maaf email atau password anda salah


Aspartam, Minuman Diet, dan Risiko Kanker

WHO menyebutkan, aspartam, pemanis buatan di minuman ringan diet, mungkin bersifat karsinogenik. Berapa batas aman konsumsinya?

arsip tempo : 171850465569.

Ilustrasi gula dan pemanis buatan. UNSPALSH. tempo : 171850465569.

International Agency for Research on Cancer (IARC), badan di bawah World Health Organization (WHO) yang khusus menangani kanker, menyatakan bahwa aspartam ada kemungkinan mengandung bahaya karsinogenik bagi manusia.

Badan lain dari WHO, yang bekerja sama dengan para pakar bahan tambahan makanan dari Food and Agriculture Organization (FAO) Amerika Serikat, telah menghitung risiko dan melansir jumlah batas aman konsumsi aspartam harian. Mereka merekomendasikan 0 sampai 40 miligram per kilogram berat tubuh—jumlah yang sama dengan yang telah berlaku di sejumlah negara, termasuk di Australia.

Bahaya (dalam pernyataan WHO, hazard) berbeda dengan risiko. Bahaya berarti zat yang dimaksudkan dapat menimbulkan kanker. Sedangkan risiko menghitung besaran kemungkinan zat tersebut menimbulkan kanker.

Jadi, apa makna perhitungan bahaya aspartam bagi kita?

Pertama-tama, apa itu aspartam?

Aspartam adalah pemanis buatan yang 200 kali lebih manis daripada gula tapi tidak mengandung kilojoule alias kalori. Zat ini digunakan dalam berbagai produk, termasuk minuman berkarbonasi semacam Coke Zero, Diet Coke, Pepsi Max, dan merek-merek lain. Kita dapat mengetahui keberadaan aspartam di suatu makanan dan minuman melalui keterangan zat aditif nomor 951 di keterangan kandungan.

Produk seperti yogurt dan permen juga bisa mengandung aspartam. Karena sifatnya yang tak stabil di suhu tinggi, zat ini tak digunakan di makanan yang dipanggang.

Nama komersial aspartam di antaranya Equal, Nutrasweet, Canderel, dan Sugar Twin. Di Australia, misalnya, batas aman konsumsi aspartam adalah 40 miligram per kilogram berat badan per hari—setara dengan 60 saset. Di Amerika Serikat, batasnya lebih tinggi. Setara dengan 75 saset.

Ilustrasi penggunaan pemanis buatan. UNSPLASH

Apa dasar perhitungan soal risiko aspartam?

IARC meneliti berdasarkan bukti yang dikumpulkan dari berbagai negara, menggunakan data dari pengamatan, pengalaman, dan uji coba pada hewan. Mereka mendapati bukti terbatas soal hubungan antara aspartam dan kanker pada manusia, terutama kanker hati. Bukti terbatas juga mereka dapatkan dari uji coba pada hewan.

Peneliti juga memperhitungkan studi mekanisme biologis yang menunjukkan cara kanker berkembang dari konsumsi aspartam. Biasanya, ini hasil riset berbasis laboratorium yang menunjukkan dampak paparan suatu zat dapat memicu kanker. Dalam kasus ini, mereka menemukan bukti terbatas cara aspartam dapat menyebabkan kanker.

Hanya ada tiga penelitian yang menunjukkan hubungan konsumsi aspartam dan kanker pada manusia. Riset observasi dalam jumlah besar ini menggunakan parameter konsumsi minuman ringan sebagai indikator asupan aspartam.

Ketiga riset tersebut mendapati hubungan positif antara minuman yang mengandung pemanis buatan dan kanker hati pada setiap populasi, termasuk subkelompoknya. Namun penelitian ini tak memperhitungkan faktor-faktor lain yang juga bisa menyulut kemunculan kanker.

Sebuah riset di Eropa yang memantau 475 ribu orang selama 11 tahun mendapati bahwa setiap konsumsi tambahan minuman ringan diet per pekan berhubungan dengan 6 persen peningkatan risiko kanker hati. Sebagai catatan, para penelitinya mengakui bahwa riset ini hanya melibatkan sedikit sampel karena kanker hati merupakan penyakit yang tak umum.

Dalam penelitian di Amerika Serikat, peningkatan risiko kanker hati terlihat dari orang dengan diabetes yang minum lebih dari dua kaleng minuman soda diet tiap pekan. Penelitian ketiga, juga di AS, menemukan peningkatan risiko kanker hati pada orang yang tak pernah merokok dan minum dua atau lebih minuman berpemanis buatan per hari.

Dari ketiga penelitian itu, IARC menyatakan bahwa aspartam masuk Grup 2b "kemungkinan karsinogen". Namun mereka juga mengatakan, butuh penelitian lanjutan untuk lebih memahami hubungan antara aspartam dan kanker.

Apa arti pengelompokan karsinogen?

IARC membagi zat yang bersifat karsinogen dalam empat golongan.

Grup 1, karsinogenik pada manusia: terdapat bukti kuat yang didapat dari penelitian pada manusia bahwa zat tersebut menyebabkan kanker, termasuk pola sebab-akibatnya. Ada 126 agen dalam kelompok ini, termasuk rokok tembakau, alkohol, daging sapi yang diproses, radiasi, dan radiasi ion.

Grup 2a, berpeluang karsinogenik pada manusia: terdapat hubungan positif antara zat ini dan kanker pada manusia. Namun pola hubungannya belum terungkap penuh. Ada 95 jenis agen di kelompok ini, termasuk daging merah, insektisida DDT, dan jam kerja malam.

Grup 2b, kemungkinan karsinogenik pada manusia: ada bukti terbatas bahwa zat ini memicu kanker pada manusia, sementara bukti dari penelitian hewan telah cukup untuk menjelaskan cara kerja zat tersebut dalam menimbulkan kanker. Butuh penelitian tambahan untuk mendapatkan bukti ilmiah. Ada 323 agen di kelompok ini, termasuk ekstrak lidah buaya secara utuh, ginkgo biloba, dan timbal.

Grup 3, tak tergolong karsinogen: tak ada bukti yang mencukupi bahwa zat tersebut menyebabkan kanker, baik bagi manusia maupun hewan. Ada 500 agen di kelompok ini.

Remaja mengonsumsi minuman soda dengan kandungan aspartame. PEXELS

Jadi, haruskah kita berhenti minum soda diet?

Bagi orang dengan berat 70 kilogram, butuh 14 kaleng—sekitar 5 liter—minuman ringan berpemanis aspartam untuk mencapai batas maksimal konsumsi harian. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa aspartam bisa ada di makanan dan minuman lain. Jadi, batas 40 miligram per kilogram berat badan itu merupakan angka yang sangat tinggi, tapi bisa saja tercapai.

Kita juga harus mempertimbangkan berbagai zat lain yang biasa datang bersama aspartam. Misalnya makanan yang mengandung aspartam biasanya merupakan makanan yang diproses secara berulang-ulang atau ultra-processed food, yang—lewat banyak penelitian—terbukti merusak kesehatan.

Pemanis buatan, termasuk aspartam, dapat menjadikan kita kecanduan gula. Tubuh kita menuntut untuk makan lebih banyak sehingga terancam kegemukan.

Hal tersebut membuktikan bahwa kita wajib lebih memperhitungkan konsumsi pemanis buatan. Sebab, pemanis buatan tak bermanfaat sama sekali, dan, sebaliknya, membawa dampak buruk.

Meski demikian, dari berbagai penelitian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa mengkonsumsi sekaleng minuman ringan diet sesekali, bahkan setiap hari, aman-aman saja. Kemungkinan tidak berisiko menimbulkan kanker.

---

Artikel ini ditulis oleh Evangeline Mantzioris, pakar nutrisi dari University of South Australia. Terbit pertama kali dalam bahasa Inggris di The Conversation dan diterjemahkan oleh Reza Maulana dari Tempo.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juni 2024

  • 15 Juni 2024

  • 14 Juni 2024

  • 13 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan