maaf email atau password anda salah


Pentingnya Membahas Infertilitas Laki-laki

WHO menyatakan angka kemandulan dunia mencapai 17,5 persen dan terus meningkat. Probabilitasnya sama di perempuan dan laki-laki.

arsip tempo : 171881763376.

Ilustrasi masalah kesuburan pria. Shutterstock. tempo : 171881763376.

Dengan kelahiran seorang bayi di Filipina pada November tahun lalu, penduduk dunia genap 8 miliar. Penghuni bumi bertambah 1 miliar hanya dalam 11 tahun.

Anehnya, lonjakan jumlah penduduk global ini berbarengan dengan merebaknya permasalahan kesuburan. Dalam 60 tahun terakhir, angka kelahiran anjlok dari 5,3 menjadi 2,3 kelahiran per ibu. Banyak pendapat yang mengaitkan fakta ini dengan gaya hidup modern, saat para pasangan hanya menginginkan sedikit anak. Pilihan itu valid dan terbukti meningkatkan tingkat ekonomi serta kesejahteraan, terutama ibu dan anak, di berbagai belahan dunia.

Namun narasi itu tak sepenuhnya benar. Ada kenyataan yang disembunyikan dari pilihan soal anak tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 1 dari 6 pasangan memang tak bisa atau sulit mendapatkan keturunan. Pada April lalu, WHO melaporkan sekitar 17,5 persen dari populasi orang dewasa global tergolong tak subur dan angka itu meningkat tiap tahun.

Fakta yang bisa jadi lebih mengejutkan adalah angka kasus infertilitas terbagi sama antara perempuan dan laki-laki. Diperkirakan 35 persen ketidaksuburan disebabkan oleh perempuan dan 30 persen oleh laki-laki. Sisanya dipicu oleh kombinasi atau sebab yang tidak diketahui.

Ilustrasi masalah kesuburan pria. Shutterstock

Dalam laporan itu disebutkan bahwa laki-laki yang mandul merupakan kasus yang umum, terlepas dari latar belakang geografi maupun kesejahteraan. Hal ini merupakan fakta baru dalam pembahasan kesehatan pria.

Fakta tersebut diperburuk oleh kegagalan sistem kesehatan untuk mengenali tingginya permasalahan infertilitas laki-laki. Padahal kemandulan juga bisa disebabkan atau dipicu adanya penyakit lain.

Penyebab kemandulan bagi kebanyakan laki-laki belum diketahui. Sering kali hal ini terjadi akibat kurangnya pengetahuan tentang sel reproduksi—yang dikenal dengan gamet—serta bagaimana sel tersebut dipengaruhi faktor lingkungan dan gaya hidup.

Menguak penyebab pasti ketidaksuburan pria membutuhkan upaya besar untuk mendapati subtipe infertilitas tersebut. Para ahli perlu bergerak lebih jauh dari sekadar menentukan karakteristik pasien hanya dari komposisi sperma dan beralih meneliti organ reproduksi. Masalahnya, jarang tersedia pemeriksaan yang dapat memberikan diagnosis yang tepat soal kemandulan pria. Akibatnya, pengobatannya pun hanya sedikit.

Tak seperti bidang kesehatan lain, DNA atau pengurutan genom bukanlah praktik yang lazim. Jika pun lazim, penelitian belum mampu mengembangkan alat untuk membaca peta genetik tentang cara memproduksi sperma yang berfungsi. Penelitian soal ini menjadi kebutuhan yang mendesak.

Setiap laki-laki yang bereproduksi dengan bantuan medis tanpa mempertimbangkan baik-baik penyebab infertilitas dan penyakit penyertanya telah melakukan hal yang sia-sia. Sebaliknya, perempuan yang tidak punya penyakit reproduksi sering kali menjadi pasien untuk "mengobati" permasalahan kesuburan pasangannya.

Hal ini menyoroti ketidakadilan gender yang melekat dalam pengobatan kesuburan. Terapi dilakukan pada perempuan di saat kemandulan sebenarnya menimpa pasangannya.

Ilustrasi masalah kesuburan pria. Shutterstock

Istilah yang salah tentang pengobatan untuk kemandulan laki-laki membawa beban emosional, baik bagi perempuan maupun laki-laki, serta membutuhkan waktu dan komitmen finansial yang besar. Tindakan ini juga berisiko merusak kesehatan perempuan.

Kegagalan menentukan penyebab pasti kemandulan pria di level mikro juga berarti hanya sedikit pengobatan yang benar-benar manjur.

Ketimpangan ini berlangsung dua arah. Dengan memungkiri kemandulan laki-laki sebagai masalah berarti membatasi berkembangnya pengobatan terhadap penyakit itu, sekaligus mendorong masyarakat mengalami situasi yang sama. Padahal para laki-laki sendiri kian sering mencari penyebab infertilitas mereka.

Ada sejumlah alasan rumit yang menjelaskan alasan seseorang menjadi mandul. Biasanya penyebabnya tak lepas dari perubahan biologis, paparan lingkungan, serta gaya hidup.

Peta jalan bagi pemerintah, masyarakat, dan lembaga kesehatan dibutuhkan untuk mengubah persepsi soal kesuburan. Peta jalan ini dapat mengidentifikasi permasalahan secara aktual dan, pada akhirnya, menyediakan pengobatan yang komprehensif bagi laki-laki, serta membantu istri dan anaknya.

Pertama, perlu ada kesadaran bersama bahwa infertilitas pria adalah kondisi medis yang serius dan banyak terjadi. Sedangkan pasien berhak mendapatkan diagnosis yang tepat.

Selanjutnya, lembaga pengatur dana kesehatan dapat membentuk jaringan global untuk mendata dan menjadi bank biologi yang menyimpan informasi klinis yang terhubung dengan sistem data layanan kesehatan nasional. Koneksi ini untuk mengungkap sub-tipe infertilitas yang dipicu perubahan genetik, lingkungan, atau interaksi di antara keduanya.

Kemungkinan penyebab lingkungan dapat dihapuskan oleh pemerintah atau perorangan. Yang penting basis datanya mencakup distribusi geografis yang luas. Dengan identifikasi penyebab molekuler yang tepat, pengobatan kemandulan pria dapat dikembangkan.

Kementerian Kesehatan dapat menerapkan peraturan untuk memastikan pengujian dampak buruk senyawa-senyawa tersebut bagi kesuburan laki-laki yang membagikan hasilnya ke negara-negara lain. Wabilkhusus pada endokrin, yang dikenal sebagai senyawa pengganggu.

Secara bersamaan, dapat diberlakukan peraturan yang mengendalikan penggunaan senyawa yang dapat menurunkan kesehatan reproduksi, sembari berinvestasi dalam penelitian untuk mengembangkan bahan kimia alternatif yang lebih aman.

Masyarakat luas dapat mengangkat topik kemandulan laki-laki sebagai obrolan sehari-hari untuk lebih mendorong tercapainya tujuan besar ini. Sektor pendidikan dan kampanye kesehatan dapat membuat topik ini sebagai hal wajar untuk dibahas, yaitu dengan mengakui infertilitas sebagai penyakit yang umum dan mendesak untuk diobati.

Idealnya, kampanye seperti ini berlangsung seumur hidup, mudah dipahami dan diakses, serta terhubung dengan sistem layanan kesehatan. Juga dibarengi pendidikan bagi tenaga kesehatan di bidang kesehatan reproduksi pria. Peningkatan layanan dapat ditekankan di fakultas kedokteran dengan melatih para dokter spesialis urologi, penyakit dalam, endokrinologi, ginekologi, dan pediatri.

Upaya peningkatan kesuburan ini cukup berat. Namun kita tidak memulainya dari nol. Ada banyak laboratorium yang mencapai kemajuan. Penerapan teknologi pengurutan atau sequencing banyak mengungkap penyebab genetik dari infertilitas.

Kesuksesan penelitian dapat membuahkan pengobatan bagi gangguan kesuburan pria. Melalui penerapan praktik kesehatan yang terstandardisasi, pria, istri, dan generasi mendatang dapat berumur panjang serta sehat.

---

Artikel ini ditulis oleh Profesor Moira O'Bryan dari The University of Melbourne dan Profesor Robert McLachlan dari Monash University. Terbit pertama kali dalam bahasa Inggris di 360info dan diterjemahkan oleh Reza Maulana dari Tempo. 

Konten Eksklusif Lainnya

  • 19 Juni 2024

  • 18 Juni 2024

  • 16 Juni 2024

  • 15 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan