Berkebaya hijau muda dan berkain batik, perempuan langsing itu memperkenalkan diri. "Namaku Raden Ayu Lasminingrat. Kalian bisa memanggilku Lasmi," kata Maudy Koesnaedi dengan lembut. Tokoh Zaenab dalam tayangan Si Doel Anak Sekolahan itu berperan sebagai perempuan menak di Garut yang kemudian bermukim di Sumedang.
Putri ulama Raden Muhamad Musa itu tergolong sosok terpelajar pada pertengahan abad ke-19. Dari teman ayahnya, yaitu Karel Federick Holle, seorang juragan perkebunan teh Waspada di Garut, ia mendapat banyak buku cerita berbahasa Belanda. Kelak ia menerjemahkan buku cerita itu dan menyadurnya ke bahasa Sunda untuk bacaan anak dengan judul Tjarita Erman.
Lasmi tergerak membuat warga melek aksara. Tapi sekolah milik ayahnya di dekat Alun-alun Garut yang dibuka gratis sepi peminat. Warga mengecapnya sebagai sekolah kafir. Mereka bilang seorang ulama semestinya membuat pesantren, bukan pendidikan gaya Barat.
Lasmi maklum. Mereka tidak ingin menjadi seperti penjajah yang keji dan menindas. "Siapa yang mau belajar ilmu yang kelak membuat mereka berlaku keji dan merugikan orang lain? Ilmu-ilmu Barat itu pun kemudian mereka namai sebagai ilmu kafir."
Maudy berbagi ruang panggung yang ditata sederhana dengan balok-balok kayu, pintu, kursi, dan meja. Dalam pementasan tiga monolog berjudul Wanodja Soenda atau perempuan Sunda itu, ikut berakting Sita Nursanti, anggota grup biduan Rida Sita Dewi, sebagai Raden Dewi Sartika. Sementara itu, anggota DPR, Rieke Diah Pitaloka, memerankan Raden Emma Poeradiredja. Pergantian pemainnya diselingi oleh Inayah Wahid yang menjadi narator.
Lodge Foundation bersama Mainteater Bandung menggelar pementasan selama 90 menit itu di Ballroom Hotel Savoy Homann, Bandung, Rabu, 29 Januari lalu. Penulis naskah monolog dan narasinya adalah Endah Dinda Jenura, Wida Waridah, Zulfa Nasrulloh, dan Faisal Syahreza. Sutradara Wawan Sofwan mengatakan ide pementasan monolog itu muncul pada Oktober tahun lalu setelah bertemu dengan Heni Smith, pendiri Lodge Foundation.
Monolog ini, kata Heni Smith, merupakan seni budaya heritage Sunda yang harus diwariskan ke generasi berikutnya. "Bukan sekedar monolog dan perempuan, tapi juga heritage yang harus dijaga dan diteruskan," kata dia setelah gladi resik, Selasa lalu.
Lasminingrat dijadikan sebagai tokoh awal pergerakan wanita di Sunda. Kerabatnya, yaitu Dewi Sartika di Bandung, dan Emma Poeradiredja mewakili tokoh muda pergerakan masa kemerdekaan Indonesia. "Saya pikir tokoh itu bisa menggambarkan posisi wanita Sunda pada saat perjuangan dulu," ujar Wawan.
Lasminingrat merupakan kelahiran Garut pada 1843 dan wafat pada 1948; Dewi Sartika lahir di Cicalengka pada 1884 dan wafat pada 1947. Adapun Emma Poeradiredja merupakan kelahiran Bandung pada 1902 dan wafat pada 1976. Semula pementasan ini akan digelar pada Desember 2019, berkaitan dengan hari lahir Dewi Sartika pada 4 Desember, tapi diundur.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan anak-anak perempuan milenial harus paham bahwa ada sejarah-sejarah luar biasa yang datang dari Tatar Sunda. "Yang diajarkan di sekolah-sekolah kebanyakan siapa, tapi bukan pemikirannya," ujar dia seusai pertunjukan. Pemikiran, kegelisahan, dan pergulatan para tokoh dinilai penting. ANWAR SISWADI
Cerita Tiga Wanita Ningrat Sunda