Solo hidup sebagai tahanan rumah pemerintah Belanda, cuma bayangan dari penguasanya yang mengagumkan, leluhurnya… (James R. Rush, Jawa Tempo Doeloe, 2013). Laporan itu memberi kesan ada teater politik, menempatkan keraton dan raja sebagai imajinasi kekuasaan bagi kaum pribumi. Pemerintah kolonial menjadikan Keraton Surakarta sebagai "situs imajinasi kultural", yang kehilangan otoritas politik.

Baca Selengkapnya

Koran Edisi Lainnya

  • 28 September 2022

  • 27 September 2022

  • 26 September 2022

  • 25 September 2022

  • 24 September 2022

  • 23 September 2022

Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan