maaf email atau password anda salah


Korban Stalker Minta Bantuan

Pengasuh Klinik Hukum Perempuan menyarankan korban stalking meminta bantuan kepada keluarga dan orang-orang terdekat. 

arsip tempo : 171825592381.

Ilustrasi stalking. Shutterstock. tempo : 171825592381.

Halo pengasuh Klinik Hukum Perempuan. Perkenalkan, saya A. Media sosial belakangan ini diramaikan oleh berita seorang perempuan yang menjadi korban stalking selama 10 tahun. Saya bisa merasakan bagaimana penderitaan perempuan itu. Sebab, saya juga mengalami hal serupa, meskipun tidak separah dia. 

Sejak enam bulan terakhir, saya merasa dibuntuti oleh seseorang. Saya tidak mengetahui siapa orang ini karena dia selalu berganti nomor WhatsApp dan akun Instagram. Dia sering mengirim pesan yang mengatakan melihat saya di pasar, di rumah kos, atau di tempat-tempat lain yang kebetulan memang pernah saya kunjungi.  

Jujur, saya merasa takut karena sedang berkuliah di perantauan. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Halo A. Terima kasih telah berkonsultasi dengan Klinik Hukum Perempuan. Kami turut prihatin atas situasi yang kamu hadapi saat ini. Secara umum, stalking bisa diartikan "penguntitan" atau "pembuntutan". Orang yang melakukan stalking disebut stalker ,yang bisa diartikan "penguntit". Perbuatan penguntitan ini merupakan salah satu bentuk kekerasan yang menyerang diri dan data pribadi.

Ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi stalker:

Beri Tahu Keluarga dan Orang Terdekat

Sekalipun kamu berada di perantauan yang jauh dari keluarga, sebaiknya tetap beritahukan kepada mereka tentang situasi yang kamu hadapi. Kamu juga bisa bercerita kepada orang terdekat yang bisa dipercaya bahwa di sekitar kamu ada stalker. Tujuannya agar mereka bisa memahami situasinya sehingga bisa saling menjaga dan meningkatkan kewaspadaan. Kewaspadaan ini penting karena tindakan pelaku sulit ditebak. Pelaku bisa saja melancarkan teror secara digital, tapi bisa juga tiba-tiba muncul di hadapan. 

Ilustrasi seorang wanita menggunakan telepon genggam. Shutterstock

Jika keluarga dan orang terdekat sudah memahami situasi ini, diharapkan mereka bisa segera memberi bantuan.    

Identifikasi Pelaku

Berkomunikasi dengan stalker bukanlah perkara mudah. Menurut American Journal of Psychiatry, stalker terbagi dalam lima kategori, yaitu: (1) orang yang merasa ditolak dan tidak bisa menerima penolakan; (2) orang yang ingin mencari hubungan yang lebih intim dengan korban; (3) orang yang tidak bisa membaca situasi dan kultur sosial; (4) orang yang ingin membalas dendam; dan (5) orang yang bersifat predator atau menyerang korban secara fisik dan seksual. Namun, meski terbagi dalam lima kategori, motif pelaku tentu sangat beragam dan sulit diidentifikasi.

Berdasarkan keluhan kamu di atas, bisa disimpulkan, sampai saat ini kamu belum mengetahui siapa orang yang selama enam bulan ini menjadi penguntit. Namun kamu perlu mengingat-ingat orang-orang di sekitar kamu saat itu atau di masa lalu yang mungkin bisa menjadi pelaku. 

Stalker bisa jadi orang yang kamu kenal--bahkan dekat--tapi berlindung di balik anonimitas. Tidak tertutup kemungkinan pelaku adalah orang yang tidak kamu kenal sama sekali. Keduanya sama-sama berbahaya. Jika pelaku adalah orang yang kamu kenal, mungkin kamu akan lebih mudah mengambil tindakan dengan mengutamakan keamanan dan keselamatan.

Identifikasi dari Mana Pelaku Mendapat Data dan Informasi 

Ingat, pelaku tidak akan pernah tinggal diam. Pelaku secara sengaja membuat kamu tahu bahwa ia menguntit karena ini bagian dari teror. Biasanya pelaku juga akan membombardir dengan mengirimkan foto atau informasi apa pun tentang kamu. Tujuannya agar kamu merasa takut dan terancam dengan harapan kamu akan menuruti keinginan pelaku. 

Bombardir informasi ini sebenarnya dapat dilihat sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi pelaku. Langkah pertama, perhatikan dari mana pelaku mendapat data (foto atau video) dan informasi tentang kamu. Apakah dari media sosial kamu, keluarga, orang dekat, atau justru pelaku menguntit secara langsung?

- Jika bersumber dari unggahan media sosial:

Kamu perlu membatasi unggahan di media sosial. Dari sekian banyak pengikut di media sosial, sebaiknya tidak mengunggah apa pun yang justru menambah informasi yang dimiliki pelaku tentang kamu. Kamu juga bisa menyampaikan hal ini kepada keluarga dan orang terdekat untuk membatasi unggahan karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga akan menguntit mereka. 

- Jika bersumber dari hasil penguntitan langsung: 

Kamu sudah membatasi unggahan media sosial, tapi pelaku tetap mengetahui banyak informasi tentang kamu. Bila hal ini terjadi, kamu perlu mengubah kebiasaan sehari-hari dan meningkatkan keamanan. Misalnya berpindah rumah kos ke tempat yang lebih aman. Kamu juga perlu mengubah penampilan dan cara berpakaian. Perlu juga  menghindari tempat-tempat yang biasa kamu datangi. 

Dokumentasikan Semua

Ketika menyadari ada orang yang membuntuti, kamu pasti merasa tidak aman, takut, dan frustrasi. Lalu, mungkin hal pertama yang ingin kamu lakukan adalah memutus komunikasi dengan memblokir nomor telepon pelaku atau kontak di media sosialnya. Sebelum langkah itu kamu lakukan, sebaiknya dokumentasikan akun media sosial yang digunakan pelaku beserta semua percakapan. Juga foto dan video yang dia kirim. 

Pendokumentasian ini penting sebagai bukti kekerasan yang dilakukan pelaku terhadap kamu. Sebab, dalam kasus-kasus seperti ini, rentan terjadi victim blaming atau budaya menyalahkan korban. Kamu sebagai korban justru dipersalahkan karena dianggap tidak melakukan upaya yang cukup untuk menghentikan pelaku.

Cari Bantuan Sesuai dengan Kondisi dan Kebutuhan  

Untuk menghadapi stalker, seringkali korban tidak bisa melakukannya sendiri. Korban memang seharusnya berhak mendapat bantuan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan, antara lain:

- Psikologis
Berurusan dengan stalker bisa sangat menguras energi, membuat frustrasi, dan terus-menerus merasa ketakutan. Kamu dapat mengakses layanan bantuan psikologis jika diperlukan untuk mengelola emosi yang muncul dalam situasi ini.

- Keamanan Digital
Stalker bisa melancarkan teror tanpa henti melalui kanal media sosial atau jalur komunikasi lain. Untuk mencegah adanya kemungkinan serangan digital, kamu bisa meminta bantuan lembaga yang memiliki panduan keamanan digital agar dapat meningkatkan keamanan digital. Perlu juga meminta saran tentang langkah-langkah yang diperlukan agar pelaku tidak dapat mengakses kontak kamu.

- Hukum
Bukti percakapan serta kiriman foto dan video yang telah didokumentasikan bisa digunakan untuk melaporkan pelaku ke polisi. Namun biasanya pihak kepolisian akan bertanya siapa pelakunya. Ini tentu akan menyulitkan. Apalagi perspektif tentang "kekerasan" belum merata di kalangan aparat penegak hukum. 

Kami menyarankan, jika akan menempuh penyelesaian secara hukum, carilah layanan bantuan hukum yang berperspektif korban dan sensitif terhadap gender sehingga mereka bisa memahami situasi yang kamu hadapi.

Ingat, data pribadi dan semua data pribadi yang kamu miliki masuk dalam pelindungan hak asasi manusia. Jangan ragu mencari bantuan karena kamu tidak sendirian.

Tutut Tarida
Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender

 

Konten Eksklusif Lainnya

  • 13 Juni 2024

  • 12 Juni 2024

  • 11 Juni 2024

  • 10 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan