maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Mayapada Hospital

Deteksi Dini Kanker Hati

Selasa, 22 Maret 2022

Banyak pasien datang terlambat berobat kanker hati, karena menduga hanya sakit maag.

Ilustrasi penyakit hati.. tempo : 167559355742

Kanker hati ada dua macam. Pertama, kanker hati primer yang merupakan kanker yang terjadi dari sel-sel hati yang normal berubah menjadi sel-sel abnormal. Kedua, kanker hati metastasis yaitu kanker hati yang berasal dari penyebaran kanker dari organ lain seperti usus besar, paru-paru atau payudara.

Kanker hati primer yang terbanyak adalah hepatocellular carcinoma (HCC). Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2020, kanker hati merupakan salah satu dari 4 penyebab kematian akibat kanker tersering di Indonesia.

Mayoritas penderita kanker hati primer di dunia memiliki penyakit hati kronis seperti sirosis hati yaitu terbentuknya jaringan parut di hati akibat penyakit kronis. "Sirosis hati tidak hanya disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebih, pada banyak kasus yang ditemukan sirosis disebabkan oleh penyakit hati yang tidak berhubungan dengan alkohol atau disebut Nonalcoholic Steatohepatitis (NASH) yaitu terjadinya penumpukan lemak di hati, yang berhubungan dengan obesitas, sindrom metabolik dan diabetes," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, Mayapada Hospital Tangerang, dr. Hendra Nurjadin, SpPD, KGEH.

Menurutnya, infeksi hepatitis B dan C yang banyak terjadi di Indonesia juga merupakan penyebab banyaknya sirosis hati yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kasus kanker hati. "Dimana sebenarnya hepatitis B ini dapat dicegah dengan vaksinasi dan hepatitis C dapat dengan mudah diobati, cukup hanya 3 bulan saja dengan obat-obatan anti virus yg baru," ujarnya.

Seperti kasus kanker yang lainnya, terdiagnosis sejak dini adalah kunci utama penanganan kanker hati. Pilihan terapi kanker hati pun bergantung pada stadium kanker hati. Semakin kecil ukuran tumor dan semakin rendah stadium kanker, serta fungsi hati dan kondisi kesehatan yang baik, maka kanker hati dapat dioperasi.

Di Indonesia, banyak pasien datang terlambat berobat kanker hati, karena selain tidak melakukan medical check-up secara berkala, pasien juga sering datang terlambat. Sebab, menduga hanya mengeluh sakit maag dan mengobatinya dengan hanya menjalani pengobatan maag.

"Setelah penyakit menjadi berat dan keluhan menjadi semakin nyata seperti nyeri pada perut, perut membesar, mudah memar dan perdarahan, kulit dan mata menguning, serta penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, barulah pasien datang, padahal pasien datang dalam kondisi sudah stadium lanjut," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Prof. Dr. Abdul Aziz Rani, Sp.PD-KGEH.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, Mayapada Hospital Kuningan, dr. Kaka Renaldi, Sp.PD, KGEH mengatakan, deteksi dini dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk pemeriksaan hepatitis, pemeriksaan rutin USG hati serta pemeriksaan darah fungsi hati termasuk penanda tumor AFP (Alfa Feto Protein). "Bagi seseorang yang sudah menderita hepatitis B dan C serta memiliki fungsi hati yang abnormal, penting menjalani pemantauan rutin minimal enam bulan sekali," ujarnya.

Dalam penanganan kanker, tumor board Mayapada Hospital melakukan pertemuan rutin untuk membuat rencana perawatan yang terbaik dan ideal untuk setiap individu pasien sebagai sebuah tim. Tim yang terlibat dalam tumor board untuk penanganan kasus kanker hati selain dokter bedah digestif, spesialisasi lain juga ikut terlibat seperti dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi, patologi anatomi, radiologi, radiasi onkologi, anestesi serta spesialisasi lain sesuai kebutuhan dan kondisi pasien.

“Dalam memberikan rekomendasi tatalaksana pada pasien yang sudah didiskusikan dalam tumor board, kepada pasien diterangkan juga pertimbangan tatalaksananya tersebut berdasarkan tinjauan beberapa guidelines yang sudah ada, salah satu diantaranya adalah BCLC Barcelona Clinic Liver Cancer strategy,” kata Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Rofi Yuldi Saunar, Sp.B-KBD.

Namun, Rofi melanjutkan, untuk menentukan apakah suatu kanker hati memenuhi syarat untuk operasi reseksi hati, perlu untuk mempertimbangkan beban tumor juga fungsi hati, luasnya jaringan hati yang dipotong dan volume sisa hati yang diharapkan di masa depan, serta adanya tidaknya hipertensi portal dan komorbiditas dari pasien. Untuk itu diperlukan penilaian kondisi kesehatan pasien yang detail dan komprehensif sebelum dilakukannya penanganan tumor hati.

"Pilihan terapi lainnya bagi pasien yang tidak dapat dilakukan reseksi atau pengangkatan tumor antara lain adalah transplantasi hati, terapi ablasi, terapi embolisasi serta sistemik," Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Kuningan, dr. Agung Sumastoro, Sp.B-KBD.

Sementara itu, pada pasien stadium terminal, perawatan yang diberikan adalah best supportive care yaitu perawatan suportif untuk mendukung kesehatan pasien. "Ini terdiri dari perawatan paliatif yang tepat tanpa terapi antikanker lainnya," ujar Agung.

Adapun, untuk mengurangi risiko kanker hati mulailah dengan menjaga berat badan yang sehat dan ideal, vaksinasi terhadap Hepatitis B, tes Hepatitis C, dan jangan merokok, hindari minum terlalu banyak alkohol. 'Serta jangan lupa rutin melakukan pemeriksaan kesehatan," kata Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Tangerang, dr. Dion Ade Putra, Sp.B-KBD.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 5 Februari 2023

  • 4 Februari 2023

  • 3 Februari 2023

  • 2 Februari 2023


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan