maaf email atau password anda salah


Film sebagai Diplomasi Kebudayaan

Film adalah media cerita mutakhir yang menggabungkan berbagai unsur kesenian di dalamnya.

arsip tempo : 171838056055.

Penyelenggaraan SEAScreen di Makassar 22 - 25 Mei 2024, sebagai salah satu bentuk diplomasi budaya melalui film yang melibatkan sejumlah sineas di Asia Tenggara. tempo : 171838056055.

Film adalah salah satu media bercerita paling populer di dunia. Budayawan dan pengamat film Dr. Salim Said (1945-2024) dalam bukunya Shadows on the Silver Screen (Lontar,1991) mengungkapkan bahwa konsep penciptaan film Indonesia sejak film mulai diproduksi di Indonesia oleh para pendatang Tionghoa dan Belanda sejak tahun 1926.

Sejarah perfilman nasional dimulai saat beberapa tokoh perjuangan dan budaya seperti Usmar Ismail, Asrul Sani atau Djajakusuma, mulai memproduksi film yang menggambarkan realitas masyarakat Indonesia. Film kemudian adalh bagian dari identitas budaya. Harus diakui bahwa lebih dari tujuh dekade sejak Usmar Ismail memproduksi film bersejarah Darah dan Doa, film Indonesia telah menunjukkan sekian banyak kemajuan dibandingkan pada era era awal.

Dalam konteks film sebagai diplomasi budaya, apa sajakah yang tercermin dari sebuah film sesungguhnya dan bagaimana film kemudian memposisikan Indonesia dalam pergaulan internasional?

Kerjasama produksi antara bangsa

Film adalah media cerita mutakhir yang menggabungkan berbagai unsur kesenian di dalamnya, produser film adalah seorang penggagas awal yang memahami film sebagai praktek budaya yang memiliki seni bercerita, seni sinematografi seperti tata cahaya, tata kamera, film editing, setting artistik dan juga seni peran.

Para pelopor film kontemporer Indonesia seperti Usmar Ismail, Bakhtiar Siagian, D Djadjakusuma, Asrul Sani (1950'an), Teguh karya, Sjumandjaja, Slamet Rahardjo, Garin Nugroho (1970-90an), hingga Nan Achnas, Edwin, Mouly Surya atau Kamila Andini (2000-hari ini) telah menjadi bagian dari representasi Indonesia yang menunjukkan kemajuan bangsa kita melalui bahasa ungkap film.

Pada dua dekade terakhir film film Indonesi telah lebih sering yang mendapat tempat khusus dalam pemutaran perdana di arena festival film internasional ternama seperti Cannes, Berlin, Toronto, Venice atau Sundance. Marlina si Pembunuh dalam empat babak (Mouly Surya,2016), atau Autobiography (Makbul Mubarak,2022) adalah contoh dua dari sekian banyak film Indonesia yang dikembangkan konsep dan skenarionya di pasar film (film market) seperti Torino, Italia, atau Rotterdam, Belanda kemudian mendapatkan dukungan finansial dari distributor atau lembaga hibah dari negara negara Eropa dan berlanjut pada pada peredaran luas di banyak negara Eropa dan negara utama Asia.

Film-film jenis ini menggambarkan kemajuan Indonesia dalam produksi film dengan cerita lokal yang juga membawa isu universal. Film Yuni karya sutradara Kamila Andini, produksi Forka Films adalah satu contoh film yang dikembangkan di beberapa market film Eropa dan diedarkan oleh distributor international Cercamon dari Perancis.

Majalah Screen Daily menulis "hubungan antara Yuni dan Yoga dalam film ini membawa semangat yang berwarna Shakespearean (As you like it) dan juga membawa gema dari cerita Cyrano De Bergerac". Film Yuni yang juga memenangkan penghargaan pemeran utama perempuan terbaik di Festival Film Indonesia dan Film Terbaik Platform Prize di Toronto International Film Festival. Dalam pandangan penulis, film-film yang dihasilkan dalam project market sebuah gambaran film dengan kualitas yang terseleksi secara obyektif.

 

Festival Film sebagai Diplomasi Budaya

Di samping jalur tersebut, beberapa kedutaan besar Indonesia dan komunitas diaspora telah juga menjadikan film sebagai upaya mempromosikan kemajuan film sebagai identitas budaya kita. Saat menjadi duta besar RI di Republik Ceko, Dr Salim Said berhasil menyelenggarakan festival tahunan film Indonesia. Setiap tahunnya sejak 2007-2009 di kota Praha diselenggarakan festival  dengan tema yang cukup spesifik: film film klasik Indonesia, film perempuan dan sutradara dalam fokus.

Kota Praha di musim gugur menjadi ajang perbincangan film Indonesia dan dengan sendirinya tentang kemajuan Indonesia. Festival diselenggarakan di perpustakaan kota Praha, sebuah ruang publik yang populer danmenarik minat kalangan pecinta seni dan juga diaspora Indonesia di kawasan Eropa tengah. Dr.Salim Said adalah mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan mantan wartawan yang berfokus pada film di majalah Tempo, kapasitas tersebut membuatnya mampu  melakukan pemilihan tema dan kurasi strategis festival.

Dr Salim bahkan megundang sutradara legendaris Ceko pemenang piala Oscar pada 1968 Jiri Menzel (Closely Watched Train) untuk menjadi duta festival. Kedutaan Besar RI di Praha juga memfasilitasi kehadiran sutradara Nan Achnas, Nia Dinata dan Penulis sendiri untuk berjumpa dan berdiskusi dengan peminat film di Praha. Film-film seperti Arisan, Photograph atau Laskar Pelangi dianggap film yang dapat menunjukkan kemajuan Indonesia dalam demokrasi dan kekayaan budaya.

Di Kota New York Amerika Serikat, didirikan sebuah perkumpulan masyarakat diaspora Indonesia  menyelenggarakan festival film tahunan Indonesian Film Festival New York. Tujuan festival adalah mempromosikan film Indonesia membangun kerjasama yang lebih bermakna antara Indonesia dan AS. Penyelenggara mengupayakan kurasi film secara terbuka, memperkenalkan film populer dan film yang mencerminkan kompleksitas dan berbagai situasi kemanusiaan di Indonesia.

Penulis diundang pada 2018 dan mempresentasikan film Athirah di New York, pada saat yang sama diputar pula film yang didasarkan pada penyair buruh yang diculik Istirahatlah Kata Kata karya Josef Anggi Noen. Pada saat yang sama film menjadi media yang efektif dalam menunjukkan kemajuan masyarakat Indonesia melalui film yang diproduksi pada satu era.

 

Tema, Jejaring dan Kurasi

Film film Indonesia yang kini mulai dikenal baik melalui festival film antar bangsa, kerja sama produksi internasional atau layanan streaming digital adalah film film yang menggambarkan Indonesia yang demokratis menghargai hak asasi manusia dan memiliki kekayaan budaya yang pantas dibanggakan.

Namun, diperlukan kerjasama antara para pembuat film yang dapat menjadi mitra dalam proses kurasi untuk mendapatkan film film yang tepat bagi representasi Indonesia kontemporer. Di Indonesia saat ini, telah terbentuk beberapa asosiasi pembuat film yang memiliki tujuan dalam mengembangkan profesi film Indonesia. Dukungan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Dikti juga diperlukan memiliki dalam fasilitasi seperti dukungan penyelenggaraan dan hibah perjalanan.

Mengingat kehadiran film Indonesia di dunia internasional harus berkelanjutan. Pada 2024 Kemendikbud berhasil mengorganisasi kerjasama dengan festival ternama di Italia, Far East Film Festival Udine, juga menyelenggarakan promosi Indonesia di Marche du Film Cannes International Film Festival. Dengan strategi dan perencanaan program yang tepat akan ditemukan tema, kemitraan dan proses kurasi yang tepat. Film film terbaik Indonesia menjadi media efektif dalam sebuah media diplomasi budaya, ke dunia internasional. 

 

Oleh Riri Riza

Sutradara Film dari Miles Films, pengajar di Fakultas Film dan Televisi IKJ,  anggota Indonesian Film Directors Club.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 14 Juni 2024

  • 13 Juni 2024

  • 12 Juni 2024

  • 11 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan