maaf email atau password anda salah


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Nilai Tambah Musik Tradisi

Indonesia begitu kaya akan musik tradisi. Perlu menyesuaikan dengan tuntutan zaman.

arsip tempo : 172143755025.

Ilustrasi siswa-siswi menggelar konser musik.. tempo : 172143755025.

Sebagai bentuk pelindungan terhadap musik tradisional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar sidang prakongres guna membentuk Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) Musik Tradisi Nusantara secara daring pada Jumat, 20 Agustus 2021. Adapun sidang tersebut mengulas delapan tema, yakni definisi musik tradisi, pendataan musik tradisi nusantara, kebutuhan perlindungan, kebutuhan pengembangan, kebutuhan pendidikan, keadaan instrumen, pemanfaatan, dan tugas LMK musik tradisi Nusantara.

Sidang prakongres yang terdiri dari 27 sesi dan mengundang 52 narasumber ini diawali dengan pendataan Musik Tradisi Nusantara guna melindungi kekayaan intelektual para musisi tradisi. Kegiatan ini akan dihelat hingga30 Agustus mendatang dengan mengundang sejumlah pemangku kepentingan, seperti pelaku seni musik tradisi, akademisi, pakar kekayaan intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Empat hari berselang, sidang prakongres pembentukan Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) Musik Tradisi Nusantara pada tema Kebutuhan Pengembangan berhasil merumuskan empat poin penting yang akan dibawa pada kongres mendatang. Satu dari empat rumusan hasil tersebut menyebutkan elemen musik tradisi sebagai sumber kreativitas penciptaan produk kreatif akan menjadi pembeda sekaligus pengambil posisi musik Indonesia dalam kontestasi musik dunia.

Direktur Industri Musik, Seni Pertunjukan, dan Penerbitan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Amin Abdullah, mengatakan musik itu politik, yang setiap zamannya memiliki ciri sendiri. Ciri tersebut dapat berasal dari sistem pengetahuan lokal, sistem genealogi, sejarah, hukum, lingkungan, alam semesta, adat istiadat, tekstil, obat-obatan, religi, hingga nilai-nilai moral dalam bahasa dan seni.

Menurut Amin, yang dalam kegiatan tersebut memaparkan materi berjudul Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Musik Tradisional sebagai Industri Kreatif, Indonesia yang memiliki kekayaan warisan budaya,  perlu memberi nilai tambah pada produk atau karya yang dihasilkan melalui pengembangan ekonomi kreatif. Untuk itu, sidang prakongres ini mengusulkan agar dalam konteks karya yang bersifat inovasi, modifikasi, dan komodifikasi, dapat diletakkan sumber kesenian tradisi.

Narasumber lain, Bambang Sunarto, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menyoroti karawitan sebagai bagian dari musik tradisi Nusantara. Ia melihat musik karawitan selama ini telah menghidupi masyarakat. Guna meningkatkan ketahanan musik tradisi, termasuk karawitan, sidang prakongres ini mengusulkan untuk memberi ruang proporsi dan pelindungan musik tradisi Nusantara pada ekosistem yang melingkupinya. 

Sruti Respati, narasumber yang mewakili Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, menjelaskan bahwa ragam kekayaan budaya memiliki lima domain kebudayaan sebagai budaya tak benda. Untuk musik, Sruti mengatakan, karya musik berkembang sesuai zamannya. Saat ini, kata dia, perkembangan musik tradisi sering diorientasikan dengan merusak pakem. “Namun faktanya, pakem sedianya bisa menjadi bagian dari metamorfosa musik tradisi,” ujarnya.

Setyawan Jayantoro, narasumber lain dalam sidang tema pengembangan, memaparkan materi yang berjudul Dilema Eksistensial dan Potensi Esensial Inovasi Musik Tradisi Nusantara. Ia menyampaikan bahwa eksistensi musik sarat dengan nilai-nilai yang tidak dapat dipahami secara parsial. Oleh karena itu, kata dia, pengembangan musik harusnya sampai pada tataran pengetahuan, bukan hanya materialnya saja.

Segendang sepenarian  dengan Setyawan, narasumber lain, Edy Utama, melontarkan kecemasannya tentang semakin jarangnya musik tradisi dimainkan. Ia mengatakan, musik tradisi saat ini mulai banyak digantikan dengan alat yang disebut organ tunggal, yang banyak memainkan musik pop daerah dengan karakter berbeda. 

Sedangkan Marusya Nainggolan, narasumber yang memaparkan materi berjudul Mengembangkan Seni Tradisi yang Bisa Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman, mengatakan, kekhasan dan keunikan yang dimiliki setiap ragam budaya menunjukkan kekuatan, identitas, sikap, pola pikir yang terlibat dalam kehidupan masyarakat. “Seni tradisi khususnya musik, sangat berpengaruh dalam proses kehidupan kreativitas seniman, musisi, dan menembus berbagai latar belakang suku, agama, adat istiadat, dan usia,” katanya.

Dari beragam materi yang disampaikan narasumber, sidang prakongres ini kemudian mengusulkan adanya sinergitas pentahelix atau lima baling-baling, yang terdiri dari pemerintah, komunitas, pers/media, pelaku bisnis, dan akuntansi, dalam menjaga ekosistem dan pengembangan musik tradisi nusantara. Rumusan tersebut akan dibawa pada acara puncak, yaitu Kongres Musik Tradisi Nusantara yang akan digelar pada 1 September 2021. 

Konten Eksklusif Lainnya

  • 20 Juli 2024

  • 19 Juli 2024

  • 18 Juli 2024

  • 17 Juli 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan