Ketidakbahagiaan akibat Sumber Pendapatan

Penelitian di Eropa mendapati pasangan dengan perempuan sebagai penghasil nafkah tunggal tidak bahagia.

Tempo

Jumat, 21 Juli 2023

Banyak perempuan, setidaknya untuk beberapa waktu, menjadi pencari nafkah hubungan mereka. Perubahan tren pekerjaan dan peran gender memang mempengaruhi banyak rumah tangga. Namun studi telaah sejawat kami yang baru menunjukkan bahwa, untuk pasangan heteroseksual, kesejahteraan mereka cenderung lebih rendah ketika hanya perempuannya yang menjadi pencari nafkah—dibanding jika laki-lakinya yang mencari nafkah atau jika keduanya sama-sama memiliki penghasilan.

Selama lebih dari 14 tahun, data survei sosial Eropa menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan melaporkan kepuasan hidup yang lebih rendah ketika istri atau pasangan perempuan yang menjadi pencari nafkah—dan dalam kondisi ini, laki-lakinya yang merasa paling menderita. Hal ini berlaku bahkan setelah memasukkan pendapatan, sikap terhadap peran gender, dan karakteristik lainnya ke dalam kontrol variabel.

Kami menganalisis tanggapan survei terhadap lebih dari 42 ribu responden usia kerja yang tersebar di sembilan negara. Data kami mengukur kesejahteraan dengan meminta responden memberikan penilaian tentang seberapa puas mereka dengan kehidupan mereka secara keseluruhan saat ini—poinnya dari nol (sangat tidak puas) hingga sepuluh (sangat puas). Mayoritas responden memberikan skor antara lima dan delapan.

Ilustrasi perempuan bekerja untuk keluarga. Shutterstock

“Poin kepuasan hidup” ini memberi kita gambaran tentang perbandingan kesejahteraan di antara kelompok-kelompok yang berbeda. Sebelum memasukkan variabel kontrol, poin kepuasan hidup laki-laki adalah 5,86 ketika perempuannya menjadi satu-satunya pencari nafkah, dan 7,16 ketika laki-lakinya itu yang menjadi satu-satunya pencari nafkah. Untuk perempuan, poin yang sesuai adalah masing-masing 6,33 dan 7,10.

Pasangan-pasangan di Jerman tampaknya yang paling kesulitan menghadapi situasi ketika pencari nafkahnya adalah perempuan, diikuti oleh Inggris, Irlandia, dan Spanyol. Namun masalah ini cukup umum di seluruh Eropa, bahkan di negara yang kesetaraan gendernya lebih tinggi, seperti Finlandia.

Laki-laki Lebih Kesulitan

Dalam rumah tangga yang pencari nafkahnya adalah perempuan, laki-laki tampak lebih sulit bergulat secara mental ketimbang perempuan. Kami menemukan bahwa pencari nafkah perempuan membawa beban psikologis yang berat bagi laki-laki, sehingga mereka lebih suka perempuan yang tidak bekerja sama sekali. Setelah memperhitungkan karakteristik dasar, pendapatan, dan sikap terhadap peran gender, laki-laki yang tidak bekerja melaporkan kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi ketika mereka dan pasangannya sama-sama menganggur.

Melihat pasangan (perempuan) mereka pergi ke kantor (atau bekerja dari rumah) setiap hari dapat membuat laki-laki yang tidak bekerja merasa lebih buruk terhadap diri mereka sendiri. Namun, ketika pasangan mereka berada di “perahu” yang sama dengan mereka, laki-laki pengangguran mungkin malah merasa kekurangan mereka dalam hal pekerjaan bukanlah hal yang “menyimpang”.

Laki-laki yang pasangannya menjadi pencari nafkah melaporkan kesejahteraan terendah saat mereka menganggur daripada saat mereka “tidak aktif” (dalam hal mencari pekerjaan dan/atau melakukan pekerjaan rumah tangga atau tanggung jawab domestik lainnya). Pengangguran sangat lekat dengan “biaya psikologis” yang besar, seperti keraguan diri, ketidakpastian, rasa kesepian, dan stigma. Dalam riset ini, kami tidak menyertakan orang yang tidak aktif atas alasan kesehatan atau disabilitas.

Bahkan, laki-laki yang menganggur lebih suka bertukar tempat dengan pasangan mereka dalam mencari nafkah. Kesejahteraan laki-laki secara signifikan menjadi lebih tinggi saat perempuannya menganggur, sedangkan perempuan melaporkan kesejahteraan yang sama rendahnya saat salah satu di antara mereka ada yang menganggur.

Baca: Survei: Perempuan Lebih Toleran

Ilustrasi seorang suami yang depresi. Shutterstock

Rumah Tangga yang Perempuannya Menjadi Pencari Nafkah

Ada beberapa faktor tertentu yang dapat menyebabkan rendahnya kesejahteraan pasangan yang perempuannya menjadi pencari nafkah. Misalnya pasangan ini memiliki pendapatan rumah tangga rata-rata yang lebih rendah daripada rumah tangga yang keduanya memiliki penghasilan atau yang laki-lakinya menjadi pencari nafkah, dan lebih cenderung merasa “sulit” atau “sangat sulit” untuk mengatasi pendapatan mereka saat ini. Selain itu, lebih banyak laki-laki yang pasangannya menjadi pencari nafkah melaporkan kondisi kesehatan yang “cukup”, “buruk”, atau “sangat buruk” dan mereka lebih kurang secara derajat pendidikan.

Ketika kami mengatur indikator dan karakteristik dasar lainnya (seperti usia dan anak-anak) serta sikap peran gender dan pembagian pendapatan rumah tangga masing-masing pasangan, kesejahteraan perempuan hanya sedikit lebih rendah (-0,048 poin kepuasan hidup) ketika mereka, dan bukan laki-lakinya, yang menjadi satu-satunya pencari nafkah.

Namun, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor ini, kesejahteraan laki-laki masih lebih rendah setengah poin kepuasan hidup (-0,585) ketika perempuannya menjadi satu-satunya pencari nafkah. Di Jerman, perbedaan ini lebih dari satu poin kepuasan hidup penuh (-1,112).

Jadi, meski studi kami menunjukkan karakteristik pasangan yang perempuannya pencari nafkah sebagian besar menunjukkan tingkat kesejahteraan perempuan yang lebih rendah, tidak ada perbedaannya juga dengan tingkat kesejahteraan laki-laki.

Ilustrasi seorang suami yang depresi. Shutterstock

Maskulinitas, Pengangguran, dan Kesejahteraan

Di banyak negara, menjadi pencari nafkah tetap penting bagi rasa harga diri laki-laki. Menafkahi keluarga dianggap sebagai kunci maskulinitas dan indikator untuk menjadi “ayah” yang baik. Ketika peran ini dibalik, pasangan tersebut dapat mengalami “sanksi” sosial, seperti digosipkan, diejek, dan dinilai negatif oleh keluarga, teman, dan orang-orang yang mereka kenal, serta terkena masalah kesehatan mental.

Laki-laki yang menganggur mungkin sangat rentan mengisolasi diri dan merasakan kesepian, karena mereka memiliki kemungkinan lebih kecil dibanding perempuannya untuk bisa masuk ke dalam jejaring sosial yang bisa membantu mereka, seperti jaringan pertemanan yang terbentuk di gerbang sekolah.

Sementara itu, ekspektasi gender tentang ketidakegoisan dapat membuat perempuan melangkah lebih jauh daripada laki-laki dalam menutupi tingkat stresnya dari pasangannya. Ini juga bisa terjadi sebaliknya: ketika laki-laki menganggur, perempuan mungkin lebih peka dan terpengaruh secara negatif oleh penderitaan pasangannya daripada jika peran ini dibalik.

Namun, menjadi pengangguran telah menjadi bagian normal dari siklus kehidupan kerja, termasuk bagi para profesional kelas menengah yang secara tradisional seharusnya lebih terlindungi dari risiko ini. Temuan kami menunjukkan bahwa norma gender mempengaruhi cara pasangan mengatasi fase pengangguran—laki-laki lebih menghargai status pekerjaan mereka daripada pekerjaan pasangan mereka.

Selain itu, tekanan yang dirasakan laki-laki ketika berada dalam situasi dengan perempuannya yang mencari nafkah dapat memicu perempuan untuk menahan diri dari mengambil pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, yang kemudian memperkuat ketidaksetaraan gender dalam pekerjaan, kemajuan karier, dan pendapatan.

Jelas bahwa jalan masih panjang untuk memutuskan keterkaitan antara pencarian nafkah dan maskulinitas. Menantang idealisme “pencari nafkah adalah laki-laki” ini sangat penting agar laki-laki tidak lagi merasa gagal ketika mereka tak mampu memenuhi harapan ini.

---

Artikel ini ditulis oleh Helen Kowalewska, dosen kebijakan sosial di University of Bath, Inggris. Terbit pertama kali di The Conversation.

Berita Lainnya