maaf email atau password anda salah


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Akselerasi Program Sekolah Penggerak

Kualitas siswa diukur melalui pencapaian hasil belajar di atas level yang diharapkan.

arsip tempo : 172138322934.

Seorang siswi sedeng mengikuti upacara kemerdekaan secara daring.. tempo : 172138322934.

Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim, mengatakan sekolah penggerak merupakan katalis untuk mewujudkan visi reformasi pendidikan Indonesia. “Fokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik melalui enam profil Pelajar Pancasila,” ujarnya pada saat peluncuran program sekolah penggerak secara daring, Februari lalu.

Program sekolah penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Hal ini dilakukan melalui lima program, pertama program kolaborasi antara Kemendikbudristek dengan pemerintah daerah di mana komitmen pemda menjadi kunci utama. Kedua, intervensi dilakukan secara holistik, mulai dari sumber daya manusia (SDM) sekolah, pembelajaran, perencanaan, digitalisasi, dan pendampingan pemerintah daerah. Ketiga, memiliki ruang lingkup yang mencakup seluruh kondisi sekolah, tidak hanya sekolah unggulan saja, tetapi negeri dan swasta. Keempat, pendampingan dilakukan selama tiga tahun ajaran dan sekolah melanjutkan upaya transformasi secara mandiri. Terakhir, program dilakukan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi sekolah penggerak.

Dalam program sekolah penggerak, Mendikbudristek menjelaskan, kualitas siswa diukur melalui pencapaian hasil belajar di atas level yang diharapkan. Lingkungan belajar diciptakan aman, nyaman, inklusif, juga menyenangkan. Adapun enam profil Pelajar Pancasila yang ingin diwujudkan yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, serta mandiri.

Program sekolah penggerak angkatan kedua kembali dibuka oleh Kemendikbudristek pada 2021 ini. Sebelumnya, di angkatan pertama, Kemendikbudristek berhasil melahirkan 2500 sekolah penggerak di 34 provinsi yang meliputi 111 kabupaten/kota. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Jumeri mengatakan,”Untuk angkatan kedua ada tambahan 139 kabupaten/kota dari 34 provinsi. Bila ditambahkan dengan program sekolah penggerak angkatan satu, maka akan ada 250 kabupaten/kota dan target total sekolahnya menjadi 10 ribu sekolah penggerak.” Jumeri menambahkan, untuk program sekolah penggerak angkatan kedua, Kemendikbudristek sudah menetapkan hasil seleksi daerah dan berkirim surat kepada kepala dinas provinsi, kabupaten, dan kota.

Kepala sekolah menjadi kunci transformasi program sekolah penggerak. Memilih kepala sekolah yang berkarakter penggerak, kata Jumeri, diyakini akan menggerakkan guru-guru sekolah tersebut menjadi sekolah penggerak.

Seleksi sekolah penggerak dilakukan secara profesional. Mekanisme seleksi kepala sekolah calon sekolah penggerak dimulai dengan penentuan daerah sasaran oleh Kemendikbudristek, lalu dibuat nota kesepahaman antara Kemendikbudristek dan pemda. Setelah proses registrasi, ada seleksi yang harus dilakukan oleh para calon kepala sekolah yang mendaftar. Bagi peserta yang lolos seleksi tahap satu, kemudian mengikuti seleksi tahap dua dengan simulasi mengajar dan wawancara. Jika semua proses telah dijalani, maka akan dilakukan sidang pleno untuk menentukan kelulusan.

Program sekolah penggerak akan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi sehingga seluruh ekosistem sekolah di Indonesia akan menjadi sekolah penggerak. “Pada Tahun Ajaran 2021/2022 program ini akan melibatkan 2.500 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 110 kabupaten/kota,” kata Nadiem. Pada tahun 2021 ini melibatkan 10 ribu satuan pendidikan di 34 provinsi dan 250 kabupaten/kota. Sedangkan pada tahun ajaran berikutnya akan melibatkan 20 ribu satuan pendidikan di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota dan seterusnya hingga seratus persen satuan pendidikan menjadi sekolah penggerak.

Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengapresiasi dan mendukung program Sekolah Penggerak. “Program ini selain menjadi bagian penyempurnaan peningkatan mutu sekolah, sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap stigma sekolah unggulan. Tak ada lagi sekolah unggulan dan sekolah pinggiran,” ujarnya.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 19 Juli 2024

  • 18 Juli 2024

  • 17 Juli 2024

  • 16 Juli 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan