maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Keanekaragaman Hayati Modal Bangsa

Rabu, 18 Desember 2013

Fachruddin Mangunjaya,
Dosen Universitas Nasional

Hingga beberapa dekade terakhir, Indonesia sangat menggantungkan hasil-hasil alam yang kebanyakan bertumpu pada mineral dan hutan alam. Kini, apakah bangsa ini mempunyai skenario lain untuk memanen hasil bila sumber daya tersebut telah habis terkuras? Tidak dapat dimungkiri bahwa bagi bangsa Indonesia sesungguhnya keanekaragaman hayati (kehati) bukanlah sesuatu yang asing karena sebagian besar dari kegiatan pokok dan kebutuhan penduduk semuanya bergantung pada keutuhan dan pemanfaatan kehati.

Manfaat kehati biasanya terkemas dalam keanekaragaman kehidupan, baik pada tingkatan ekosistem yang terdiri atas aktivitas kompleks makhluk hidup yang berinteraksi, yang menciptakan sistem yang seimbang dan harmonis, maupun pada keunikan populasi ataupun individu dari berbagai spesies dan genetik yang memunculkan peran masing-masing. Kawasan pertanian dan perkebunan sangat bergantung pada apa yang disebut dengan jasa ekosistem (ecosystem services), yaitu pelayanan yang dilakukan ekosistem untuk menghasilkan jasa berupa produk yang tidak tergantikan oleh tangan manusia. Misalnya penyangga abrasi (pantai), mencegah timbulnya erosi, regulasi iklim, penyerap karbon, pemurnian air supaya menjadi bersih, habitat satwa dan penyedia biji-bijian, serta produk kayu dan bukan kayu.

Fachruddin Mangunjaya,
Dosen Universitas Nasional

Hingga beberapa dekade terakhir, Indonesia sangat menggantungkan hasil-hasil alam yang kebanyakan bertumpu pada mineral dan hutan alam. Kini, apakah bangsa ini mempunyai skenario lain untuk memanen hasil bila sumber daya tersebut telah habis terkuras? Tidak dapat dimungkiri bahwa bagi bangsa Indonesia sesungguhnya keanekaragaman hayati (kehati) bukanlah sesuatu yang asing karena sebagian besar d

...

Silahkan berlangganan untuk membaca keselurahan artikel ini.

Mulai dari

Rp. 15.900*/Minggu

Akses tak terbatas di situs web dan mobile Tempo

Aplikasi Tempo Media di Android dan iPhone

Podcast, video dokumenter dan newsletter

Arsip semua berita Majalah Tempo sejak terbit 1971 dan Koran Tempo sejak edisi perdana 2001

Register di sini untuk mendapatkan 2 artikel premium gratis. Jika sudah berlangganan, silakan login

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 4 Juli 2022

  • 3 Juli 2022

  • 2 Juli 2022

  • 1 Juli 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan