Tergerus IQ Semasa Pagebluk

Sejumlah penelitian membuktikan virus Covid-19 berdampak terhadap kinerja otak. Bahkan dapat membuat IQ merosot.

Tempo

Selasa, 5 Maret 2024

SEJAK awal masa pandemi, brain fog alias kabut otak menjadi salah satu kondisi kesehatan yang paling umum dirasakan orang setelah terkena Covid-19. Kabut otak merupakan istilah umum untuk menggambarkan kondisi mental yang lesu dan kabur sehingga membuat seseorang sulit berkonsentrasi, mengingat sesuatu, serta berpikir jernih.

Empat tahun berlalu, kini terdapat banyak bukti bahwa infeksi SARS-CoV-2—virus penyebab Covid-19—dapat mempengaruhi kesehatan otak dalam banyak hal. Selain mengakibatkan kabut otak, Covid-19 dapat memicu berbagai masalah, termasuk sakit kepala, gangguan kejang, stroke, masalah tidur, kesemutan dan kelumpuhan saraf, serta beberapa gangguan kesehatan mental.

Semakin banyaknya bukti, yang dikumpulkan selama masa pandemi, merinci bagaimana Covid-19 meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus di otak. Namun alur spesifik yang dilalui virus hingga menyebabkan hal tersebut masih belum diketahui dan pengobatan kuratifnya belum ada.

Saat ini, dua penelitian baru yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menjelaskan lebih lanjut soal dampak besar Covid-19 terhadap kesehatan kognitif.

Saya merupakan seorang ilmuwan kedokteran dan telah mengabdikan diri untuk mempelajari long Covid sejak pasien pertama melaporkan kondisi ini—bahkan sebelum istilah long Covid diciptakan. Saya sudah bersaksi di hadapan Senat Amerika Serikat sebagai saksi ahli mengenai long Covid dan telah menerbitkan banyak publikasi mengenai topik ini. 

Ilustrasi brain fog akibat Covid-19. Shutterstock

Bagaimana Covid-19 Membekas di Otak?

Berikut sejumlah penelitian paling penting sejauh ini yang mendokumentasikan bagaimana Covid-19 mempengaruhi kesehatan otak.

Penurunan Poin IQ

Belakangan, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menilai kemampuan kognitif, seperti memori, perencanaan, dan penalaran spasial, pada hampir 113 ribu orang yang pernah terkena Covid-19. Para peneliti menemukan bahwa mereka yang terinfeksi mengalami penurunan yang signifikan dalam hal memori dan kinerja tugas yang utama.

Penurunan ini terlihat pada mereka yang terinfeksi pada fase awal masa pandemi dan mereka yang terinfeksi ketika varian Delta dan Omicron kian dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa risiko penurunan kognitif tidak berkurang seiring dengan evolusi virus pandemi, dari bentuk pertamanya hingga menjadi Omicron.

Dalam penelitian yang sama, penderita Covid-19 ringan yang kemudian sembuh menunjukkan penurunan kognitif yang setara dengan hilangnya tiga poin IQ. Sebagai perbandingan, pasien dengan gejala berkepanjangan yang belum teratasi, seperti orang yang sesak napas atau kelelahan terus-menerus, mengalami penurunan IQ enam poin. Mereka yang dirawat di unit perawatan intensif karena Covid-19 mengalami penurunan IQ sebesar sembilan poin. Orang yang terinfeksi ulang bisa kehilangan dua poin IQ lebih banyak dibanding yang tidak terinfeksi lagi.

Secara umum, poin rata-rata IQ sebesar 100. IQ di atas 130 menunjukkan individu yang sangat berbakat, sedangkan IQ di bawah 70 biasanya menunjukkan tingkat disabilitas intelektual yang mungkin memerlukan dukungan signifikan.

Sebagai gambaran hasil studi di New England Journal of Medicine, saya memperkirakan penurunan IQ sebesar tiga poin meningkatkan jumlah orang dewasa Amerika dengan IQ kurang dari 70, dari 4,7 juta orang menjadi 7,5 juta orang—ada tambahan 2,8 juta orang dewasa dengan tingkat gangguan kognitif yang memerlukan bantuan.

Studi lain dalam edisi yang sama di New England Journal of Medicine melibatkan lebih dari 100 ribu warga Norwegia pada Maret 2020 hingga April 2023. Penelitian tersebut mendokumentasikan fungsi memori yang lebih parah dalam waktu tertentu hingga 36 bulan setelah tes positif SARS-CoV-2.

 

Warga saat beraktivitas saat peningakatan kasus konfrimasi COVID-19 di Bundaran HI, Jakarta, 2022. TEMPO/M Taufan Rengganis

Mengurai Dampak-dampaknya 

Secara keseluruhan, penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa Covid-19 menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan otak, bahkan dalam kasus-kasus ringan, dan dampaknya kini terungkap pada tingkat populasi.

Analisis terbaru survei populasi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa setelah masa pandemi Covid-19 dimulai, terdapat tambahan 1 juta penduduk usia kerja yang dilaporkan mengalami "masalah serius" dalam hal mengingat, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan dibanding sebelumnya dalam 15 tahun terakhir. Hal yang paling membingungkan, sebagian besar hal itu disebabkan oleh orang dewasa muda atau young adult berusia 18-44 tahun.

Data dari Uni Eropa (UE) menunjukkan tren serupa pada 2022. Sebanyak 15 persen orang di UE melaporkan masalah ingatan dan konsentrasi.

Ke depan, penting untuk mengidentifikasi siapa yang paling berisiko terkena dampak. Diperlukan juga pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana tren ini bisa mempengaruhi capaian pendidikan anak-anak dan dewasa muda, serta produktivitas ekonomi orang dewasa usia kerja. Pengaruh perubahan ini terhadap epidemiologi demensia dan penyakit Alzheimer juga masih belum jelas.

Semakin banyak penelitian yang mengkonfirmasi bahwa Covid-19 harus dianggap sebagai virus yang berdampak signifikan pada otak. Implikasinya sangat luas, dari individu yang mengalami kesulitan kognitif hingga ada kemungkinan dampaknya terhadap populasi dan perekonomian.

Untuk menyingkap selubung penyebab sebenarnya di balik gangguan kognitif ini, termasuk kabut otak, perlu upaya bersama selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun dari para peneliti di seluruh dunia. Dan sayangnya, hampir semua orang menjadi contoh upaya global yang belum pernah terjadi sebelumnya ini.


Artikel ini ditulis oleh Ziyad Al-Aly, Kepala Penelitian dan Pengembangan Sistem Perawatan Kesehatan VA St. Louis sekaligus Ahli Epidemiologi Klinis Universitas Washington di St. Louis. Terbit pertama kali di The Conversation dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Yohanes Paskalis dari Tempo.

Berita Lainnya