Seni

Suara Kritis untuk Tes Wawasan Kebangsaan

Edisi, 6 Juni 2021

Seniman dan masyarakat berbagai latar belakang memamerkan karya untuk merespons pelemahan KPK. Poster-poster itu juga diunggah di media sosial.

Karya Toni Malakian pada pameran poster dan diskusi publik bertajuk Berani Jujur Hebat Pecat di Warung Teh Umran (Wikiti) di Sleman, Yogyakarta. Pameran berlangsung pada 1-15 Juni 2021. AJI Yogyakarta.

Kaleng bercat merah-putih berisi kerupuk itu teronggok pasrah. Satu tangan berkemeja putih panjang yang digulung menjulur bersiap memutar keran air di atas kaleng. "Dibikin mlempem", demikian bunyi tulisan yang menarasikan gambar poster tersebut.

Ada lagi gambar poster seram nan suram berlatar warna merah-hitam. Tiga ekor tikus digambarkan berhasil membobol brankas berisi kantong-kantong rupiah. Di belakangnya, sosok jerangkong hidup berjas dengan pin berlogo tulang melintang berpose seolah-olah tengah berseru kepada tikus-tikus itu.

"Depak lalu kuasai", demikian tiga kata yang tertulis mewakili instruksi sang jerangkong. Sedangkan narasi tulisan di bagian bawah kian menegaskan tujuan akhir jerangkong hidup dan tikus-tikus pengerat uang itu: "Membikin KPK bukan lagi Komisi Pemberantasan Korupsi. Melainkan Komisi Pelayan Koruptor."

Poster-poster itu bergelantungan dijepit pada kayu-kayu yang melintang di ruang-ruang perpaduan kayu dan tembok di Warung Teh Umran atau Wikiti, Sleman, pada 1-15 Juni 2021. Ada 55 poster yang dipamerkan untuk merespons kondisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tajuk “Berani Jujur, Hebat Pecat”.

Diskusi publik bertajuk Berani Jujur Hebat Pecat di Warung Teh Umran (Wikiti) di Sleman, Yogyakarta. Pameran berlangsung pada 1-15 Juni 2021. AJI Yogyakarta.

Sebanyak 31 poster didesain seniman dan 25 sisanya hasil reproduksi foto kiriman siapa saja yang berpartisipasi. Ada karya pasangan pendiri Yayasan Cemeti, Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo; Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta Yogi Zul Fadli; juga sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

Salah satu seniman yang turut andil adalah ilustrator dan kartunis muda Toni Malakian. Pada kertas poster, sosok mirip wajah pimpinan KPK dibuat seperti gladiator bengis. Bersenjatakan serupa gada berduri bertulisan TWK di tangan kanan, ia berlari ke arah gedung KPK. Matanya yang melotot dan mulutnya yang menganga banjir air liur seolah-olah ingin melahap barisan antikorupsi yang berjejer menjaga gedung Merah Putih. Sementara itu, pendukung KPK ini juga berdarah-darah berhadapan dengan aparat yang membubarkannya.

Salah satu karya pada pameran poster bertajuk Berani Jujur Hebat Pecat di Warung Teh Umran (Wikiti) di Sleman, Yogyakarta. Pameran berlangsung pada 1-15 Juni 2021. Tempo/Pito Agustin Rudiana

Di belakang gladiator, sosok berkemeja putih terduduk tak berdaya di kursi singgasana yang dipajang di atas atap gedung DPR. Dia memegang tali kekang yang terlepas dari leher gladiator. Ironisnya, kedua tangannya diikat tali-temali yang dikekang sosok-sosok berkaki jangkung, bercelana perlente, dan bersepatu mengkilap.

Toni, yang cukup produktif membuat ilustrasi maupun karya kartun yang sarat dengan kritik sosial, mengaku tergelitik oleh isu-isu kebijakan yang mengebiri publik.  “Dan pelemahan KPK ini tak serta-merta soal TWK (tes wawasan Kebangsaan). Tapi ada rangkaian dengan isu-isu sebelumnya,” kata Toni saat dihubungi Tempo, Kamis, 3 Juni 2021.

Revisi UU KPK, pengesahan UU Minerba, dan UU Cipta Kerja, menurut dia, memiliki benang merah dengan upaya pelemahan KPK yang berujung pemecatan penyidik-penyidik berintegritas. Apalagi ada praktik-praktik oligarki di dalamnya. “Kemudahan investasi, perizinan, konsesi, itu kan sarat dengan praktik korupsi,” ujar Toni, yang memulai karya dengan membaca media massa untuk memperkuat ide-idenya.

Kartunis yang eksis mengunggah karya-karyanya di media sosial itu langsung merespons TWK dengan menggambar gladiator berpentungan TWK tersebut. Dan setelah mendapat tawaran menggelar pameran poster itu, Toni melengkapinya dengan ilustrasi lain.

Suasana pameran poster bertajuk Berani Jujur Hebat Pecat di Warung Teh Umran (Wikiti) di Sleman, Yogyakarta. Pameran berlangsung pada 1-15 Juni 2021. Tempo/Pito Agustin Rudiana

Seniman lain, Gunawan Maryanto, berkolaborasi dengan perupa Dian Suci Rahmawati. Dian melukis kursi singgasana berwarna hijau lumut. Di atasnya teronggok potongan tulang kaki yang masih menyisakan daging. Tulang kaki itu dibuat berdiri karena diikat tali yang digantung ke atas. Dan singgasana itu membuat citraan bayangan di lantai menyerupai rerupa backhoe alias kendaraan penggusur.

Gunawan kemudian meresponsnya dengan kalimat, "Siapa di sana: satu orang, sedikit orang, banyak orang? Di sini: banyak hilang." “Karya Dian multitafsir, ya. Dan kata-kata yang saya tuliskan bukan untuk menjelaskan, tapi memperkuat,” kata pemeran Wiji Thukul dalam film Istirahatlah Kata-kata itu saat dihubungi Tempo.

Menurut Gunawan, poster itu tak hanya menggambarkan pelemahan KPK, tapi juga di sebaliknya, yaitu kekuasaan. Setidaknya itu tecermin dari kalimat yang tertulis di sana. Frasa “sedikit orang” menggambarkan elite politik, dan “banyak orang” mencerminkan rakyat. “Kekuasaan yang seperti apa? Itu pertanyaan mendasar tentang demokrasi hari ini.”  

Area Warung yang berseberangan dengan luasan sawah di Sleman Utara itu makin semarak dengan 25 poster lain berupa reproduksi foto-foto wajah. Ada wajah jurnalis, aktivis perempuan, seniman, musikus, kurator pameran, arsitek, dan pegiat lembaga bantuan hukum yang ditimpali kata-kata pilihan mereka untuk merespons nasib KPK kini.

Suasana pameran poster bertajuk Berani Jujur Hebat Pecat di Warung Teh Umran (Wikiti) di Sleman, Yogyakarta. Pameran berlangsung pada 1-15 Juni 2021. AJI Yogyakarta.

Tak ada rerupa tersenyum, apalagi tertawa. Kata-kata berhuruf kapital merah yang dibuat pun cenderung galak, kritis, dan satiris. Beberapa kata berakhir dengan tanda baca seru. Simak saja: Iligarki kembali, Presiden biarkan KPK mati suri. Tidak ICW, tidak KPK, tidak pula Polri… koruptor lawan!! KPK tamat di bawah rezim Firli Bahuri!!! TWK hanya akal-akalan, alih status di KPK cara murahan. Ada pula yang satiris, seperti: Lu yang korupsi, kenapa gue yang disuruh nyanyi setiap hari? KPK disikat habis, masak urusanmu seputar kadrun dan cebong, plis deh!

Kurator pameran, Anang Saptoto, mengatakan suara-suara keprihatinan dan kemarahan atas KPK yang bermunculan di Yogyakarta, khususnya akhir-akhir ini, memerlukan wadah bersama. Para seniman dan masyarakat sipil antikorupsi pun berkonsolidasi bersama. “Bagaimana menjahit suara-suara antar-lembaga, individu, biar tak bicara sendiri-sendiri. Karena isu pelemahan KPK adalah isu bersama,” ujar Anang saat pembukaan pameran, 1 Juni 2021 lalu.

Poster pun menjadi jembatan. Dan publik bisa ikut berpartisipasi dengan mengirim visual swafoto mereka. Agar pesan pada poster-poster itu meluas, kata perupa yang juga Direktur Ruang MES 56 Yogyakarta ini, poster-poster itu pun dipamerkan dan diunggah melalui akun-akun media sosial. “Biar menyenangkan dan mudah dipahami orang.”

PITO AGUSTIN RUDIANA

 

Kaleng bercat merah-putih berisi kerupuk itu teronggok pasrah. Satu tangan berkemeja putih panjang yang digulung menjulur bersiap memutar keran air di atas kaleng. "Dibikin mlempem", demikian bunyi tulisan yang menarasikan gambar poster tersebut.

Ada lagi gambar poster seram nan suram berlatar warna merah-hitam. Tiga ekor tikus digambarkan berhasil membobol brankas berisi kantong-kantong rupiah. Di belakangnya, sosok jerangkong hidup berjas dengan

...

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami:

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB