maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Layanan Ablasi Minim Risiko di Mayapada Hospital Tangerang

Kamis, 29 September 2022

Gangguan irama jantung yang tidak beraturan dapat menyerang semua usia. #Infotempo

dr. Agung Fabian Chandranegara, Mayapada Hospital Tangerang.. tempo : 166967238378

Aritmia merupakan gangguan kesehatan yang menyerang organ jantung. Penyakit ini ditandai dengan gejala berupa irama jantung yang tidak beraturan bisa menjadi lebih cepat atau lambat. “Aritmia ini sangat unik karena bisa terjadi kepada semua usia, mulai dari muda, orang tua hingga anak-anak,” dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia Mayapada Hospital Tangerang, dr. Agung Fabian Chandranegara, Sp.JP(K), Senin, 19 September 2022.

Menurut Agung Jika tidak segera diobati, penyakit tersebut bisa berdampak parah hingga mengancam jiwa. Dia menjelaskan irama detak jantung ideal adalah di atas 60 dan di bawah 100 kali per menit.

Adapun detak jantung dalam kondisi istirahat di bawah 60 atau di atas 100 per menit, maka itu merupakan gangguan irama jantung. “Ketika aritmia muncul maka irama detak jantung itu terganggu. Kecepatannya itu terganggu. Kurang dari 60 atau lebih dari 100 sudah termasuk gangguan irama jantung atau aritmia saat orang istirahat bukan dalam kondisi seseorang sedang beraktivitas,” ujar Agung.

Dia menjelaskan jika penyakit tersebut dibiarkan maka bisa mengganggu proses peredaran darah pada jantung. Masyarakat bisa melakukan deteksi dini terhadap aritmia dengan menggunakan metode ‘menari’ atau meraba nadi sendiri. Metode ini sangat sederhana dan mudah. “Hitung denyut selama satu menit kalau kurang dari 60 dan lebih dari 100 itu indikasi aritmia,” kata Agung.

Ada sejumlah gejala lain yang bisa menjadi penanda seseorang mengalami aritmia yakni kliyengan, pingsan dan nyeri dada. “Sering kliyengan tanpa sebab yang jelas, misal saat jalan atau bangun dari duduk. Nyeri dada juga sering seperti ditusuk, nyut-nyutan itu merupakan gejala awal (aritmia),” tuturnya.

Agung menjelaskan gejala umum terkait penyakit tersebut yang umum terjadi, yakni merasakan berdebar pada jantung. Biasanya seseorang yang terserang penyakit aritmia sering merasakan berdebar. “Misal, sering merasakan berdebar kencang. Setiap minggu kok mengalami rasa berdebar yang tidak normal, seperti saat sedang menonton televisi ataupun istirahat tiba-tiba berdebar,” kata dia.

Untuk membantu pasien sembuh dari penyakit tersebut ada beberapa metode yakni meminum obat jika gejala ringan atau melakukan ablasi bahkan harus pasang alat pacu jantung. Untuk pengobatan meminum obat biasanya dilakukan seumur hidup. Artinya pasien setiap hari harus mengkonsumsi obat untuk mengatasi aritmia.

“Pengobatan aritmia itu bisa beberapa jenis, bisa saja diobati dengan obat minum. Tapi tentu saja karena ada kelainan pada sistem konduksi listrik jantung maka obatnya harus diminum seumur hidup,” ujar Agung.

Tindakan Ablasi Minim Risiko untuk Penderita Aritmia

Agung mengatakan tindakan ablasi tergolong efisien karena tingkat kesembuhan pasien bisa mencapai 95-98 persen. Tindakan ini juga dinilai minim risiko.

Dia menjelaskan sebelum ablasi, pasien harus diteliti apakah cocok menggunakan obat atau harus menjalani ablasi. Ketika sudah melakukan ablasi dan berhasil pasien mungkin tidak perlu lagi minum obat seumur hidup.

Menurut Agung efek samping ablasi hampir tidak ada yang signifikan. “Setelah ablasi 2-3 hari pasien sudah dapat beraktivitas seperti biasa. Bahkan besok paginya sudah bisa pulang. Presentasi kesembuhan cukup baik di antara 95-98 persen keberhasilan pada banyak kasus,” ujarnya.

Untuk proses ablasi sendiri ia menuturkan dilakukan dengan cara nonoperasi. Pasien hanya disuntikan bius lokal dan menggunakan kateter berupa kabel kecil melalui paha masuk ke jantung. Dari situ dokter akan melakukan eliminasi jalur tidak normal pada jantung penyebab aritmia.

“Ablasi dengan cara memasukan kateter atau kabel kecil dari paha dengan cara nonoperasi. Cuma disuntikan saja melalui paha dan masuk ke jantung,” papar Agung.

Kemudian, lanjut Agung, jalur yang tidak normal dieliminasi atau dihancurkan. “Dengan gelombang mikro kita hancurkan jalur abnormal. Hanya dengan cara suntikan, tanpa bedah, tanpa operasi,” tuturnya.

Hospital Director Mayapada Hospital Tangerang dr. Markus Waseso, mengatakan ablasi bisa dilakukan di Mayapada Hospital Tangerang. Dia menambahkan Mayapada Hospital memiliki kesiapan yang memadai dari sisi dokter spesialis sampai dengan fasilitas untuk menangani penyakit tersebut. “Kami sangat siap untuk menangani pasien aritmia melalui ablasi,” ujarnya.

Rumah sakit menyediakan layanan komprehensif berupa konsultasi yang bisa dilakukan secara telekonsultasi atau tatap muka dengan dokter. Untuk menunjang diagnostik, Mayapada Hospital Tangerang juga telah dilengkapi dengan holter monitor, electrophysiology study hingga ablasi 3D, EKG Holter, dan teknologi modern lainnya.

“Jadi untuk menilai irama jantung pasien. Bila diperlukan lebih lanjut bisa dilakukan ablasi baik dengan metode 2-3D. secara keseluruhan rumah sakit kami sudah siap untuk melakukan ablasi,” kata Markus.

Yang spesial dari layanan Mayapada Hospital Tangerang adalah dokter Agung yang merupakan spesialisasi penyakit Aritmia. Di mana dokter pada bidang tersebut hanya ada 41 dokter di seluruh Indonesia.

Markus menambahkan Mayadapa Hospital memiliki kompetensi sangat baik untuk menangani berbagai jenis penyakit jantung. Bahkan sejak 2021 ditunjuk Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai rumah sakit rujukan wisata medis Indonesia di Banten, khusus pelayanan jantung.

Menurut Markus, penunjukan tersebut tak lepas dari sumber daya yang lengkap. “Mulai dari dokter, peralatan penunjang, maupun intensive care unit,” ujarnya.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 28 November 2022

  • 27 November 2022

  • 26 November 2022

  • 25 November 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan