maaf email atau password anda salah


Membedah Fenomena Tiket Konser dengan Ilmu Ekonomi

Fenomena "war" tiket konser kian menggila. Mengapa hukum permintaan-penawaran tak berlaku? Bedah kasus konser Taylor Swift.

arsip tempo : 171888538422.

Warga membawa album Taylor Swift, saat antrean untuk membeli tiket konser Taylor Swift, 7 Juli 2023. REUTERS/Edgar Su. tempo : 171888538422.

Gairah, antisipasi, frustrasi, dan kekecewaan. Setiap kali tiket tur Taylor Swift dijual, selalu saja ada “bad blood” atau perseteruan.

Penjualan tiket untuk tur Swift di Australia, tempat saya mengajar, misalnya, sejauh ini lebih mulus dibandingkan dengan di Amerika Serikat yang sudah semacam bencana—sampai-sampai melahirkan tuntutan untuk memperkuat regulasi pertiketan di AS. Meski begitu, tetap saja ratusan ribu—bahkan mungkin jutaan—“Swifties” (sebutan untuk fan Swift) di Australia berpotensi gagal mengamankan tiket atau harus membayar ratusan atau ribuan dolar lebih mahal daripada harga aslinya.

Hal ini merupakan buah dari keunikan industri tiket konser, yang turut diperkuat oleh Taylor Swift sendiri sebagai sebuah fenomena budaya.

Lebih dari 1 juta orang dikabarkan mendaftar untuk mendapatkan kode presale (pra-penjualan) dalam kurun 12 jam setelah tanggal konser di Australia diumumkan. Ketika tiket mulai dijual pada Rabu, 28 Juni 2023, lebih dari 4 juta orang dikabarkan antre.

Namun hanya tersedia tak lebih dari 450 ribu tiket untuk total lima pertunjukan konser Taylor Swift di Australia (tiga di Accor Stadium, Sydney; dan dua di Melbourne Cricket Ground, Melbourne). Hitung-hitungannya sederhana. Mayoritas orang yang menginginkan tiket tak akan kebagian. Namun perhitungan secara ilmu ekonomi perihal skenario ini sedikit lebih rumit.

Warga berburu tiket konser grup musik asal Inggris Coldplay dalam presale BCA di salah satu warnet di Kemanggisan Raya, Palmerah, Jakarta, 17 Mei 2023. TEMPO/Nita Dian

Penawaran dan Permintaan

Umumnya, ketika permintaan melebihi pasokan—untuk memaksimalkan keuntungan—pemasok akan melakukan dua hal: menambah suplai atau menaikkan harga. Namun, dibanding sektor lain, penyelenggara konser memiliki lebih sedikit kapasitas untuk merespons sinyal-sinyal permintaan.

Untuk tur Taylor Swift di AS, sebanyak 17 konser ditambahkan dari rencana awal yang sejumlah 35 pertunjukan. Namun, mengingat begitu kolosalnya tur Swift, dengan lebih dari 100 konser di 18 negara, pertambahan jumlah konser menjadi rumit secara logistik.

Tampaknya, hal inilah yang menyebabkan Brisbane tak kebagian jatah konser Swift. Meskipun manajemen Stadion Lang Park di kota itu (kapasitas 52.500) dilaporkan telah mengamankan sejumlah tanggal demi tur tersebut, penyelenggara menganggapnya tidak praktis, mengingat tur Australia “terjepit” antara jadwal di Jepang dan Singapura.

Bahkan, tanpa masalah logistik seperti ini, dengan lokasi dan infrastruktur yang tersedia, mencocokkan penawaran dan permintaan bukanlah ilmu pasti. Penyelenggara tentunya akan lebih memilih pertunjukan yang tiketnya terjual habis dan ingin menghindari risiko mengadakan konser di auditorium yang separuhnya kosong.

Menetapkan Harga Tiket

Ketika permintaan melampaui penawaran, ekonom mengatakan, cara untuk menekan permintaan dan mencapai keseimbangan pasar adalah menaikkan harga. Penyelenggara konser musik pun hingga batas tertentu melakukan hal ini dengan menetapkan kisaran harga tiket yang bervariasi.

Untuk sebagian besar tiket Sydney dan Melbourne, ada tujuh jenis tiket dengan rentang harga yang berbeda. Mulai dari Aus$ 79,90 atau sekitar Rp 800 ribu (untuk kursi “baris belakang”) hingga Aus$ 379,90 atau sekitar Rp 3,8 juta untuk kursi “A Reserve” di depan panggung. Ada juga paket VIP, dari Aus$ 349,90 atau sekitar Rp 3,5 juta (untuk tiket di bagian lain seharga Aus$ 159,90 atau setara dengan Rp 1,6 juta, plus merchandise) hingga Aus$ 1.250 atau setara dengan Rp 12,55 juta untuk paket “It’s Been A Long Time Coming” (yang berarti kursi “A Reserve” plus merchandise).

Penyelenggara bisa saja menaikkan harga-harga ini dan tiket masih akan terjual habis. Menurut survei oleh perusahaan konsultan AS, 45 persen penggemar Swift adalah milenial dan hanya 11 persen Gen Z, yang berusia kurang dari 24 tahun. Namun artis umumnya enggan terlihat menguras uang para penggemarnya dan fan mereka yang paling setia dan loyal belum tentu mampu membayar paling banyak untuk membeli tiket yang harganya mahal.

Harga Dinamis

Penjual tiket seperti Ticketmaster juga telah bereksperimen dengan memaksimalkan yang disebut “efisiensi pengalokasian” (dan juga keuntungan) melalui “dynamic pricing”—penetapan harga yang dinamis, yakni dengan mengenakan harga yang lebih mahal saat permintaan sedang tinggi. Ini mirip bagaimana biaya tiket maskapai penerbangan atau taksi daring Uber berfluktuasi sesuai dengan jumlah permintaan.

Namun, Ticketmaster mengatakan bahwa mereka hanya menggunakan harga dinamis jika artisnya sepakat—dan ada alasan bagus di balik hal ini.

Musikus rock Bruce Springsteen, misalnya, mengizinkan 11 persen tiket turnya pada 2023 dijual dengan cara seperti ini. Munculnya berita perihal harga tiket “kursi platinum” yang dibanderol hingga US$ 4.000 (Rp 60,59 juta) kemudian memancing kemarahan penggemar (walaupun Ticketmaster mengatakan bahwa harga rata-rata tiketnya adalah US$ 262 atau sekitar hampir Rp 4 juta). Fanzine Backstreets, majalah besutan penggemar yang khusus membahas Springsteen, mengumumkan bahwa mereka akan menutup operasinya setelah 43 tahun karena kecewa dengan harga tiket. Christopher Phillips, penerbit dan editor Fanzine Backstreets, menyatakan:

"Konser-konser ini adalah pertunjukan yang harga tiketnya sulit terjangkau; yang banyak di antara pembaca kita tak mampu membeli; dan sebagai akibatnya, banyak pembaca kita yang kehilangan minat."

Penggemar Taylor Swift mungkin saja lebih toleran. Swift telah mengizinkan penggunaan dynamic pricing sejak paling tidak 2018. Namun tak ada tiket yang dijual menggunakan skema ini untuk konser di Australia.

Orang-orang mengantre untuk tiket konser Taylor Swift, 6 Juli 2023. REUTERS/Edgar Su

Masuknya Calo

Akibat permintaan yang jauh melebihi penawaran dan keengganan artis untuk menetapkan harga semahal mungkin, peluang untuk menjual kembali tiket dengan harga lebih tinggi pun tercipta.

Ekonom menyebutnya sebagai “pasar sekunder”, dan melihatnya sebagai tanda bahwa produk atau layanan telah kekurangan pasokan atau harganya terlalu rendah (atau keduanya). Hal ini kerap disebut sebagai “ticket scalping” atau “ticket touting” (percaloan), dan dikecam sebagai tindakan yang oportunistis dan tak etis.

Setelah muncul laporan bahwa tiket yang ditawarkan secara eksklusif kepada pelanggan American Express dijual kembali seharga hingga Aus$ 3.000 atau sekitar Rp 30 juta, pemerintah Negara Bagian Victoria menyatakan bahwa dua pertunjukan Swift di Melbourne sebagai “peristiwa besar” untuk kemudian memicu undang-undang yang melarang penjualan kembali tiket lebih dari 110 persen dari harga pembelian. (New South Wales memiliki undang-undang yang berlaku untuk semua tiket sejak 2018.)

Namun, kemunculan ticket bot, yang dapat membanjiri situs web penjualan tiket dengan jutaan permintaan, dan kehadiran pasar daring yang memungkinkan anonimitas penjual, membuat para calo semakin sulit dibendung. (Ticketmaster menyalahkan bot calo saat situs AS miliknya tak dapat dibuka pada November.)

Upaya perusahaan tiket untuk memberantas calo termasuk dengan membatasi jumlah tiket yang dapat dibeli dalam satu waktu. Mereka juga mengharuskan pembeli memverifikasi identitas mereka ketika membeli tiket dan menghadiri pertunjukan. Perusahaan-perusahaan ini juga membuat platform “dari penggemar untuk penggemar” khusus untuk penjualan tangan kedua, mengakui bahwa ada alasan-alasan yang masuk akal kenapa penggemar ingin menjual kembali tiket yang sudah mereka beli.

Swifties yang ingin melepas tiket tur Australia mereka, misalnya, dapat menggunakan platform yang disediakan oleh Ticketek (perusahaan tiket asal Australia)—tapi harganya tak boleh lebih dari 110 persen dari harga asli.

Sementara itu, rock band Rage Against The Machine berupaya memerangi calo dengan sistem harga dinamis mereka sendiri. Ini termasuk menahan 10 persen dari tiket pertunjukan, yang kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi tapi tetap di bawah harga calo. Keuntungan tambahannya disalurkan ke “organisasi amal dan/atau aktivisme”. Band tersebut berpendapat bahwa cara ini berhasil mengurangi calo sebesar 85 persen dan mengumpulkan jutaan dolar untuk amal. Di sisi lain, penyanyi Amerika, Maggie Rogers, menggunakan cara analog, yaitu tidak menawarkan presale sama sekali dan langsung menjual tiket di loket.

Namun strategi ini tidak akan membantu mengatasi hukum besi perihal penawaran dan permintaan para penggemar Taylor Swift. Mereka hanya bisa berharap “karma” ada di pihak mereka.

---

Artikel ini ditulis oleh Paul Crosby, dosen senior ekonomi di Macquarie University, Sydney, Australia. Terbit pertama kali di The Conversation.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 20 Juni 2024

  • 19 Juni 2024

  • 18 Juni 2024

  • 16 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan