maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Dexa Medica

Indonesia Butuh Banyak Peneliti Kesehatan

Selasa, 23 Maret 2021

Para pengambil kebijakan membutuhkan hasil penelitian untuk mendasari kebijakan yang akan diambil. Program DASS menggali potensi para peneliti di Indonesia.
Dexa Award Science Scholarship 2021. tempo : 167580841174

Tangerang Selatan – Indonesia membutuhkan lebih banyak peneliti di bidang kesehatan, terutama untuk mengatasi pandemi Covid-19. Peneliti menjadi profesi yang sangat penting menghadapi kondisi saat ini. Para pengambil kebijakan pun membutuhkan hasil-hasil penelitian sebagai landasan kebijakan yang akan diambil.

Total jumlah peneliti di Indonesia tergolong minim. Menurut Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045, baru ada 80 peneliti per 1 juta penduduk Indonesia. Sedangkan target jumlah peneliti pada 2039 sebanyak 8.000 per 1 juta penduduk.

Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences Dr. Raymond Tjandrawinata mengatakan bahwa peneliti memiliki visi sebagai penggerak perekonomian negara berbasis ilmu pengetahuan. Ini terjadi apabila hasil penelitiannya dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

“Banyak sekali permasalahan di sektor kesehatan yang perlu dicarikan jalan keluarnya melalui penelitian. Misalnya, bagaimana Indonesia keluar dari jeratan impor bahan baku produk farmasi yang saat ini 95 persen diimpor dari Cina dan India,” ujarnya baru-baru ini.

Menurut Raymond, Indonesia kaya sekali dalam biodiversitas alam, bahkan nomor 2 di dunia setelah Brazil.

Dia menekankan bagaimana peneliti Indonesia dapat meneliti bahan baku alam yang produk hasil penelitian tersebut bisa digunakan secara masif oleh masyarakat. Maka seluruh rakyat akan mengalami dampak ekonominya.

“Dimulai dari petani peternak, nelayan sebagai penghasil bahan baku, kemudian pedagang, dan sebagainya, akan merasakan dampak ekonominya,” ujar Dr. Raymond.

Adapun Leader Dharma Dexa, Gloria Haslim, mengemukakan bahwa untuk mendorong minat mencetak banyak peneliti Dexa Group sebagai perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia menggelar Dexa Award Science Scholarship (DASS) 2021.

Dia menjelaaskan Dexa Award Science Scholarship adalah gerakan inisiatif Dexa Group terhadap pendidikan peneliti dan calon peneliti. Menurut dia, para peneliti tidak hanya membutuhkan gelar akademis minimal S2, tetapi juga dana penelitian yang tidak sedikit.

“Dexa Group berperan mendorong lahirnya saintis baru yang berani melakukan terobosan dalam mencari solusi masalah kesehatan di Indonesia,” kata Gloria.

Ketua Panitia DASS 2021 sekaligus Head of Corporate Communications Dexa Group, Sonny Himawan, menuturkan program DASS adalah merupakan ajang beasiswa bergengsi di bidang penelitian kesehatan yang diadala sejak 2018. Program ini  berperan meningkatkan ekosistem penelitian sekaligus inovasi di Indonesia.

“Untuk itu DASS 2021 mengambil tema Inovasi untuk Bangsa.”

Sonny menyatakan Dexa sangat optimistis pada tahun ini peminat DASS akan lebih banyak dan berkualitas. Pada 2020, saat terjadi pandemi Covid-19, peminat DASS justru meningkat signifikan, 28 persen dibandingkan 2019.

Para peminat beasiswa S2 program DASS dari 474 universitas. Mereka datang dari 403 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro hadir dalam acara DASS 2020.

Dia mengemukakan bahwa peneliti menjadi harapan bangsa yang dapat berkontribusi melalui perkembangan riset dan penelitian yang bermanfaat untuk mencapai kemandirian bangsa. Namun, anggaran riset masih minim.

Menteri Bambang Brodjonegoro menyebutkan, anggaran riset di Indonesia sekitar 0,25 persen dari produk domestik bruto, tergolong sangat minim dibandingkan dengan negara-negara lain. (*)

 

Info Tempo

 

 

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 7 Februari 2023

  • 6 Februari 2023

  • 5 Februari 2023

  • 4 Februari 2023


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan