maaf email atau password anda salah


Penyebab Obesitas pada Anak dan Dewasa, Beserta Gejala yang Perlu Diketahui

Obesitas bisa menyerang segala usia, baik muda maupun tua. Ketahui lebih dalam penyebab utama dan gejalanya yang dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa.

arsip tempo : 171866477039.

Ilustrasi pria obesitas. UNSPLASH. tempo : 171866477039.

Obesitas adalah istilah umum untuk kegemukan berlebih akibat penumpukan lemak. Kondisi ini erat kaitannya dengan indeks massa tubuh (IMT), atau dalam bahasa Inggris disebut body mass index (BMI).

Cara menghitung IMT atau BMI agar mengetahui tubuh mengalami kegemukan atau obesitas adalah membagi berat badan dalam satuan kilogram dengan kuadrat dari tinggi badan dalam satuan meter. Hasil perhitungan tersebut kemudian diklasifikasi menjadi beberapa kategori: kurus, normal, gemuk, dan obesitas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan menerapkan standar obesitas yang berbeda. WHO menetapkan BMI 30-35 sebagai obesitas kelas 1, 35-40 obesitas kelas 2, dan 40 ke atas obesitas kelas 3 atau obesitas parah. Sedangkan menurut Kementerian Kesehatan, IMT 25-30 adalah gemuk ringan dan 30-35 gemuk berat. Tidak ada klasifikasi khusus untuk obesitas.

Lingkar perut juga menjadi indikator lain dalam pengukuran obesitas. Menurut Federasi Diabetes Internasional, obesitas diderita pria dengan lingkar perut lebih dari 90 cm dan wanita lebih dari 80 cm. Perlu dicatat bahwa pengukuran obesitas dengan BMI atau IMT dan lingkar perut hanya berlaku untuk orang dewasa, sedangkan obesitas anak diukur dengan grafik pertumbuhan.

Ilustrasi perempuan obesitas. PEXELS 

Penyebab Obesitas pada Anak dan Dewasa

Banyak orang berpikir bahwa obesitas semata-mata disebabkan oleh kurangnya pengendalian diri dalam mengkonsumsi makanan. Perilaku makan dan gaya hidup memang menjadi penyebab mayoritas kasus obesitas. Namun ada juga banyak orang yang tetap kegemukan meski telah menjalani diet perilaku hidup sehat. Berikut ini lima penyebab utama obesitas yang kami rangkum dari Healthline.com dan Kemkes.go.id.

1. Genetik

Obesitas memiliki komponen genetik yang kuat. Orang tua dengan obesitas dapat menurunkan kondisi itu kepada sang anak. Jika satu orang tua mengalami obesitas, peluang anak menjadi obesitas adalah 40-50 persen. Sedangkan jika kedua orang tua obesitas, peluangnya naik menjadi 70-80 persen. Kabar baiknya, orang tua bisa menerapkan diet supaya gen obesitas tidak menurun.

2. Makanan Olahan dan Siap Saji

Selain murah dan mudah, makanan olahan serta siap saji itu adiktif. Hal ini kemudian diperparah oleh produsen yang berusaha meningkatkan penjualan dengan promosi makan berlebihan. Produsen bahkan tidak jarang mengklaim produk mereka sebagai "makanan sehat", padahal minim gizi.

Kebanyakan makanan olahan dan siap saji juga memiliki kepadatan energi yang tinggi (tinggi lemak dan gula, tapi kurang serat). Obesitas pun mengintai ketika energi tertimbun karena kebiasaan kurang gerak.

3. Gula Tambahan

Gula tambahan adalah aspek terburuk dari pola makan modern. Bahan tersebut mengubah hormon dan biokimia dalam tubuh kalau dikonsumsi berlebihan.

Gula tambahan terdiri atas setengah glukosa dan setengah fruktosa. Orang biasa mendapat glukosa dari berbagai makanan, termasuk tepung-tepungan. Namun sebagian besar fruktosa berasal dari gula tambahan.

Asupan fruktosa berlebih dapat menyebabkan resistansi insulin dan peningkatan kadar insulin. Fruktosa juga tidak meningkatkan rasa kenyang seperti halnya glukosa. Itulah alasan gula berkontribusi terhadap peningkatan penyimpanan energi yang berakhir pada obesitas.

4. Hormon 

Hormon mengatur sinyal rasa lapar dan kenyang seseorang. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan gangguan hormon, seperti stres dan kurang tidur atau bahkan variasi genetik. Kondisi hormonal yang berperan dalam kasus obesitas antara lain kelainan leptin, grelin, tiroid, insulin, dan estrogen.

5. Obat-obatan

Banyak obat farmasi dapat meningkatkan nafsu makan sebagai efek samping. Obat antidepresan, diabetes, asma, hingga osteoartritis sering kali dikaitkan dengan pertambahan berat badan. Obat-obatan itu mengubah fungsi tubuh dan otak sekaligus mengurangi laju metabolisme.

6. Disinformasi

Internet menjadi tempat orang-orang bisa mendapat pengetahuan tentang kesehatan dan nutrisi dengan mudah. Namun beberapa sumber justru menyebarkan informasi yang tidak akurat atau bahkan menyesatkan. Hoaks soal penurunan berat badan juga sangat mungkin menghambat progres seseorang.

Gejala Obesitas pada Anak dan Orang Dewasa

Obesitas mempengaruhi tubuh dengan banyak cara, khususnya perihal metabolisme (proses mengubah kalori menjadi energi). Kalori yang tersisa akan diubah menjadi lipid dan disimpan sebagai lemak tubuh. Sel-sel lemak bisa terus membesar, lalu mengeluarkan hormon dan bahan kimia lain yang menghasilkan respons inflamasi. Salah satu dampak terburuknya adalah resistansi insulin, kondisi saat tubuh tidak bisa menurunkan kadar gula dan lemak dalam darah.

Faktor risiko gabungan semacam itu kemudian dikenal sebagai sindrom metabolik. Mereka saling mendukung dalam pertambahan berat badan. Sindrom metabolik adalah faktor umum dalam obesitas dan berkontribusi pada banyak penyakit terkait, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, perlemakan hati, gagal ginjal, dan batu empedu.

Ilustrasi memilih makanan untuk mencegah obesitas. Shutterstock

Cara Mencegah Obesitas

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, begitu pun pada obesitas.

Ketika pola kenaikan berat badan baru terlihat, seseorang harus segera mengambil langkah intervensi, apalagi jika mereka memiliki riwayat obesitas dalam keluarga. Memperbaiki kebiasaan yang sekiranya memicu penimbunan lemak dapat dilakukan sedini mungkin demi mencegah obesitas. Beberapa tipnya mencakup:

- Berkorban menahan nafsu makan ketika ingin mencamil pada malam hari atau saat asupan kalori sudah lebih di atas batas normal. Kelebihan 150 kalori per hari bisa memicu kenaikan berat badan hingga 4,5 kilogram dalam setahun.

- Tambah aktivitas-aktivitas kecil yang dapat membakar kelebihan kalori, seperti senam lantai, jalan-jalan sore, atau bersih-bersih rumah.

- Kurangi makanan olahan dan siap saji. Sebagai gantinya, selalu sediakan makanan utuh tinggi serat, seperti buah, sayur, kacang-kacangan, serta daging segar. Telur dan susu juga bisa menjadi pilihan untuk memenuhi gizi yang cukup.

- Kelola stres supaya hormon tetap terkendali. Ini bisa dilakukan dengan mengurangi pemakaian gadget dan menghabiskan waktu dengan teman atau kerabat. Berfokuslah pada perubahan positif, maka perubahan berat badan niscaya akan mengikuti.

Apakah Obesitas Merupakan Suatu Penyakit?

Lemak tubuh dalam kadar normal tentu bukanlah sebuah penyakit. Namun, ketika lemak terus bertimbun secara ekstra, fungsinya bakal berubah dan menimbulkan penyakit. Hal itu disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan dan penggunaan energi. Mengutip dari Clevelandclinic.org, kondisi tersebut bersifat progresif dan bisa menimbulkan berbagai dampak buruk kesehatan, termasuk penyakit obesitas.

Ada sejumlah faktor penyebab obesitas, dari faktor genetik, lingkungan, hingga obat-obatan dan hormonal. Sering kali dianggap bukan penyakit, jumlah penderita obesitas di Indonesia melonjak dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018. Angka obesitas secara global juga meningkat hampir tiga kali lipat dalam 50 tahun terakhir.

Penyakit obesitas bisa berujung pada penyakit tak menular lainnya, seperti diabetes, jantung, kanker, dan hipertensi. Penderita obesitas juga cenderung mengalami asma, apnea tidur, osteoartritis, encok, kemandulan, depresi, bahkan demensia dan alzheimer.

Kementerian Kesehatan sering mengkampanyekan obesitas sebagai penyakit yang dapat dicegah dan diobati. Maka, penting bagi setiap individu mengenali penyebab dan gejala obesitas sedini mungkin.

Selalu ingat bahwa perubahan kecil pada berat badan dapat berdampak besar pada kesehatan. Tak semua metode penurunan berat badan ampuh bagi tiap individu, tapi kebanyakan orang berhasil menemukan cara yang tepat. Pada akhirnya, menjaga berat badan adalah hal yang paling penting sebelum berupaya menurunkannya.

SYAHDI MUHARRAM

Konten Eksklusif Lainnya

  • 18 Juni 2024

  • 16 Juni 2024

  • 15 Juni 2024

  • 14 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan