maaf email atau password anda salah


Kembalinya Buaya Muara

Buaya muara bermunculan di sejumlah tempat di Jawa, Bali, dan Lombok. Perlu mencari cara hidup berdampingan dengan buaya.

arsip tempo : 171826157698.

Buaya muara. Tempo/Budi Purwanto. tempo : 171826157698.

Pada 4 Januari tahun ini, buaya muara sepanjang 3 meter muncul ke permukaan air dan naik ke pantai. Tidak ada yang aneh dengan itu, kecuali lokasi kemunculannya di Pantai Legian, salah satu destinasi wisata favorit di Pulau Bali. Tak lama kemudian, buaya yang sudah kurus itu mati.

Empat bulan berselang, seekor buaya besar membunuh seorang laki-laki yang sedang mencari ikan bersama temannya di Teluk Awang, Lombok, sekitar 100 kilometer di sebelah timur Bali. Lalu otoritas setempat menangkap buaya itu, lalu membawanya ke penangkaran.

Kamu mungkin tidak mengaitkan Bali dengan buaya. Namun sebenarnya dulu buaya muara dapat ditemukan di kebanyakan perairan Indonesia. Kasus serangan buaya di beberapa daerah bahkan masih terjadi.

Sejak 2010, saya mengumpulkan catatan serangan buaya. Saya juga pembuat basis data global tentang serangan buaya, CrocAttack. Yang baru dari kabar di atas adalah buaya mulai kembali ke area-area di mana sebelumnya mereka telah tersingkir.

Baca: Buaya Muara Pemangsa Segala

Apakah ini berarti penduduk dan wisatawan harus khawatir? Sepertinya tidak. Kecil kemungkinan Bali dan Jawa bisa menjadi seperti habitat buaya muara di sungai besar dengan banyak ikan di kawasan tropis Australia utara. Di Bali, kita juga akan sulit menemukan populasi buaya tumbuh kembali karena pantainya sangat penting bagi pariwisata dan jumlah penduduknya padat.

Buaya muara. Shutterstock

Apa yang Terjadi dengan Buaya Indonesia?

Buaya muara (Crocodylus porosus), yang senang menghuni sungai berhutan mangrove, juga dikenal dengan buaya air asin. Mereka reptil terbesar yang hidup saat ini. Panjangnya bisa mencapai 7 meter, jauh lebih besar dari komodo Indonesia yang terkenal dengan panjang maksimal 3 meter.

Dulu, buaya dapat ditemukan di sepanjang kepulauan Indonesia. Kami memiliki catatan bahwa buaya menyerang manusia di Bali sejak awal abad ke-20. Kasus serupa ditemukan di banyak wilayah di Jawa hingga dekade 1950-an. Bahkan, di ibu kota Indonesia, Jakarta, buaya-buaya menghuni banyak sungai yang melintasi kota.

Buaya di Bali dan Lombok banyak dibunuh pada pertengahan abad ke-20, lalu diikuti wilayah di sepanjang Jawa. Namun mereka bertahan hidup di daerah-daerah terluar Indonesia.

Saat ini buaya acap kali ditemukan di Jawa yang padat penduduk, termasuk di laut Jakarta. Setidaknya 70 orang terbunuh karena serangan buaya setiap tahun di negara kepulauan ini. Jumlah kasus serangan tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Riau.

Apakah Populasi Buaya Meningkat Pesat?

Kasus-kasus serangan di atas menandakan populasi buaya meningkat. Namun peningkatan populasi buaya tidak sebesar seperti yang terlihat.

Di banyak pulau di Indonesia, hanya ada sedikit kawasan mangrove yang cocok menjadi habitat buaya. Banyak anak sungai dan sungai yang secara alami mungkin terlalu kecil untuk menampung populasi buaya dalam jumlah besar. Bahkan penambahan populasi buaya sedikit saja bisa memenuhi kapasitas muara dan anak sungai dengan cepat.

Dibanding jenis buaya lain, buaya muara merupakan jenis yang paling teritorial atau hanya menguasai satu kawasan tempat tinggalnya. Buaya muara jantan dominan akan mengusir pejantan lain yang lebih kecil yang akan keluar untuk mencari habitat baru.

Hingga saat ini, mayoritas survei terhadap buaya di Indonesia baru mengungkap populasi yang kecil dan tingkat kepadatan yang rendah. Namun tetap saja keberadaan satu individu buaya di kawasan manusia dapat memicu konflik sekaligus mengancam pelestarian spesies ini.

Di seluruh dunia, buaya muara tergolong spesies yang populasinya tidak terlalu mengkhawatirkan, sebagaimana tertulis dalam Daftar Merah Satwa Terancam versi Uni Internasional Konservasi Alam (IUCN). Status ini disokong pemulihan penuh populasi buaya muara di beberapa daerah di Australia utara setelah pelarangan perburuannya pada awal dekade 1970-an. Namun, di Kamboja, Thailand, dan Vietnam, spesies ini telah punah.

Bahkan di Australia bagian utara, yang berpenduduk jarang, masih terjadi konflik antara manusia dan buaya meskipun relatif jarang terjadi. Di Indonesia, konflik diperparah oleh populasi manusia yang sangat besar sehingga menekan habitat buaya.

Seekor buaya ditemukan di bibir Pantai Padma, Legian, Bali, 4 Januari 2023. Triwidiyanti/detikBali

Dari Mana Buaya Bali Berasal?

Kamu mungkin melihat peta dan mengira buaya yang kembali ke Bali berasal dari Australia. Namun saat ini tidak ada bukti perpindahan buaya secara signifikan antara Australia dan Indonesia. Hanya buaya pemberani yang mau berenang lebih dari 1.000 kilometer dari Australia ke Bali.

Kondisi yang mungkin terjadi saat ini adalah eksodus buaya dari daerah sekitar—meskipun kita perlu melakukan analisis genetik untuk membuktikannya. Pasalnya, kantong-kantong populasi buaya yang masih bertahan saat ini lebih dekat dibanding Australia.

Untuk Bali dan Lombok, buaya kemungkinan besar bermigrasi dari pulau-pulau di sebelah timur, seperti Flores, Lembata, Sumba, dan Timor.

Sementara itu, kedatangan buaya di Jawa saat ini kemungkinan besar berasal dari Sumatera bagian selatan, yang berjarak kurang dari 30 kilometer dari Jawa. Kawasan ini sudah lama menjadi daerah rawan terjadi serangan buaya.

Apa Dampaknya bagi Penduduk dan Wisatawan?

Awal bulan ini, ada foto seekor buaya berukuran cukup besar berjemur di keramba di Lombok Barat, yang jaraknya kurang dari 50 kilometer dari lokasi wisata Gili Matra.

Naiknya jumlah penampakan dan serangan menunjukkan bahwa kita harus mencari cara untuk hidup berdampingan dengan reptil ini. Saat ini kawasan pesisir dan muara di Lombok dan Jawa bagian barat kemungkinan besar menjadi tempat tinggal bagi sejumlah kecil penduduk.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah serangan? Pertama, masyarakat harus tahu bahwa buaya telah kembali. Sangat penting bagi kita meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap buaya guna menyelamatkan nyawa.

Beberapa peneliti yakin serangan terhadap manusia dan hewan ternak lebih berisiko terjadi jika kawasan mangrove dihancurkan atau wilayah penangkapan ikan sudah dieksploitasi habis-habisan. Pelindungan habitat buaya dan spesies mangsanya dapat mengamankan masa depan buaya muara sekaligus mengurangi risiko serangan.

Apakah ini berarti kamu harus membatalkan perjalanan berikutnya ke Bali? Tidak. Meskipun upaya restorasi telah mengembalikan kondisi hutan mangrove di beberapa garis pantai di Bali, popularitasnya justru memperkecil kemungkinan populasi buaya akan kembali hidup di sana.

Namun kita bisa melihat buaya perlahan-lahan kembali ke wilayah yang sedikit jumlah penduduknya di Jawa dan Lombok. Meski itu mungkin membuat kita cemas, buaya merupakan bagian penting dari ekosistem. Mereka sudah seharusnya berada di sana.

---

Artikel ini ditulis Brandon Michael Sideleau, mahasiswa doktoral peneliti konflik buaya-manusia di Charles Darwin University. Terbit pertama kali di The Conversation.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 13 Juni 2024

  • 12 Juni 2024

  • 11 Juni 2024

  • 10 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan