maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Kominfo

Memajukan Kebudayaan dengan Kearifan Lokal

Senin, 27 Juni 2022

Pada era modern inovasi merupakan keharusan yang harus dimiliki sebuah bangsa. #Infotempo

Webinar Pemajuan Kebudayaan dan Inovasi Daerah dalam Penguatan Identitas Meningkatkan Kemakmuran.. tempo : 166998395276

Kebudayaan dan identitas kembali menjadi tema menarik dibahas justru di kala kehidupan semakin mengglobal dan terdigitalisasi. Identitas dan jati diri sebagai bangsa dalam posisi yang kritis, bisakah bertahan dalam derasnya arus globalisasi.                

Topik inilah yang menjadi tema bahasan webinar yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan tema “Pemajuan kebudayaan dan Inovasi Daerah dalam Penguatan Identitas Meningkatkan Kemakmuran”, Jumat, 10 Juni 2022.

Tampil sebagai pembicara pada acara webinar ini adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kominfo Wiryanta dan praktisi hukum dan budaya Iswadi.

Teuku Riefky mengatakan kebudayaan adalah identitas suatu bangsa yang berperan dan menjadi faktor dominan dalam pengembangan jati diri bangsa Indonesia. Oleh karenanya, kata dia, budaya harus terus dilestarikan dengan cara menjaga dan merawatnya dengan baik. “Harapannya, kita dapat mencegah degradasi kebudayaan yang berujung pada hilangnya, ciri khas dan identitas sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.

Namun, di era modern inovasi merupakan keharusan yang harus dimiliki sebuah bangsa. Inovasi dapat meningkatkan daya saing masyarakat yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Budaya dan inovasi harus berjalan bersama dan memajukan daerah,” kata anggota DPR dari Aceh ini.  

Sebagai negara majemuk, kata dia, Indonesia memiliki ragam budaya dan potensi  besar yang harus menjaga nilai-nilai budaya dari serangan globalisasi. Bila tidak dikelola secara bijak dapat merusak tatanan nilai dan budaya bangsa.

Menurut Teuku Riefky, bila masyarakat tidak terus berinovasi akan tertinggal dari bangsa lain menghadapi perkembangan zaman. “Khususnya untuk Aceh, tentu budaya harus dipelihara sebagai nilai-nilai Islam dan kearifan lokal dimana nilai Islam dan budaya tidak dapat dipisahkan,” tuturnya.

Khusunya di Aceh, kata dia, apapun inovasi yang terjadi tidak mengurangi esensi budaya dan nilai Islam. Inovasi menjadi sebuah keniscayaan yang mampu menguatkan identitas kebudayaan, bukan malah sebaliknya.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kominfo, Wiryanta, mengatakan generasi muda pada era digital harus bertumpu pada empat pilar seperti disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate.

Empat pilar literasi digital, termasuk juga bagi kalangan santri adalah digital skill, digital culture, digital ethics, dan digital safety. Karena itu kata Wiryanta, penguasaan digital tidak sama semata-mata literasi atau kemelekan. “Tapi kalangan santri mampu mengendalikan teknologi digital berbasis kearifan lokal, dalam hal ini nilai-nilai yang selama ini hidup di dunia pesantren,” ujarnya.  

Menurut Wiryanta, struktur penduduk Indonesia saat ini didominasi generasi muda sebanyak 50 perse. Adapun generasi milenial mencapai 25-26 persen dan generasi Z sekitar 28 persen dari 278,3 juta penduduk , “Generasi produktif ini harus harus memiliki kompetensi untuk menunjang produktivitas nasional sesuai dengan perkembangan teknologi,” ucapnya.

Adapun Iswadi mengatakan pergeseran dan perubahan kebudayaan di masyarakat terjadi karena tidak serius menangkal pengaruh daru luar. “Pada hari ini bisa dilihat terjadi pergeseran tentang budaya dan etika kemudian efek dari situ adalah terjadi benturan sosiologis di masyarakat,” kata dia.

Ada sebagian orang yang tidak bisa menerima budaya yang datang dari luar. Namun, sebagian bisa menerima sehingga memunculkan konflik di masyarakat.

“Dampak globalisasi dan derasnya pergerakan informasi mengubah cara kita memandang persoalan. Situasi seperti ini, bila tidak dikelola dengan baik, bisa memunculkan benturan-benturan di masyarakat,” ujar Iswadi.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 2 Desember 2022

  • 1 Desember 2022

  • 30 November 2022

  • 29 November 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan