maaf email atau password anda salah


Kartu Prakerja

Dari Kartu Prakerja Berbuah Perbaikan Upah Pekerja

Tak hanya mampu meningkatkan kompetensi, mendapatkan pekerjaan baru atau membuka usaha, Program Kartu Prakerja juga berpengaruh signifikan terhadap peningkatan upah. #infotempo

arsip tempo : 171929015025.

Ilustrasi pekerja yang memanfaatkan Program Kartu Prakerja.. tempo : 171929015025.

Program Kartu Prakerja memiliki dampak yang signifikan terhadap upah. Setidaknya hal itu tergambar dari hasil  penelitian evaluasi dampak Program Kartu Prakerja yang disampaikan Rumah Riset Presisi Indonesia dalam  webinar bertajuk “Evaluasi Dampak Program Kartu Prakerja sebagai Program Pemulihan Covid-19.”

Presisi menyimpulkan bahwa program Kartu Prakerja tak hanya meningkatkan kompetensi, produktivitas, daya saing, serta kewirausahaan penerima Kartu Prakerja. Peneliti juga menemukan pengaruh positif-signifikan program Kartu Prakerja terhadap upah dan inklusi keuangan. 

Program Kartu Prakerja dapat meningkatkan sekitar 17-21 persen pendapatan penerima manfaat relatif terhadap non-penerima manfaat, sebagai contoh: jika pendapatan rata-rata Rp 1,5 juta per bulan, maka peningkatannya sekitar Rp 255.000 sampai Rp 315.000 atau menjadi sekitar Rp 1,8 juta per bulan. Bahkan bagi kelompok penerima yang status kebekerjaannya berubah (dari menganggur jadi bekerja), terjadi peningkatan upah sebesar 31,6 persen.

Presisi juga menemukan Kartu Prakerja berpengaruh positif terhadap peningkatan upah perempuan. Terjadi peningkatan upah perempuan sebesar 33 persen relatif terhadap upah perempuan non-penerima (jika rata-rata upah perempuan penerima sebesar Rp 600.000, maka peningkatannya kurang lebih sebesar Rp 200.000).

Perempuan penerima manfaat program Kartu Prakerja terbukti meningkatkan kompetensinya sebesar 96 poin persentase (atau sekitar 2,9 persen) lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan non-penerima. Apabila dibandingkan antara koefisien kompetensi perempuan dan laki-laki, koefisien  perempuan lebih tinggi sekitar 1,3 persen dari koefisien laki-laki (2,9 vs. 1,6 persen). 

Hasil riset Presisi juga membuktikan bahwa 41 persen penerima termasuk ke dalam kelompok pendapatan terendah, yaitu yang tidak berpenghasilan selama pandemi. Temuan ini menunjukkan bahwa program Kartu Prakerja berhasil menyasar target kriteria penerima manfaat perlindungan sosial. "Kartu Prakerja juga berhasil menjalankan misinya sebagai program semi-bantuan sosial karena kelompok termiskin terbukti lebih menikmati manfaat Kartu Prakerja,” kata peneliti Presisi Indonesia Widdi Mugijayani.

Studi Presisi dilakukan pada September hingga Oktober 2021 terhadap 2.156 penerima dan non-penerima Program Kartu Prakerja yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Untuk memperkuat analisis kuantitatif yang dilakukan, studi kualitatif berupa wawancara mendalam terhadap 188 penerima dan non-penerima, lima lembaga pelatihan, tiga platform digital dan 2 mitra pembayaran dilakukan. Temuan tersebut juga menjadi  alasan Presisi untuk merekomendasikan agar program Kartu Prakerja dilanjutkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan kunci di balik suksesnya Program Kartu Prakerja karena pemerintah bertransformasi. Pemerintah, menurut dia, juga bermitra dengan banyak pihak termasuk swasta. “Melalui Program Kartu Prakerja, pemerintah memberikan layanan publik melalui genggaman tangan. Tidak bisa kita bayangkan kalau 80 juta orang pendaftar Kartu Prakerja datang ke kantor dan 11 juta peserta diterima bila prosesnya analog,” katanya.

Terkait hasil temuan Presisi yang memperkuat klaim pemerintah tentang keberhasilan Program Kartu Pekerja, Airlangga menggarisbawahi bahwa penelitian evaluasi dampak Program Kartu Prakerja tidak didanai oleh Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja. “Penelitian JPAL dibiayai oleh Pemerintah Australia, USAID, dan Bill & Melinda Gates Foundation, sedangkan penelitian Presisi didanai oleh BKF, UNDP, dan Pemerintah Jepang. Jadi, keduanya betul-betul independen,” ucapnya dengan tegas.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari mengaku lega karena hasil riset Presisi menemukan bukti bahwa Kartu Prakerja efektif. “Ini riset kedua yang mengkonfirmasi dampak positif Prakerja setelah JPAL SEA. Jadi dapat dikatakan Program Kartu Prakerja adalah eksperimentasi yang berhasil,” katanya.

Doktor di bidang ekonomi lulusan University of Colorado at Boulder, Amerika Serikat itu berharap Program Kartu Prakerja dapat berlanjut setelah 2024, disinergikan untuk program lain, menjadi inspirasi bagi program lain dan tidak menjadi ad-hoc project di masa Presiden Jokowi karena visi Indonesia Emas mestinya bukan visi Presiden Jokowi saja.

Denni juga mengungkapkan bahwa empati dengan kebutuhan pengguna menjadi salah satu kunci keberhasilan Program Kartu Prakerja. “Kita menambah fitur job recommendation dan course recommendation sehingga peserta mudah menemukan pelatihan maupun menemukan pekerjaan yang sesuai,” tuturnya.

Kepuasan publik terhadap Program Kartu Prakerja rupanya turut berpengaruh terhadap penilaian kinerja Pemerintahan Joko Widodo- Ma’ruf Amin, Berdasarkan Survei Nasional Proyeksi Ekonomi Politik Nasional Catatan Akhir Tahun Kinerja Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf 2022  yang diselenggarakan Poltracking Indonesia sepanjang 21-27 November 2022,  tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Pemerintahan Joko Widodo- Ma’ruf Amin adalah 73.2%.

“Tingkat kepuasan terhadap kinerja Pemerintahan Joko Widodo – Ma’ruf Amin sempat mengalami fluktuasi, tetapi sepanjang 2022 relatif terus mengalami peningkatan, seperti terlihat dalam tren temuan survei Poltracking, pada Mei 59,6 persen, Agustus 66,2 persen dan November 73,2 persen,” kata Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR.

Tren kenaikan kepuasan terhadap kinerja Presiden Joko Widodo – Wakil Presiden Ma’ruf Amin paling banyak karena program bantuan pemerintah 23,4 persen. Salah satu program yang mendapat perhatian publik adalah Program Kartu Prakerja (7,5 persen). Kartu Prakerja menempati posisi keempat sebagai program pemerintah yang paling dirasakan manfaatnya, setelah Bantuan Langsung Tunai (28,9 persen), Kartu Indonesia Sehat (9,9 persen), dan pembangunan jalan tol/jalan trans (7,8 persen).

Honorary Associate Professor The Arndt-Corden Department of Economics Australian National University, Chris Manning menganggap Program Kartu Prakerja dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi negara-negara berkembang lainnya.

“Seiring dengan Presidensi G20 Indonesia tahun 2022, prestasi Kartu Prakerja bisa diadopsi negara-negara lain. Tidak semua negara bergerak secepat Indonesia dalam mengembangkan sistem ini, baik dalam pendidikan vokasi, efektifnya program dalam sistem digital cash transfer yang meningkatkan inklusi keuangan dan lain-lain,” ucapnya.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 25 Juni 2024

  • 24 Juni 2024

  • 23 Juni 2024

  • 22 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan