Berita Utama

Vaksinasi Mulai Sasar Remaja

Edisi, 28 Juni 2021

Penyuntikan vaksin Covid-19 untuk remaja dilakukan karena kematian kelompok usia 10-18 tahun di Indonesia cukup tinggi, yakni sebesar 30 persen.

Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 Sinovac kepada warga di Gelanggang Olahraga (GOR) Ciracas, Jakarta, 24 Juni 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberi lampu hijau penggunaan vaksin Covid-19 Sinovac bagi kelompok remaja berusia 12-17 tahun. Persetujuan itu diberikan kepada PT Bio Farma–produsen Sinovac–melalui surat bernomor RG.01.02.322.06.21.00169/T yang terbit kemarin.

“Merekomendasikan untuk menerima penggunaan vaksin Covid-19 pada anak usia 12-17 tahun dengan dosis 600 SU/0,5 mL (medium dose),” demikian tertulis dalam surat yang ditandatangani pelaksana tugas Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, Togi Junice Hutadjulu.

Rekomendasi itu, antara lain, diberikan dengan pertimbangan profil imunogenisitas dan keamanan pada dosis medium (600 SU/0,5 mL) lebih baik dibanding dosis rendah (300 SU/0,5 mL). Selain itu, dari data keamanan uji klinis fase I dan II, profil AE sistemik berupa fever pada populasi 12-17 tahun tidak dilaporkan dibanding usia 3-5 tahun dan 6-11 tahun. “Imunogenisitas dan keamanan pada populasi remaja berusia 12-17 tahun diperkuat oleh data hasil uji klinis pada populasi orang dewasa karena maturasi sistem imun remaja sesuai dengan dewasa.”

Penyuntikan vaksin Covid-19 untuk remaja dilakukan, menurut BPOM, karena kematian kelompok usia 10-18 tahun di Indonesia cukup tinggi, yakni sebesar 30 persen. Jumlah anak dan remaja yang terinfeksi virus corona juga cenderung meningkat. Dua hari lalu, misalnya, penambahan orang yang tertular Covid-19 di Jakarta mencapai 9.271 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 332 kasus atau sekitar 3,58 persen terjadi pada kelompok usia 0-5 tahun dan 993 kasus (10,71 persen) pada usia 6-18 tahun.

Sejumlah anak mengikuti tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR ) di Pulo Gadung, Jakarta 5 Juni 2021. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Kemarin, penambahan orang yang terinfeksi Covid-19 di Ibu Kota mencapai 9.394 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 355 kasus atau sekitar 3,78 persen terjadi pada kelompok usia 0-5 tahun dan 1.098 kasus (11,69 persen) pada usia 6-18 tahun.

Adapun data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per 23 Juni lalu menyebutkan, secara kumulatif, angka tertinggi  penularan virus corona pada anak dan remaja terjadi pada kelompok usia 7-12 tahun (28,02 persen), 16-18 tahun (25,32 persen), dan 13-15 tahun (19,92 persen).

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, irit berkomentar ihwal persetujuan dari BPOM untuk vaksinasi bagi remaja. “Kita tunggu kepastian resmi dari BPOM, ya,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan itu melalui aplikasi WhatsApp.

Sementara itu, hingga semalam, Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito tak kunjung membalas pertanyaan Tempo.

Anggota Unit Kerja Kegiatan Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Inke Nadia Diniyanti Lubis, mengatakan persentase anak yang terjangkit virus corona saat ini mencapai 12,5 persen dari kasus positif Covid-19 secara keseluruhan. Jika penularan itu tidak dihentikan, risiko kematian pada anak berpotensi meningkat. “Terutama terhadap 3 persen dari total kasus anak yang mengalami gejala berat,” ujarnya.

Ketua Umum IDAI, Aman Bhakti Pulungan, menjelaskan, untuk mencapai herd immunity alias kekebalan komunal, pemerintah harus memvaksin 70-80 persen populasi. Sedangkan jumlah anak di Indonesia sekitar 90 juta atau sekitar 30 persen dari total populasi. “Jadi, tidak mungkin mencapai herd immunity dari vaksinasi orang dewasa saja,” kata dia kepada majalah Tempo.

Suasana pembelajaran tatap muka di SMP Negeri 2 Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, 22 Maret 2021. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mendukung vaksinasi untuk remaja. Sebab, varian virus corona delta–yang lebih cepat menyebar–telah ditemukan di sejumlah daerah. “Dengan adanya varian delta, pemerintah perlu memvaksin lebih banyak orang,” tuturnya.

Menurut Dicky, vaksinasi bagi remaja penting untuk mendukung penerapan sekolah secara tatap muka yang akan digelar pada bulan depan. “Sehingga lebih aman serta bisa memproteksi siswa, guru, dan masyarakat,” katanya.

Vaksinasi Covid-19 untuk remaja, Dicky melanjutkan, harus tetap dilakukan sesuai dengan prosedur. Misalnya, melakukan screening kesehatan sebelum menginjeksi dan mendata kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI).

Pemerintah daerah, Dicky menambahkan, sebaiknya melibatkan sekolah dan guru untuk membantu menjelaskan pentingnya vaksinasi bagi remaja. Sebab, keputusan remaja untuk imunisasi sangat dipengaruhi oleh persepsi orang tuanya terhadap vaksinasi Covid-19. “Jadi, pemda bisa melibatkan sekolah untuk memberikan edukasi,” ujarnya.

GANGSAR PARIKESIT | IMAM HAMDI 

JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberi lampu hijau penggunaan vaksin Covid-19 Sinovac bagi kelompok remaja berusia 12-17 tahun. Persetujuan itu diberikan kepada PT Bio Farma–produsen Sinovac–melalui surat bernomor RG.01.02.322.06.21.00169/T yang terbit kemarin.

“Merekomendasikan untuk menerima penggunaan vaksin Covid-19 pada anak usia 12-17 tahun dengan dosis 600 SU/0,5 mL (medium dose),” demikian t...

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami:

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB