Optimasi ChatGPT untuk Perubahan

GenAI adalah alat untuk membantu kita membentuk ide, meningkatkan hasil, dan memanfaatkan waktu untuk hal yang lebih penting.

 

 

Tempo

Rabu, 13 September 2023

Kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) kerap kali lebih banyak dipakai dan dibicarakan untuk urusan bisnis, pendidikan, serta sektor publik atau pemerintah. Masih jarang AI, apalagi Generative Artificial Intelligence (GenAI) yang populer sejak akhir tahun lalu, dibahas untuk urusan sektor pembangunan guna mendorong perubahan sosial.

Survei terbaru Kopernik pada Mei lalu berfokus pada pengetahuan dan pengalaman pekerja sektor pembangunan terkait dengan penggunaan aplikasi GenAI saat ini dan prospek masa depan.

Kami mengumpulkan data dari 121 responden yang bekerja pada sektor pembangunan (sektor sosial) di Indonesia. Dari 121 responden tersebut, mereka adalah pekerja lembaga swadaya masyarakat/LSM (42 persen), social enterprise (30 persen), institusi akademis dan lembaga penelitian (17 persen), lembaga bantuan (7 persen), serta yayasan filantropi (4 persen).

 
Hasilnya menunjukkan 13 persen responden yang mewakili organisasi mereka sangat familier terhadap GenAI. Sekitar 46 persen dari total responden memiliki pengetahuan dasar soal GenAI. Di antara mereka yang memiliki pengetahuan dasar dan cukup baik mengenai GenAI, sebanyak 36 persen melaporkan bahwa mereka sering kali menggunakannya atau setiap hari.

Mereka memberdayakan GenAI seperti ChatGPT untuk riset, pengembangan gagasan, pembuatan konten, perbaikan penulisan, dan penerjemahan. Platform GenAI yang paling populer di kalangan pekerja sektor pembangunan adalah ChatGPT (55 persen), diikuti Bing AI (11 persen).

Seorang wanita menggunakan Chat GPT. PEXELS

Penggunaan Gen AI di Sektor Pembangunan


Sejak akhir 2022, popularitas teknologi GenAI mulai meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Dengan hanya menuliskan sebuah perintah singkat dan spesifik, platform GenAI, seperti ChatGPT atau Firefly, dapat menghasilkan teks, audio, atau visual yang sesuai dengan perintah yang dimasukkan.

Riset kami menunjukkan, meski 67 persen responden memiliki pandangan positif terhadap GenAI dan masa depannya, ada 47 persen responden yang khawatir terhadap potensi isu negatif yang dapat terjadi dari pemanfaatannya. Jenis-jenis kekhawatiran itu, antara lain, terdiri atas ketergantungan yang berlebihan, perubahan lapangan kerja, keandalan dan ketepatan informasi, karya cipta, serta privasi dan keamanan.

Seorang responden mengatakan, “Orang mengandalkan pemikiran mereka dengan GenAI, dan GenAI tidak dimaksudkan untuk tujuan itu. GenAI adalah alat untuk membantu kita dalam membentuk ide, meningkatkan hasil, serta memanfaatkan waktu untuk hal yang lebih penting.”

Selain melakukan survei kuantitatif, kami menindaklanjuti dengan survei kualitatif terhadap beberapa responden guna menemukan informasi lebih dalam terkait dengan contoh-contoh penggunaan GenAI di sektor pembangunan Indonesia.

Salah satu temuannya adalah butuh tingkat keahlian yang berbeda-beda dalam memberikan perintah ke GenAI. Dari pembuatan kerangka e-mail yang mudah hingga perintah visualisasi data yang membutuhkan keahlian lebih tinggi dalam memasukkan perintah atau prompt.

Carmen Van Zyl, CEO PT Live Better Creatives, sebuah perusahaan sosial, misalnya, punya pengalaman menggunakan ChatGPT saat situs web kantornya rusak. Mereka sedang kekurangan staf IT, lalu “memerintahkan” ChatGPT membuat “petunjuk” bagaimana cara memperbaiki halaman web yang bermasalah. “ChatGPT dengan cepat memberikan beberapa solusi yang langsung kami terapkan dan akhirnya dapat memperbaiki isu situs web  kami," ujar Carmen.

Mereka dapat memperbaiki situs web tanpa perlu melibatkan administrator situs.

Perusahaan sosial lainnya juga sedang bereksperimen dengan ChatGPT untuk menghasilkan kode pada R Studio, sebuah perangkat lunak statistik, guna membantu visualisasi data. Sementara itu, perusahaan sosial lainnya menggunakan ChatGPT untuk membantu UMKM dalam membuat promosi produk untuk Lebaran di media sosial.

Contoh lainnya, sebuah organisasi donor menggunakan Dall-E sebagai bagian dari lokakarya tinjauan masa depan ibu kota Indonesia yang baru. Kata kunci yang diperoleh dari diskusi dimasukkan dalam Dall-E untuk menghasilkan gambaran dan aspirasi perihal pengembangan ibu kota yang baru dengan bantuan GenAI.

Seorang wanita menggunakan Chat GPT. Shutterstock

Tantangan


Sebuah riset bertajuk "On the Dangers of Stochastic Parrots: Can Language Models Be Too Big?" menunjukkan bahwa 93 persen dari data training ChatGPT menggunakan bahasa Inggris walau hanya 19 persen dari populasi dunia yang menggunakannya sebagai bahasa ibu atau bahasa kedua. Akibatnya, hasil kerja ChatGPT berpotensi menunjukkan bias terhadap wilayah yang menggunakan bahasa Inggris.

Terlebih lagi, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat memanfaatkan GenAI, seperti akses listrik, akses ke Internet, dan perangkat yang memadai, seperti ponsel pintar. Dengan demikian, dibutuhkan juga keterampilan untuk dapat menggunakan GenAI secara efektif. Keterampilan tersebut akan memudahkan pengguna mengidentifikasi platform GenAI yang sesuai dengan kebutuhan.

Namun kesenjangan digital antara masyarakat perkotaan dan perdesaan masih jelas terlihat. Adanya gap yang signifikan pada literasi dasar digital dapat mengakibatkan aksesibilitas GenAI yang tidak merata di Indonesia.

Mereka yang tidak memenuhi persyaratan ini mungkin akan dirugikan sehingga memperburuk kesenjangan digital yang ada.

Rekomendasi


Untuk dapat menguasai keterampilan menggunakan GenAI, perlu pendekatan penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari yang baik dan benar. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan menggunakan teknologi digital serta meningkatkan literasi dasar digital, baik di perkotaan maupun di perdesaan.

Seiring dengan meningkatnya minat penggunaan GenAI–termasuk pemerintah Indonesia yang telah menerbitkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia 2020-2045, yang merinci penggunaan, manfaat, risiko dan prasyarat penggunaan AI–banyak responden yang menyatakan bahwa GenAI memiliki potensi yang cukup tinggi untuk dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas sektor pembangunan Indonesia.

Sektor pembangunan di Indonesia dapat memanfaatkan sikap proaktif pemerintahan tersebut dengan mulai berfokus pada cara menanggulangi adanya potensi kesenjangan digital yang terjadi akibat kehadiran GenAI.

Salah satu caranya adalah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan penggunaan GenAI yang lebih inklusif, yang menyasar ke berbagai kalangan di kota-desa, perempuan dan laki-laki. Hal ini sangat dibutuhkan agar perkembangan AI yang begitu cepat dapat membantu berbagai kalangan tanpa meninggalkan siapa pun.
 

*) Artikel ini ditulis Hafiza Raisya Indrani, Senior Analyst, Yayasan Kopernik, dan terbit pertama kali di The Conversation

Berita Lainnya