maaf email atau password anda salah


Tempo Discusshe

Apresiasi untuk Para Ibu

Peran ibu menjadi role model dalam pendidikan karakter dan membangun generasi masa depan.

arsip tempo : 171929618035.

Discusshe Apresiasi Perjuangan Ibu Mendampingi Anak Selama Pandemi Sesi 1, Kamis, 23 Desember 2021.. tempo : 171929618035.

Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memang merayakan Hari Ibu sebagai hari nasional. Ini adalah upaya penghormatan sosok dan peran ibu dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Di media sosial, perayaan Hari Ibu menjadi topik yang hangat dibicarakan. Hari Ibu juga menjadi momentum Indonesia bangkit di tengah ketidakpastian kapan wabah akan berakhir.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan Hari Ibu merupakan momentum untuk memberikan apresiasi sekaligus merefleksikan peran seorang ibu. "Pada Hari Ibu, kami selalu mengucapkan terima kasih kepada ibu atas jasanya yang memang tidak terbayar, juga doa tulusnya," ujarnya dalam diskusi daring Tempo bertajuk 'Apresiasi Perjuangan Ibu Mendampingi Anak Selama Pandemi', Kamis, 23 Desember 2021.

Reni mengatakan setiap ibu pasti menginginkan anaknya lebih sukses dari dirinya. "Karena itu perlu merefleksikan peran ibu terhadap pembangunan bangsa kedepannya,” kata dia.

Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Kementerian Hukum dan HAM, Dede Mia Yusanti, melihat peran ibu dari dua sisi. Pertama, secara mikro, tentunya di keluarga, bagaimana ibu merupakan satu sosok yang akan membangun karakter anak-anaknya dimasa depan.

"Jadi seperti apa seorang ibu di keluarga, bagaimana cara mendidik cara mencintai,menyayangi, mengayomi keluarganya itu akan menjadi salah satu penentu seperti apa anak kita nanti di masa depan," tutur Dede.

Kedua, peran ibu turut serta membangun Indonesia ini. Saat ini banyak ibu berperan ganda sebagai ibu dan bekerja. “Sebagai pekerja, ibu turut memberikan kontribusi yang luar biasa bagi pembangunan di negara kita," kata Dede.

Adapun Associate Director of Communications McDonald's Indonesia, Sutji Lantyka, mengatakan peran ibu menjadi role model bagi anak-anaknya. "Anak yang melihat ibunya berjuang agar anaknya sukses, nantinya akan meniru seperti yang dilakukan ibunya,” tuturnya.

Hari Ibu, kata Sutji, bukan hanya menghargai apa yang dilakukan ibu, tapi juga kepada para perempuan. "Karena perempuan yang hebat akan menjadi role model bagi orang sekitarnya. Jadi saya juga mengapresiasi apa yang dilakukan oleh para ibu dan para perempuan.”

Sependapat dengan Sutji, Marketing Head Electrolux Indonesia Peggy Esther Anastasia, mengatakan ibu sebagai role model untuk anak-anaknya. "Ibu itu adalah seorang pejuang. Pejuang mulai dari keluarga, mulai dari anaknya kecil sampai akhirnya dewasa dan karena dia pejuang itulah yang sebenarnya akhirnya bisa memberikan role model kepada anak-anaknya," ujarnya.

Discusshe Apresiasi Perjuangan Ibu Mendampingi Anak Selama Pandemi Sesi 2, Kamis, 23 Desember 2021.

Peranan ibu sebagai pejuang dalam arti di dalam kondisi situasi apapun dan dimanapun. “Mulai dari anaknya kecil sampai dewasa dia selalu berjuang dan mendampingi tanpa ada pamrih dan itu memang tidak terbayarkan,” kata Sutji.

Rektor Universitas Gajayana Malang, Dyah Sawitri, mengatakan makna ibu dalam kehidupan itu sangat penting. "Kalau kita sudah bicara ibu adalah nur dalam segala kehidupan kami, itu makna yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Dyah, saat ini ibu memiliki peranan strategis mendampingi anak belajar di masa pandemi. "Ibu punya peranan yang sangat strategis untuk mencapai kesuksesan bagi putra-putrinya untuk menduduki posisi-posisi strategis dalam memajukan bangsa dan negara.”

Staf Khusus Bidang Hubungan Daerah Kementerian Investasi, Tina Talisa, mengatakan di Indonesia makna Hari Ibu berbeda dengan internasional. Sebab, di Indonesia peringatan hari ibu didasari dengan kongres perempuan pada 1928. "Jadi memaknainya lebih luas, bukan hanya bagi yang sudah menjadi ibu, tapi juga bagi para calon ibu artinya para perempuan yang saat ini belum berkeluarga atau sudah menikah tapi belum mempunyai anak," tuturnya.

Tina pun melihat, peran ibu dari sisi ekonomi, tidak hanya peran domestik dalam rumah tangga dan peran sosial. "Jadi kalau kita melihat makna peran perempuan meskipun ada di rumah tangga dan mereka adalah pejuang ekonomi juga membantu dalam mengelola keuangan keluarga dan membantu perjuangan keluarga," ujarnya.

Staf Khusus Menteri Bidang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ulfah Mawardi, mengatakan tema hari ibu tahun ini adalah perempuan berdaya, Indonesia maju. Dia menambahkan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan negara lain. “Di Indonesia merupakan hari pergerakan perjuangan perempuan, tetapi kemudian kita mengucapkan kepada ibu kita juga adalah pejuang ya, pejuang dalam ranah domestik," ujarnya.

Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti, mengatakan peran seorang ibu khususnya di tengah pandemi Covid-19 ini tentu sangat besar di keluarga. "Di keluarga tentunya ibu akan menjaga putra-putri ataupun anggota keluarganya untuk tetap mematuhi protokol kesehatan,” kata dia.

Menurut dia, peran ibu sangat kuat, karena selalu mengingatkan putra-putrinya, jika harus keluar rumah, seperti harus mentaati protokol kesehatan dengan mencuci tangan, memakai masker juga menjaga jarak. "Ibu juga tentu akan mengingatkan, misalnya minum vitamin yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh, dan juga menjaga kebersihan rumah serta lingkungan rumah,” ujar Niken.

Dalam sesi kedua diskusi bertajuk 'Apresiasi Perjuangan Ibu yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus', turut hadir Emmy Haryanti, seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus intelektual (down syndrome) dan Illian Deta Arta Sari, seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus sensorik (tuna rungu), Founder Indonesia CARE for RARE Diseases, Wynanda B.S Wibowo serta Alabanyo Berbahama.

Dosen Psikologi di Universitas YARSI, Alabanyo Berbahama, mengapresiasi perjuangan ibu Emmy dan ibu Illian, karena ibu-ibu tangguh seperti ini langka, berdasarkan beberapa kasus yang ia temui. "Ibu-ibu yang kuat, resilient ini terbatas karena memang ketika mempunyai anak dengan berkebutuhan khusus, termasuk ibu saya sendiri, itu ngedown, pasti stres, menyalahkan diri sendiri atau keluarga," kata Alabanyo yang juga penyandang disabilitas tuna netra.

Menurut dia, disaat pertama kali mendengar kabar anaknya berkebutuhan khusus, dibutuhkan support sistem. "Support dari orang-orang disekitar yang memberikan masukan positif," ujarnya.

Alabanyo menegaskan, support sistem menjadi penting, karena banyak kasus justru yang membuat tambah down adalah toxic person atau orang yang beracun. "Karena kata-katanya pedas bukan menguatkan, malah ngatain."

Kemudian, dibutuhkan keyakinan dari yang bersangkutan dan keluarga. "Ibu-ibu yang bisa menerima anak dengan kebutuhan khusus rata-rata memiliki keyakinan yang kuat bahwa tidak ada yang sia-sia ketika diciptakan, tiap anak punya keunikan masing-masing," ujarnya.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 25 Juni 2024

  • 24 Juni 2024

  • 23 Juni 2024

  • 22 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan