maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Mayapada Hospital

Deteksi Penyakit Jantung Koroner Sejak Dini

Jumat, 4 Maret 2022

Skrining jantung secara berkala perlu dilakukan terutama jika telah memasuki usia 40 tahun.

Ilustrasi serangan jantung. tempo : 167032383765

Penyakit jantung koroner (PJK) masih menempati peringkat tertinggi sebagai penyebab kematian di berbagai negara maju dan berkembang termasuk di Indonesia. PJK yang terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah koroner oleh penumpukan lemak (aterosklerosis), kini tidak hanya dialami oleh mereka yang berusia lanjut, namun juga oleh mereka yang masih muda dan produktif.

Karena itu, yang harus diwaspadai adalah permukaan plak sumbatan pembuluh darah tersebut bisa pecah sewaktu-waktu dan bekuan darahnya menutup total pembuluh darah. Hal inilah yang disebut serangan jantung.

Ketika otot jantung mulai tersumbat, maka mulai muncul gejala seperti nyeri dada yang khas seperti tertiban benda berat, dapat menjalar ke bahu kiri, lengan kiri, tidak jarang menjalar ke ulu hati dan kerongkongan, sehingga memberikan sensasi seperti tercekik. Gejala lain adalah keringat dingin, sesak nafas, gejala muncul saat sedang beraktifitas, dan hilang setelah beristirahat.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi, Mayapada Hospital Surabaya, Jeffrey D. Adipranoto, mengatakan penanganan PJK didasarkan pada diagnostik yang ditegakkan dengan pemeriksaan angiografi koroner atau kateterisasi jantung. Melalui pemeriksaan ini, lokasi dan persentase sumbatan dapat dinilai untuk menentukan terapi yang diperlukan.

"Jika ditemukan indikasi sumbatan yang dapat membahayakan pasien, maka tindakan percutaneous coronary intervention (PCI)/intervensi koroner perkutan, yaitu tindakan melebarkan pembuluh darah dengan balon dan pemasangan stent segera dilakukan untu mengembalikan aliran darah ke jantung," kata Jeffrey.

Operasi coronary artery bypass graft (CABG) atau bedah pintas arteri koroner dapat dilakukan apabila dalam indikasi medis tertentu tidak dapat melakukan tindakan PCI. Tindakan CABG dilakukan dengan membuat saluran pembuluh darah baru melewati (bypass) pembuluh darah yang tersumbat sehingga aliran darah tidak lagi melewati pembuluh darah yang tersumbat.

Sumber pembuluh darah yang diambil untuk bypass berasal dari pembuluh darah pasien sendiri. Bisa dari pembuluh darah di bawah tulang dada (arteri mamaria interna), pembuluh darah di kaki, dan di tangan.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak & Vaskular Konsultan, Mayapada Hospital Surabaya, Yan Efrata Sembiring, mengatakan, terdapat beberapa indikasi medis yang membuat pasien justru lebih aman dan lebih baik untuk jangka panjang jika langsung dilakukan prosedur CABG. Antara lain fungsi ginjal, ukuran pembuluh darah koroner, terdapat klasifikasi yang berat di sepanjang arteri koroner, titik sumbatan cukup banyak sehingga sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan pemasangan stent dan letak sumbatan di pembuluh koroner kiri pangkal (left main disease). Penyumbatan pada lokasi ini memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.

"Tidak ada batasan usia dalam operasi CABG, yang terpenting adalah kondisi pasien saat akan dilakukan operasi. Hingga saat  ini pasien yg sudah ditangani yang termuda 28 tahun dan tertua 83 tahun, semuanya berjalan baik," ujar Yan.

Untuk mencegah serangan jantung, skrining jantung secara berkala perlu dilakukan terutama jika telah memasuki usia 40 tahun. Apalagi, jika memiliki faktor risiko seperti hipertansi, hiperkolesterol, diabetes, merokok, obesitas, dan memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau stroke.

Pemeriksaan yang dilakukan mulai dari EKG untuk melihat irama jantung, treadmill untuk melihat irama jantung saat sedang beraktifitas dan echocardiography untuk melihat struktur dan fungsi jantung. Selain itu CT scan jantung dengan kontras untuk melihat gambaran pembuluh darah dengan lebih detail, sehingga adanya sumbatan pembuluh darah dapat diketahui sejak dini.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 6 Desember 2022

  • 5 Desember 2022

  • 4 Desember 2022

  • 3 Desember 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan