maaf email atau password anda salah


Meredam Emisi Karbon Penambangan Nikel

Sekelompok ilmuwan dari UNSW, Australia, menghitung tingginya emisi karbon dari pengolahan nikel. Bagaimana cara meredamnya?

arsip tempo : 171866636830.

Aktivitas eksplorasi areal pertambangan ore untuk nikel yang berada di Pomala, Kolaka, Sulawesi Tenggara. TEMPO/Iqbal Lubis. tempo : 171866636830.

Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral kritis yang berlimpah, seperti nikel, tembaga, dan aluminium. Salah satu mineral unggulan Indonesia adalah nikel, dengan jumlah cadangan bijih (potensi mineral mentah yang terbukti, tapi belum ditambang) mencapai 3,5 miliar ton.

Jika dieksploitasi dan dikelola secara tepat, kekayaan ini dapat menyokong upaya peralihan energi fosil ke energi terbarukan di Indonesia. Pasalnya, teknologi energi terbarukan, seperti panel surya, jaringan listrik raksasa (supergrid), dan kendaraan listrik, membutuhkan mineral kritis dalam jumlah sangat besar.

Sebagai contoh, penggantian satu kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik umumnya akan meningkatkan penggunaan mineral kritis setidaknya enam kali lipat. Sayangnya, praktik pertambangan ataupun pengolahan mineral masih memunculkan emisi yang berisiko mengotori atmosfer.

Misalnya, produksi 1 kilogram nikel pada umumnya menghasilkan emisi gas rumah kaca sekitar 13 kg karbon dioksida (CO2). Jika kebutuhan nikel untuk baterai kendaraan listrik di Indonesia sebesar 59,5 ribu ton pada 2035, jejak emisi CO2 dari komponen nikel saja bisa mencapai 773 ribu ton.

Selain menghasilkan emisi, perolehan barang tambang masih mengandalkan eksploitasi masif. Penerapan ekonomi sirkular untuk pemakaian mineral kritis daur ulang pada industri energi terbarukan masih terbatas.

Baca: Indonesia Atur Strategi Soal Nikel

Sebagai salah satu sektor penyokong utama transisi energi di Indonesia, sektor pertambangan perlu berbenah dan lebih memperhatikan aspek lingkungan. Setidaknya terdapat tiga strategi yang dapat diterapkan untuk mencapai pertambangan mineral kritis yang berkelanjutan.

Suasana aktivitas pengolahan pengolahan nikel di Sorowako, Provinsi Sulawesi Selatan. REUTERS/Yusuf Ahmad

1. Peningkatan Efisiensi Energi

Efisiensi energi dalam aktivitas penambangan hingga pengolahan mineral dapat berkontribusi menekan emisi gas rumah kaca secara signifikan.

Dalam tahap pengolahan, efisiensi energi dalam proses penggilingan bijih sangat diperlukan. Sebab, proses penggilingan mengkonsumsi energi sangat besar, setidaknya 40 persen dari total penggunaan energi dalam daur produksi mineral kritis.

Efisiensi energi dapat dicapai melalui penggunaan mesin penggiling yang efisien serta kontrol parameter proses untuk mencapai penggilingan yang optimal. Contohnya, penggunaan sirkuit bertekanan tinggi high-pressure grinding roll (HPGR) mengefisienkan energi proses penggilingan hingga 80 persen. Metode HPGR diklaim dua kali lipat lebih efisien dibanding penggilingan menggunakan mesin semi-autogenous grinding (SAG) yang saat ini marak digunakan.

Sementara itu, dalam tahap pertambangan, elektrifikasi alat berat tambang dapat menjadi strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Tingkat efisiensi energinya mencapai 95 persen dibanding alat berat bermesin diesel.

Saat ini, berbagai perusahaan alat tambang terkemuka dunia telah mengembangkan alat berat tambang berbasis listrik. Produsen alat berat asal Amerika Serikat, Caterpillar, turut memasok alat berat berbasis listrik yang digunakan Rio Tinto (penambang besar asal Australia) untuk tambang besi Gudai-Darri di Australia Barat.

Dengan semakin berkembangnya teknologi alat berat berbasis listrik di dunia, sektor pertambangan Indonesia sudah seharusnya mengalokasikan dana untuk program elektrifikasi peralatan tambang.

Sejumlah turbin kincir angin di wilayah pembangunan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Tempo/Iqbal Lubis

2. Integrasi Energi Terbarukan

Integrasi energi terbarukan secara langsung di kawasan pertambangan dan pengolahan mineral juga penting. Konsultan manajemen terkemuka, McKinsey, menyatakan penggunaan energi terbarukan dibanding batu bara di sektor pertambangan berpotensi memangkas emisi gas rumah kaca hingga 80 persen.

Pengembangan sistem pembangkit listrik tenaga surya microgrid (terpusat dalam kawasan pertambangan) dapat menjadi solusi utama. Peluang ini terbuka, mengingat biaya panel surya yang semakin murah dan tingginya potensi energi surya di Indonesia.

Penggunaan energi terbarukan di sektor pertambangan Indonesia sudah dimulai. Sebagai contoh, perusahaan tambang Nickel Industries Ltd yang berbasis di Australia menyepakati pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di kawasan industri pengolahan nikel PT Indonesia Morowali Industrial Park.

Alternatif lainnya adalah penggunaan hidrogen hijau untuk peralatan tambang ataupun proses pengolahan mineral yang tidak memungkinkan untuk dielektrifikasi secara langsung. Hidrogen hijau diperoleh dari proses elektrolisis alias "menyetrum" air dari listrik energi terbarukan.

Penggunaan hidrogen sudah dimulai perusahaan tambang asal Inggris, Anglo American, untuk operasi truk tambang platinumnya di Afrika Selatan.

Selain untuk menyalakan kendaraan, hidrogen hijau dapat berperan dalam dekarbonisasi proses peleburan bijih logam. Penggunaan hidrogen hijau untuk mengolah bijih besi menjadi produk baja terbukti mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 95 persen dibanding proses konvensional menggunakan batu bara. Baja adalah komponen penting berbagai teknologi energi terbarukan, misalnya turbin angin.

Petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta membawa sampah elektronik milik warga di kawasan Mangga Besar, Jakarta. Tempo/Tony Hartawan

3. Daur Ulang Mineral yang Efisien dan Ramah Lingkungan

Daur ulang mineral kritis dari limbah elektronik adalah langkah yang tidak kalah penting agar industri pertambangan tidak melulu berfokus pada eksploitasi.

Limbah elektronik sudah sepatutnya dipandang sebagai sumber daya logam, sama seperti mineral yang ditambang di bawah tanah. Limbah dapat digunakan kembali sebagai bahan baku produksi teknologi energi terbarukan.

Pada 2021, Indonesia menghasilkan sekitar 2 juta ton limbah elektronik, yang berasal dari komputer dan ponsel rusak terbanyak di Asia Tenggara.

Dalam limbah elektronik tersebut, terdapat berbagai logam berharga yang bisa dimanfaatkan kembali melalui daur ulang. Misalnya, 1 ton limbah ponsel setidaknya mengandung 317,5 gram emas, 2,84 kg perak, dan 156 kg tembaga.

Secara ekonomi, pemulihan logam dari limbah elektronik dinilai menguntungkan karena biaya dan ongkos sosialnya diperkirakan lebih rendah dibanding penambangan mineral dari bawah tanah. Namun proses daur ulang harus efisien dan ramah lingkungan untuk memastikan dampak yang seminimal mungkin pada lingkungan.

Hal ini menjadi tantangan besar. "Penambangan" elemen berharga dari limbah elektronik yang terdiri atas campuran berbagai komponen yang kompleks dan berbahaya sangat rumit. Pengembangan proses pemulihan komponen logam dari limbah elektronik perlu mempertimbangkan aspek efisiensi energi, emisi gas rumah kaca, dan lingkungan.

Proses daur ulang ini harus memiliki efisiensi energi yang tinggi dan tingkat emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibanding proses produksi dari mineral bawah tanah agar berdampak positif pada lingkungan. Selain itu, pihak pengolah harus mencegah pencemaran bahan berbahaya dan beracun, seperti logam berat, polivinil klorida (PVC), dan bifenil poliklorinasi (PCB) dalam proses daur ulang.

Pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan strategi daur ulang untuk meredam risiko lingkungan dari ekspansi pertambangan mineral kritis untuk infrastruktur energi terbarukan. Selain mengundang perusahaan tambang, pemerintah dapat mengajak perusahaan daur ulang berpengalaman untuk beroperasi di Tanah Air.

Dengan mengimplementasikan setidaknya tiga strategi tersebut, Indonesia berpeluang mencapai praktik pertambangan mineral kritis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penerapan program dekarbonisasi serta ekonomi sirkular pada sektor pertambangan merupakan langkah krusial untuk menopang upaya transisi energi nasional.

---

Artikel ini ditulis oleh Denny Gunawan, Ibnu Rusydi, dan Putra H.A. Gani, pakar teknik pertambangan dari University of New South Wales, Sydney. Terbit pertama kali di The Conversation.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 18 Juni 2024

  • 16 Juni 2024

  • 15 Juni 2024

  • 14 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan