maaf email atau password anda salah


APP Sinar Mas

Bangkit Kopi Desa Sumber Agung

Para petani memanfatkan lahan kebakaran hutan untuk menanam kopi khas Sumber Agung, Kalimantan Barat. Distribusi sampai ke Jakarta dan Jawa Tengah.

arsip tempo : 172190543196.

Suasana Festival Pesona Kopi Agroforestri di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).. tempo : 172190543196.

Desa Sumber Agung di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, turut meriahkan Festival Pesona Kopi Agroforestri di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Acara ini juga dihadiri beragam hasil kopi agroforestri dari seluruh Indonesia.

Kepala Desa Sumber Agung, Arifin Noor Aziz, menjelaskan perjuangannya bersama kelompok petani kopi dalam membangkitkan kembali kopi di daerahnya. "Kebakaran hutan pada 2015, membuat ratusan hektare lahan petani rusak parah, termasuk di desa kami,” ujarnya.

Akibat kebakaran hutan, lahan seluas 500 hektare yang didominasi tanaman kopi hangus terbakar. “Ribuan petani sempat patah semangat kala itu," kata Arifin. Dia menambahkan sejak 1999 Desa Sumber Agung pernah berjaya sebagai penghasil kopi terbesar di Kabupaten Kubu Raya.

Sebagai petani kopi, Arifin mengungkapkan perlunya kerja keras dan cerdas dalam membangkitkan semangat petani kopi di desanya. "Dua tahun kami berjibaku mengelola lahan yang rusak dan jumlah komoditi yang menurun drastis," kata dia.

Pada 2017, petani Desa Sumber Agung mendapatkan angin segar untuk terus berproduksi dan kembali meningkatkan perekonomiannya melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dari PT Daya Tani Kalbar. Kedua perusahaan adalah mitra pemasok Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas.

“Kami membangun komunikasi dengan PT Daya Tani Kalbar, yang akhirnya menjadikan program pemberdayaan masyarakat. Dari areal yang terbakar, kami bisa menghijaukan kembali dan revegetasi tanaman-tanaman produktif,” kata Arifin.

Konsep kolaborasi yang diterapkan bukan hanya pencegahan, tapi peningkatan ekonomi masyarakat. “Seperti badan usaha milik desa (bumdes) dan masyarakat peduli api (MPA),” ujarnya.

Dari program DMPA, para petani dibina untuk mengelola lahan yang ditanam bibit kopi. Dari 500 hektare lahan yang terbakar, sekitar 50 hektare dirawat masyarakat untuk kembali ditanam dengan model tumpang sari.

“Kami tidak susah untuk menemukan potensi komoditi utama, sehingga program ini tinggal dikembangkan dan develop ekonomi. Yang juga sejalan dengan APP Sinar Mas, terkait penanganan karhutla, ekologi dan lainnya,” kata Social Impact & Community Development PT Daya Tani Kalbar, Dito Cahya Renaldi.

Dari program DMPA yang sudah beberapa tahun berjalan, perekonomian masyarakat di Desa Sumber Agung sangat terbantu. Terutama pengembangan dari komoditi yang belum tergarap dengan baik, kini sudah lebih dikembangkan. “Kami mengelola pengembangan kopi, madu kelulut dan mendukung DMPA Mart, yang menjadi bumdes di Desa Sumber Agung,” tuturnya.

Bumdes kemudian membantu distribusi bubuk kopi khas Sumber Agung ke pasar lokal di Kalimantan Barat hingga ke Jakarta dan Jawa Tengah. Melalui badan usaha desa ini, petani dapat memasarkan sekitar 100 kilogram kopi dan madu kelulut hingga 50-100 kilogram tiap bulan.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 25 Juli 2024

  • 24 Juli 2024

  • 23 Juli 2024

  • 22 Juli 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan