maaf email atau password anda salah


Kemenko Ekonomi

Tiga Isu Penting dalam Pertemuan Pertama Sherpa GCRG

Pembahasan tentang krisis pangan, energi, dan keuangan akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Seluruh kepala negara diharapkan mendukung rekomendasi untuk menangani krisis itu.

arsip tempo : 171820672771.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, dalam pertemuan pertama tingkat Sherpa dari Global Crisis Response Group (GCRG) secara virtual pada Jumat malam, 13 Mei 2022.. tempo : 171820672771.

Pertemuan Pertama tingkat Sherpa dari Global Crisis Response Group (GCRG) telah berlangsung secara virtual pada Jumat malam, 13 Mei 2022. Ada tiga isu utama yang dibahas dalam pertemuan ini, yaitu tentang krisis pangan, energi dan keuangan.

GCRG adalah grup yang dibentuk oleh Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang terdiri dari enam Kepala Negara/Kepala Pemerintahan sebagai Champions Group of the GCRG. Tujuannya untuk mengkoordinasikan kebijakan dan implementasi dalam menangani krisis yang timbul dari dampak konflik Rusia-Ukraina dan pandemi Covid-19.

Pertemuan dipimpin oleh Deputi Sekretaris Jenderal PBB, Amina Mohammed. Dihadiri oleh para Sherpa GCRG dari Indonesia, Jerman, Denmark, Bangladesh, dan Senegal, serta perwakilan tetap di PBB New York dari Pemerintah Bangladesh, Denmark, Indonesia, Jerman, Barbados, dan Sekretaris Jenderal United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD).

Hasil pada pertemuan ini nantinya disampaikan dalam bentuk Briefing Notes dan dibahas kembali pada pertemuan berikutnya. Briefing notes akan dibagi dalam beberapa sub-group, yakni Fertilizer, Logistik, serta Investasi.

Ketiga isu yang dibahas tersebut juga akan menjadi agenda prioritas pada Presidensi G20 Indonesia tahun ini. Working Group G20 yang relevan dengan isu-isu tersebut, akan melakukan sinkronisasi dan mensinergikan concrete deliverables nya dengan Program- program GCRG.

Mewakili Sherpa Indonesia, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengupas tantangan yang dihadapi pada tiga isu utama itu. Terkait rantai pasokan pangan global, ia menyampaikan bahwa sejumlah negara sangat bergantung  pada Rusia dan Ukraina. Akibat berkonflik, pasokan pangan terganggu dan menyebabkan lonjakan harga, terutama yang terkait pengiriman barang dan logistik.

Pada isu krisis energi, Susiwijono menyampaikan agar mencari sumber-sumber alternatif dan pembangunan kapasitas kolektif untuk negara-negara yang terkena dampak konflik Rusia-Ukraina. Pasalnya, sanksi yang dijatuhkan pada Rusia sebagai pengekspor gas alam terbesar di dunia menyebabkan kenaikan harga energi secara signifikan. “Krisis mendorong kebutuhan yang mendesak untuk penyediaan pasokan yang berkelanjutan dan percepatan transisi energi,” ujar Susiwijono.

Sedangkan tentang isu keuangan global, Indonesia menyatakan kesiapannya untuk mendiskusikan cara untuk mengurangi risiko tinggi dari debt distress, terutama yang dihadapi oleh negara-negara berkembang dan negara berkembang berpenghasilan rendah, termasuk yang terkait dengan Inisiatif Penangguhan Layanan Utang (Debt Service Suspension Initiative).

Perwakilan Indonesia, Susiwijono, menyatakan harapannya agar GCRG juga terus mendukung dan melanjutkan program untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) termasuk pengentasan kelaparan, energi bersih dan terjangkau, serta pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, delegasi Bangladesh, H.E Mohammad Ziauddin, menyampaikan kekhawatirannya terhadap keamanan pangan. Karena itu, ia mengusulkan agar GRCG menyusun peta jalan untuk berkolaborasi serta mengusulkan High Level Political Forum pada Juli mendatang.

Delegasi Denmark menawarkan sharing knowledge untuk transisi energi dan bagaimana peran EU secara global atas isu tersebut. Lebih lanjut, delegasi Jerman menyampaikan inisiatif yang telah dilakukan di G7 dalam mengatasi krisis pangan melalui Global Alliance for Food dan membuka partisipasi negara lain untuk ikut berpartisipasi.

Sedangkan Sekretaris Jenderal UNCTAD, Rebecca Grynspan, mengungkapkan perhatiannya terhadap dampak harga logistik, isu energi, dan efek domino dari isu yang sedang terjadi. Menurut dia, GCRG harus mulai berorientasi “people”, bukan hanya pada “countries”.

Atas hasil pertemuan tersebut, Deputi Sekretaris Jenderal PBB, Amina Mohammed menyampaikan bahwa PBB mengapresiasi kepemimpinan Indonesia di Presidensi G20 Tahun 2022. Adapun pertemuan GCRG Champions selanjutnya akan dilaksanakan pada minggu ketiga atau keempat bulan ini. Diharapkan hasil pertemuan berikutnya akan memperoleh dukungan dari para kepala negara terhadap rekomendasi yang dihasilkan oleh GCRG untuk mengatasi krisis pangan, energi dan keuangan. (*)

Konten Eksklusif Lainnya

  • 12 Juni 2024

  • 11 Juni 2024

  • 10 Juni 2024

  • 9 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan