Puisi Dimarifa Dy

Dimarifa Dy, penulis dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan, menulis puisi dan cerita.  

 

Tempo

Minggu, 24 Desember 2023

Dimarifa Dy

Puteri Dayang

 

/Dayang Torek

/1

dia datang pada malam paling terang

rapalan mantra-mantra

perjanjian raja biku dan permaisuri selendang kuning

kembang tujuh dari kayangan.

 

turunlah kau, dewi

singgahlah sebentar terhadap dunia

senyumnya adalah sihir, matanya sirius

semua kecantikan tersirap pada wajahnya

Putri Dayang bermain dalam sungai-sungai

menghunus wangi ladang-pipit 

dua musim bergantian, delapan penjuru angin

 

perjanjian itu tidak benar-benar

membunuh sang perempuan

sekalipun begitu dia tidak mati

menjelajahi pintu demi pintu

dan tersenyum hangat

membebaskan tidur yang panjang

melelahkan lalu menyenangkan

matamu berubah warna

serupa motif mehendi dan songket

sangat merah!

 

hujan musim juga kadang jadi anomali

memuat banyak debaran

gadis-gadis berguman

demikian murni dalam pemujaan remajanya

segala puisi segala puji-pujian

keindahan terisap ke dalamnya

 

tetapi mimpi jadi kisah yang mana, dewi?

perempuan telah diletakkan belakang

menjadi puan segala penderitaan

kita yang kanak-kanak berharap keajaiban

kerling genit atau puteri langit

perasaan adalah kesedihan dan kegembiraan sekaligus

kau masuki cahaya cahaya

kau siapkan juga bayangannya

 

tetapi apa kau punya sedikit keberanian

Tuan Putri?

tanah ini begitu kacau, manusia-manusia temahak

birahi pangeran yang tidak welas asih

lemah lembutmu lebih dari alasan

hasrat mereka ditulis

juga dengan banyak keserakahan

 

bersiasat dalam paradoks

penghitungan rumit yang tak dapat di hitung

pembebasan kisah-kisah

permakluman segala yang tak lazim

lalu kakimu tidak lagi sebening embun

larilah. Kau tak berhak menanggung

semua kesedihan pada pundakmu

kau tentu boleh membangkang

sekalipun gegabah, sekalipun terjatuh

larilah!

 

hanya saja, perjanjian sakral telah diletakkan

dadu nasib digulirkan

apakah satu atau enam, kau mesti mengambil angka

begitulah cara kerjanya.

Putri Dayang, kesayangan kayangan

budinya terberkati dan tubuhnya adalah sinar

di tengah pelarian itu, mantra mengaliri aliran darahnya

jalan-jalan menyisa sungai berbatu

burung hantu mengitarinya, berteriak kwak-kwak!

Kasiye meluap-luap, berteriak:

‘Kembalilah pada asalmu! Kembalilah pada asalmu!”

wajahnya penuh tangis kesedihan, perlahan sayup

 

orang-orang bersaksi, saling bersahutan

silam, Puteri telah silam

kurun waktu yang panjang

tidak ada lagi yang mengingatnya!

Nb: Dari dongeng Dayang Torek (Lubuklinggau), yang sering dikisahkan melalui lagu-lagu.
 

/2

/Dayang Rindu

 

kita berputar di ladang

sepasang pipit merayakan bulir merunduk

bisikku, tetaplah menjadi langit yang pagi

berdoa diam-diam

memahat namamu dalam tiang-tiangnya

nyanyianmu, sungguh lagu yang manis

 

babad romantis, sajak-sajak mistis

teriakmu riang, ingatan-ingatan yang mengalir

mari membacanya lagi, nanti

sebagaimana aroma adalah ingatan penuh

menghirupnya sampai mengisi seluruh

kupastikan menyimpannya dengan pasti

serupa selendang bidadari yang turun 

saat musim panas

 

(mungkin kau tak benar-benar tahu

berapa agung sebuah rindu

itu bahkan tak ada seperempat dari padi-padi ini

bagaimana kau begitu percaya diri

terus memilikinya sama seperti itu)

 

memupuknya lagi dan lagi

kurapal doa-doa, menyianginya

mengingat warnanya, mencatat siklus lainnya 

kuharap kau tidak menjadi mabuk nantinya

karena kita akan membicarakan ini 

dalam waktu yang lama

 

musim-musim berikutnya

punggungmu semakin bias

padi-padi sekarang terlihat semakin sunyi

pohon pohon itu pun banyak menghilang

dunia yang tua

 

anak-anak yang mati di situ

rumah-rumah hancur di situ

menjadi berita yang tak lagi sedih dari waktu ke waktu

 

sesekali kukirimkan mereka sebagian rindu

lalu seluruh aroma rindu

kadang kala aku merasa sedikit serakah

untuk terus dirindukan

sementara luka mereka sepanjang badan

 

barangkali, kau lupa membuka jendela pagi ini

hingga aroma menguar sampai jauh 

tidak menyentuh salah satu saraf-mu

apa kau berasal dari tanah kutukan

yang dalamnya mengalir sungai-sungai

hinggaku terus mengenangmu setiap hujan

 

sajak pertama dari buku tulis kita

warnanya semakin kabur

aku terus menyeduh rindu

 

Lubuklinggau, April  2023

*) Kasiye: Nama sebuah sungai


Surat Cinta Kepada Gie

 

prihal kue putu yang selalu lewat di depan sana

beraroma harum kelapa

tapi aku tidak pernah mempertimbangkan

sebuah insting yang membuat lapar 

saat pertemuan pertama dengannya

saat musim warna yang daunnya bermunculan

 

beberapa orang terjebak dalam bertemu 

setiap itu aku tidak tahu kapan waktunya menunggu

apakah kita benar-benar bertemu setelah itu

atau aku hanya merasa rindu

 

barangkali kau punya mimpi favorit

yang terus mengulang kenangan dalam pikiranmu

menjadi salah satu puisi yang sering kita ulang

warna semarak pada awal musim

berumah dalam batu, setia kepada sepi

 

jalan-jalan lengang, burung gereja berbaris

gedung-gedung kusam

waktu semakin pendek, Gie

dalam tubuhmu, tubuhku

seperti sesuatu yang bergerak

dalam perjalanan kesepian

 

tiada, tiada, menjadi sejarah yang tidak ada

tidak ada yang benar-benar dari semua kisah 

dunia semakin berisik semakin hening

semakin hilang

bagaimana jika satu hari, kau juga tidak mengingatnya

 

tanyamu: bagaimana perempuan melanjutkan trah

men-siasati rasa rindu dalam musim-musim?

mungkinkah banyak tahun kemudian kau juga menyesali

tidak menjadi bagian siapa-siapa

atau kau memang lebih suka menjadi pencerita

 

aku terpaksa berhenti mencintamu

usia menjadi tua dan tidak belas kasihan

mengikatku kepada sumpah

perempuan naif memercayai kerlingan

menjumpai neraka berkali-kali

 

manakah dari mereka yang berkhianat

orang-orang yang tertidur di siang hari

atau kita yang terjaga setelah malam?

 

malam yang buruk, dalam banyak waktu

waktu di dunia ini jadi terus berkurang

orang-orang yang mati

dikabarkan besoknya lagi

 

aku terpaksa berhenti mengenangmu

semoga tidak menjadi mimpi buruk bagi siapapun lagi

:demikianlah!

 

(2023)

Dimarifa Dy menulis puisi dan cerita. Buku puisinya berjudul Surat Cinta untuk Kekasih dan Catatan Perjalanan. Kerap mengikuti lomba menulis dan memenanginya. Tumbuh besar di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.  

 

Berita Lainnya