maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Danone

Air Minum Dalam Kemasan Sudah Aman Tak Perlu Labelisasi

Senin, 12 September 2022

Kandungan Biosphenol-A (BPA) terdapat pada banyak produk tidak hanya pada polikarbonat. #Infotempo

Ngobrol@Tempo Polemik Revisi Label BPA: Manfaat VS Mudharat, Jumat, 2 September 2022.. tempo : 167584385595

Dosen dan peneliti pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Seafast Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma, mengatakan kandungan Biosphenol-A atau BPA terbanyak pada kemasan makanan kaleng. Menurut dia, sekitar 90 persen bahan enamel pada kaleng merupakan hasil polesan epoksi yang bahan bakunya adalah BPA. Jadi kandungan BPA terdapat pada banyak produk tidak hanya pada polikarbonat. “Ada pada kemasan kaleng, bahkan di botol bayi,” tegasnya. 

Nugraha menjelaskan pelabelan seperti membuat mispersepsi. Konsumen dapat menduga bahwa kemasan dengan label BPA free sudah aman. “Padahal belum tentu. Karena dari PET juga memiliki risiko dari kandungan yang lain, seperti dari kandungan acetaldehyde lalu etilen glikol dan dietilen glikol,” ujarnya dalam program Ngobrol Tempo dengan tema “Polemik Revisi Label BPA: Manfaat VS Mudharat”, pada beberapa waktu lalu, Nugraha menambahkan acetaldehyde diakui mengandung unsur karsinogenik (pemicu kanker). 

Selain Nughara turut hadir dalam diskusi Ketua Komisi Penegakan Regulasi Satgas Sampah Nawacita Indonesia, Asrul Hoesein, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia (ASPADIN), Rachmat Hidayat dan praktisi kesehatan dr. Dyah Novita Anggraini. 

Ketua Komisi Penegakan Regulasi Satgas Sampah Nawacita Indonesia, Asrul Hoesein, mengatakan penggunaan galon sekali pakai hanya akan menambah timbunan sampah plastik di tempat pembuangan akhir (TPA). “Malah merugikan masyarakat karena yang seharusnya di rumah tangga diisi ulang, malah sekali pakai. Jadi perdebatan ini sebetulnya tidak perlu, kalau terus dibahas jadi semakin jelas siapa yang ada di belakang polemik ini,” ujarnya. 

Dia berpendapat seharusnya pemerintah memperkuat penerapan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Salah satunya adalah mendorong penerapan extended producer responsibility, sebuah aksi bagian dari tanggung jawab produsen.

Adapun Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia (ASPADIN), Rachmat Hidayat, mengatakan potensi timbunan sampah akibat penggunaan galon sekali pakai diperkirakan mencapai 20 miliar liter per tahun. “Jika satu galon berisi 20 liter, maka akan ada satu miliar galon sekali pakai yang terbuang,” ucapnya. 

Dia menambahkan angka tersebut kemudian dikalikan dengan berat kosong AMDK seberat 799 gram. “Maka akan ada tambahan 70 ribu ton sampah plastik per tahun dari galon sekali pakai,” ujar Rachmat.

Perihal kebutuhan masyarakat, praktisi kesehatan dr. Dyah Novita Anggraini, mengatakan air mineral menjadi pilihan masyarakat untuk memenuhi hidrasi tubuh. Dia menjelaskan 70 persen tubuh manusia mengandung air. 

Air mineral diketahui telah memiliki kandungan mineral yang juga dibutuhkan tubuh, seperti mikro nutrien yang harus diasup dari luar tubuh. “Dengan mengonsumsi air mineral, selain hidrasi tubuh tercukupi, juga akan menjaga keseimbangan elektrolit yang dibutuhkan,” tutur Dyah.  

Pilihan masyarakat pada air mineral kemasan karena praktis dan higienis sesuai standar yang ditetapkan otoritas kesehatan. “Seluruh air mineral dalam kemasan sudah memenuhi standar SNI, di bawah Kemenperin dan BPOM,” ujarnya. 

Dyah melanjutkan selain dikemas sesuai standar, air mineral kemasan juga higienis sesuai parameter fisik Kementerian Kesehatan. “Kandungannya juga tidak berwarna dan tidak mengandung mikroorganisme berbahaya seperti e-coli,” ucapnya.

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 8 Februari 2023

  • 7 Februari 2023

  • 6 Februari 2023

  • 5 Februari 2023


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan