Implementasi Ekonomi Sirkular untuk Keberlanjutan Industri

Semakin banyak industri dari sektor swasta menerapkan ekonomi sirkular. Inisiatif itu dapat menjadi inspirasi.

Iklan

Kamis, 21 April 2022

Pelaku usaha menyambut baik komitmen pemerintah menerapkan ekonomi sirkular dalam pembangunan. Kini semakin banyak industri yang mengimplementasikannya ke dalam proses bisnis, bahkan sebagian menjalankannya dari hulu hingga hilir.

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebutkan sejumlah contoh baik yang telah dijalankan sektor swasta. Misalnya Sintesa Group yang membatasi penggunaan plastik dan kertas di seluruh kantornya, pusat maupun cabang hingga anak perusahaan. Sedangkan PT Bank Central Asia Tbk memanfaatkan limbah kartu kredit untuk dijadikan paving block yang dipasang di seluruh kantor BCA hingga ke daerah.

“Inisiatif swasta ini patut dicontoh dan menjadi inspirasi. Pemerintah pun sudah menyatakan dalam RPJMN 2020-2024 bahwa ekonomi sirkular menjadi bagian dari prioritas nasional,” kata Amalia saat acara diskusi Road to Tempo Circular Economy Awards dengan tema “Mendorong Industri Hijau melalui Circular Economy” Rabu, 20 April 2022.

Elis Masitoh selaku Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian, menambahkan bahwa ekonomi sirkular telah diterapkan pada berbagai jenis industri. Mulai dari industri semen yang menggunakan bahan bakar alternatif, industri baja dalam beberapa rantai produksi misalnya menggunakan pemulihan panas, industri pupuk dengan penggunaan substitusi sumber panas dalam pengolahannya, dan industri pulp (kertas) dengan memanfaatkan waste water biogas.

Selanjutnya, industri plastik melakukan daur ulang botol plastik dan galon guna ulang menjadi produk baru, dan industri tekstil yang mengubah plastik menjadi serat bahan pembuat tekstil. Bahkan kini muncul daur ulang botol plastik menjadi produk fesyen. Pertambahan nilai dari konsep ekonomi sirkular di industri tekstil ini, kata Elis, mencapai 500 persen.

Keputusan industri yang berbondong-bondong menerapkan ekonomi sirkular, menurut Elis lantaran tren global yang mengarah pada konsep keberlanjutan. Dengan demikian, produk hasil industri yang menjalankan ekonomi sirkular akan lebih diterima oleh pasar internasional. “Dunia global sangat concern pada sustainability. Oleh karena itu, circular economy sangat sesuai dengan hal itu,” ucap Elis.

Pada industri makanan, Ajinomoto menjadi contoh perusahaan yang mempraktikkan ekonomi sirkular dari hulu hingga hilir. “Dalam proses produksi, kami selalu mempertahankan efisiensi produksi dari hulu hinga hilir. Di hulu, kita menekan penggunaan raw material agar memiliki added value. Pada akhirnya proses tersebut menuju ke hilir dan menghasilkan co-product,” ujar Direktur PT Ajinomoto Indonesia, Yudho Koesbandryo.

Produk utama Ajinomoto adalah penyedap rasa Ajinomoto dan Masako. Sedangkan produk sampingannya disebut co-product, yang memanfaatkan limbah atau bahan-bahan tak terpakai dari pengolahan pada produk utama yang akhirnya menghasilkan lini usaha baru. Salah satu co-product yang dihasilkan yakni Amina, pupuk cair untuk sektor pertanian. Ada pula Ajifol semacam nutrisi untuk tanaman.

Wakil Ketua Bidang kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Lucia Karina, terus mendorong pelaku usaha mempraktikkan ekonomi sirkular. Apindo juga memberi perhatian kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar terlibat dalam praktik ini. Antara lain melalui business matching yang diinisiasi Apindo sehingga UMKM dapat memanfaatkan limbah dari industri besar.

Karena itu Lucia mengimbau agar pemerintah memberikan insentif fiskal kepada pelaku usaha yang menerapkan ekonomi sirkular. “Industri menengah perlu insentif dari pemerintah agar mencari business matching ke UMKM. Kalau tidak maka mereka akan mencari di luar. Kalau pemerintah bisa memberikan insentif, saya yakin makin banyak pengusaha yang bersemangat menjalankan ekonomi sirkular,” kata dia. (*)

Berita Lainnya