maaf email atau password anda salah


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Ujung Tombak Merdeka Belajar

Pelaksanaan program Merdeka Belajar sangat tergantung pada inovasi dan penciptaan ide-ide kreatif. Kuncinya ada di Pengembang Teknologi Pembelajaran.

arsip tempo : 171929134480.

Ilustrasi Pembelajaran melalui ide-ide kreatif dan inovasi.. tempo : 171929134480.

Program Merdeka Belajar menuntut inovasi dan ide-ide kreatif. Oleh karena itu, Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) harus harus berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri.

"Kita harus berkolaborasi, kita tidak mungkin bekerja sendiri, dan dalam hal kolaborasi ini. Pertama, perlu kolaborasi antarpegawai PTP untuk saling belajar dan saling mendukung. Kedua, perlu kolaborasi dengan pihak-pihak lain, karena banyak pihak yang dapat kita adaptasi pemikiran dan ide-ide kreatifnya," ujar Seharti, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) saat membuka acara diskusi daring Asosiasi Pengembang Teknologi Pembelajaran Indonesia (APTPI) Berbagi, Kamis, 26 Agustus 2021.

Suharti mendorong pegawai fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran untuk terus mengembangkan inovasi dan ide-ide kreatif. Menurut Suharti, Pengembang Teknologi Pembelajaran mengemban tugas berat sebagai salah satu ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. "Dengan teknologi pembelajaran yang semakin baik, proses pembelajaran di sekolah menjadi lebih terbantu. Guru termudahkan untuk menyiapkan materi pembelajaran, menyiapkan bahan ajar yang tidak harus dicari sendiri, bahan-bahan sudah siap. Ini tentu akan memudahkan semuanya," ujarnya.

Saat ini, guru di Indonesia sangat bervariasi kualitasnya dan infrastruktur sekolah di setiap daerah sangat beragam, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi PTP untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. "Pemerintah dan teman-teman sebagai PTP dapat membantu memastikan para guru mendapatkan manfaat yang sama," ujar mantan Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri, Kemendikbud, tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, pelaksana tugas Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbudristek (Plt. Kepala Pusdatin), M. Hasan Chabibie, dalam sepuluh tahun terakhir minat para aparatur sipil negara (ASN) untuk menjadi pejabat fungsional PTP cukup tinggi. "PTP menjadi salah satu jabatan fungsional yang menarik minat para ASN sebagai wahana aktualisasi diri. Saat ini terdapat 1.233 PTP, di mana 669 di antaranya adalah pegawai Kemendikbudristek, dan sebanyak 564 PTP berasal dari kementerian lain, lembaga, dan pemerintah daerah," ujar Hasan Chabibie.

Kemendikbudristek saat ini merupakan instansi pembina jabatan fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran. "Kita sebagai instansi pembina jabatan fungsional PTP, terus menerus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lain, memberikan rekomendasi analisis peta jabatan, penghitungan beban kerja seandainya ada ASN yang tertarik menjadi pejabat fungsional PTP," kata Hasan.

Hasan Chabibie mengatakan, tugas-tugas Kemendikbudristek terkait jabatan fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran ini adalah memfasilitasi jabatan fungsional PTP, menyempurnakan regulasi-regulasi jabatan fungsional PTP, dan meningkatkan kompetensi PTP. Hasan mendorong para PTP bekerja lebih merdeka, lebih berdaya, dan berkolaborasi untuk menghasilkan inovasi di bidang teknologi pembelajaran.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 25 Juni 2024

  • 24 Juni 2024

  • 23 Juni 2024

  • 22 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan