Oppenheimer, Penemu Sekaligus Penentang Bom Nuklir

Melihat dampak bom atom ciptaannya di Hiroshima dan Nagasaki, Oppenheimer menyerukan larangan penggunaan senjata nuklir.

Tempo

Sabtu, 29 Juli 2023

Robert Oppenheimer sering disejajarkan dengan Albert Einstein sebagai fisikawan paling terkenal pada abad ke-20.

Dia akan selamanya menjadi "bapak bom atom" setelah senjata nuklir pertama berhasil diuji coba pada 16 Juli 1945 di gurun Meksiko. Peristiwa itu mengingatkannya pada kata-kata dari kitab suci Hindu: "Sekarang aku telah menjadi maut, penghancur dunia."

Siapakah Robert Oppenheimer?

Lahir pada 1904 di sebuah keluarga kaya asal New York, Oppenheimer lulus dari Harvard jurusan kimia pada 1925.

Dua tahun kemudian, ia menyelesaikan gelar PhD dalam bidang fisika di salah satu institusi terkemuka untuk fisika teoretis, University of Göttingen, Jerman. Saat itu ia berusia 23 tahun dan sangat antusias hingga mengasingkan diri dari orang lain.

Sepanjang hidupnya, Oppenheimer akan dinilai sebagai sosok yang suka menyendiri atau seorang narsistik yang gelisah. Apa pun kontradiksinya sebagai individu, keeksentrikannya tidak membatasi capaian ilmiahnya.

Sebelum pecahnya Perang Dunia II, Oppenheimer bekerja di Universitas California, Berkeley, dan Institut Teknologi California. Penelitiannya terkonsentrasi pada astronomi teoretis, fisika nuklir, dan teori medan kuantum.

Meskipun mengaku tidak tertarik pada politik, Oppenheimer secara terbuka mendukung ide-ide progresif secara sosial. Dia prihatin akan munculnya antisemitisme dan fasisme. Pasangannya, Kitty Puening, adalah seorang radikal kiri dan lingkaran sosial mereka termasuk anggota serta aktivis Partai Komunis. Kelak, pergaulan ini akan menandai dia sebagai simpatisan komunis.

Sebagai seorang peneliti, Oppenheimer menerbitkan dan mengawasi generasi baru mahasiswa doktoral. Salah satunya adalah Willis Lamb, yang pada 1955 dianugerahi Hadiah Nobel dalam bidang fisika. Hadiah Nobel gagal diraih Oppenheimer sebanyak tiga kali.

Baca: Oppenheimer, Nuklir Rusia, dan Kecemasan Warga

Perang Dunia Kedua

Dua tahun setelah Jerman dan Soviet Rusia menyerang Polandia, Amerika Serikat memasuki Perang Dunia II. Oppenheimer direkrut untuk mengerjakan Proyek Manhattan yang terkenal itu. Gagasannya tentang reaksi berantai dalam bom atom mendapat pengakuan di kalangan komunitas pertahanan Amerika. Dia memulai pekerjaannya dengan mengumpulkan tim ahli. Beberapa di antaranya adalah murid-muridnya.

Julius Robert Oppenheimer (kiri) sebelum uji coba Trinity. Dok nuclearmuseum.org

Pada 1943, terlepas dari pandangan politiknya yang beraliran kiri, serta rekam jejaknya yang tidak memiliki karier yang terkenal dan tak memiliki pengalaman mengelola proyek-proyek yang kompleks, Oppenheimer ditunjuk sebagai direktur Laboratorium Nasional Los Alamos di New Mexico. Dia sangat antusias. Ia tampaknya memiliki, "Cadangan kekuatan yang tidak terikat," fisikawan Isidor Isaac Rabi mengenang. Tugasnya adalah mengembangkan senjata atom.

Laboratorium Los Alamos berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kompleksitas proyek, dengan jumlah personel melebihi 6.000 orang. Kemampuannya untuk menguasai tenaga kerja berskala besar dan menyalurkan energi mereka untuk kebutuhan proyek membuatnya dihormati.

Dia terbukti lebih dari sekadar administrator dengan terlibat dalam tim interdisipliner di seluruh tahap teoretis dan eksperimental pengembangan senjata.

Uji Coba Nuklir

Pada 16 Juli 1945, uji coba nuklir dengan nama sandi Trinity berlangsung.

Bom atom pertama berhasil diledakkan pada pukul 05.29 di Gurun Jornada del Muerto. Seperti yang diceritakan asisten utamanya, Thomas Farrell:

"Muncullah semburan cahaya yang luar biasa, diikuti dengan suara gemuruh ledakan yang dahsyat."

Oppenheimer kemudian mengingat bahwa "beberapa orang tertawa, beberapa orang menangis, sebagian besar orang terdiam". Yang dia tahu pasti adalah dunia tidak akan sama lagi.

Sudah terlambat bagi bom atom untuk digunakan melawan Jerman dalam perang—Nazi menyerah pada 8 Mei. Sebagai gantinya, Presiden Amerika Serikat Harry Truman memutuskan menggunakan bom tersebut untuk melawan sekutu Jerman, Jepang.

Tak lama setelah bom atom dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada Agustus 1945, Oppenheimer berhadapan dengan menteri perang Amerika, Henry Stimson, menuntut agar senjata nuklir dilarang.

Demikian pula, ketika berbicara dengan Truman, Oppenheimer berbicara tentang perasaannya pada nyawa yang hilang oleh tangannya. Truman menolak ledakan emosi Oppenheimer itu. Tanggung jawab atas penggunaan bom atom, bagaimanapun juga, berada di tangan panglima tertinggi (dirinya sendiri).

Sanggahan Truman itu tidak menghalangi Oppenheimer mengadvokasi pembentukan kontrol pada persaingan senjata nuklir.

Jenderal Leslie R. Groves (kanan) dan Julius Robert Oppenheimer setelah tes Trinity berhasil. Dok nuclearmuseum.org

Kontrol Senjata

Pada tahun-tahun pascaperang, Oppenheimer menetap di Princeton, New Jersey, di Institute for Advanced Study. Dia banyak membaca. Ia mengoleksi karya seni dan furnitur. Dia belajar bahasa. Posisinya yang bergaji tinggi memungkinkannya mengejar pemahaman yang lebih dalam tentang kemanusiaan melalui pemeriksaan kitab-kitab kuno. Ia memperjuangkan kesatuan tujuan antara ilmu pengetahuan dan humaniora.

Dukungan Oppenheimer membantu dan mendorong para ilmuwan lain dalam penelitian mereka. Namun perhatian utamanya adalah persaingan senjata yang tidak dapat dihindari. Dia menganjurkan pembentukan badan internasional yang akan mengontrol pengembangan energi nuklir dan penggunaannya.

Pada 1947, sebuah badan sipil bernama Komisi Energi Atom mulai bekerja. Oppenheimer mendesak dengan kuat agar ada kontrol senjata internasional.

Uji coba bom atom pertama Uni Soviet pada Agustus 1949 mengejutkan Amerika dan mendorong para peneliti Amerika mengembangkan bom hidrogen. Pemerintah Amerika memperkuat posisinya. Pada 1952, Truman menolak menunjuk kembali Oppenheimer sebagai penasihat Komisi Energi Atom.

Setelah 1952, advokasi Oppenheimer terhadap uji coba pertama bom hidrogen mengakibatkan penangguhan izin keamanannya. Penyelidikan yang dilakukan pada 1954 mengungkap hubungan komunis Oppenheimer di masa lalu dan berujung pencabutan izin keamanannya.

McCarthyisme dan Kebebasan Akademik

Pada era perburuan penyihir Joseph McCarthy, rekan-rekan ilmuwannya menganggap Oppenheimer sebagai martir kebebasan akademik. "Di Inggris," demikian komentar Wernher von Braun, mantan Nazi yang menjadi perintis teknologi roket Amerika, "Oppenheimer akan dianugerahi gelar kebangsawanan."

Setelah 1954, Oppenheimer tidak berhenti menyuarakan kebebasan dalam mengejar pengetahuan. Dia melakukan tur internasional dengan ceramah-ceramah tentang peran kebebasan akademis yang tidak terkekang oleh pertimbangan politik. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan humaniora bukanlah upaya manusia yang terpisah, melainkan saling terkait dan tak terpisahkan.

Oppenheimer meninggal di usia 62 tahun pada 18 Februari 1967.

---

Artikel ini ditulis oleh Darius von Guttner Sporzynski, sejarawan Australian Catholic University. Terbit pertama kali di The Conversation.

Berita Lainnya