maaf email atau password anda salah


Teknologi Terbaru Operasi Laparoskopi

Mayapada Hospital telah menggunakan Laparoskopi dengan teknologi terbaru yaitu 3-dimensi dengan ketajaman 4K (ultraHD). #Infotempo

arsip tempo : 172137000015.

Ilustrasi Operasi Lapraskopi.. tempo : 172137000015.

Ilmu kedokteran saat ini berkembang sangat cepat dan semakin modern. Salah satunya adalah dalam operasi atau pembedahan. Selain pembedahan terbuka, saat ini sudah umum dilakukan juga operasi laparoskopi.

Bedah laparoskopi adalah teknik bedah invasif minimal yang digunakan di daerah perut dan panggul. Tindakan ini menggunakan bantuan laparoskop--batang teleskopik tipis dengan kamera di ujungnya-- untuk melihat ke dalam tubuh tanpa membukanya sepenuhnya.

Tidak seperti pembedahan terbuka dengan sayatan 15-30 cm, operasi laparoskopi menggunakan satu hingga empat sayatan kecil berukuran 0,5-2cm. Satu untuk kamera, dan yang lainnya untuk instrumen bedah atau satu port untuk kamera dan instrument bedah (single port).

Adapun, tujuan laparoskopi untuk mengurangi luka dan perdarahan pada pasien saat operasi serta mempercepat masa penyembuhan pasca operasi (prosedur minimal invasif) atau akses minimal dengan hasil sesuai prosedur operasi yang diharapkan. Prosedur laparoskopi ini sudah berkembang di Indonesia sejak beberapa puluh tahun yang lalu.

Sebab, prosedur ini juga mengandalkan kecanggihan alat, selain keterampilan dokter operator, maka teknologi yang mutakhir sangat penting. Contohnya dari laparoskopi 2-dimensi berkembang menjadi 3-dimensi, dan dari ketajaman SD, HD, sampai ketajaman 4K/ultraHD.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Errawan Wiradisuria Sp.B-KBD, M.Kes, mengatakan, laparoskopi yang baik tentu saja yang memudahkan dokter operator untuk melihat ke dalam rongga perut. "Kalau dengan laparoskopi 2D, apalagi yang gambarnya kurang tajam, dokter memiliki keterbatasan untuk melihat organ mendekati keadaan yang aktual. Sama seperti TV, semakin jernih dan tajam gambarnya pasti lebih enak dilihat," kata dia.

Errawan menjelaskan, dengan laparoskopi 3-dimensi dan ketajaman 4K ultraHD yang dipakainya RS, dokter bisa melihat jaringan dengan lebih jelas, pembuluh darah juga tervisualisasi dengan baik, dan saluran-saluran kecil lainnya. "Jadi gambarnya sangat detail dan clear. Sebagai contoh pada kasus bedah digestif, alat ini bisa membantu mendeteksi batas tumor, pembuluh darah usus, dan saluran empedu bila ditambahkan pewarnaan (indocyanine green)," ujarnya

Hasil studi juga menunjukkan ada pengurangan waktu operasi dan kehilangan darah saat operasi yang signifikan pada pasien yang dioperasi dengan teknologi 4K ultraHD dibandingkan dengan pembedahan terbuka.

Adapun, penyakit yang bisa ditangani menggunakan laparoskopi contohnya adalah usus buntu, batu empedu, hernia, kista, sampai kasus-kasus kanker seperti kanker serviks, kanker usus besar, kanker/tumor hati, kanker prostat, dan perlekatan usus akibat berbagai penyebab. Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Onkologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Tricia Dewi Anggraeni Sp.OG, Subsp.Onk, merupakan salah satu dokter yang berpengalaman melakukan laparoskopi untuk kasus-kasus penyakit organ reproduksi wanita seperti penegakan diagnosis dan tata laksana tumor kandungan jinak seperti kista ovarium, endometriosis, mioma uteri, adenomiosis, sampai penanganan tumor kandungan ganas.

“Pada kanker endometrium dan serviks yang masih dini, pengangkatan rahim bisa dilakukan secara laparoskopi sehingga bekas sayatan kecil namun radikalitas operasi tetap tercapai," kata Tricia.

Dia menjelaskan, prosedur ini diharapkan dapat mempercepat waktu pemulihan serta waktu rawat inap sehingga pasien dapat segera kembali beraktivitas pasca operasi. Saat ini, operasi laparoskopi sudah berkembang dari teknik 2 dimensi menjadi 3 dimensi.

"Kelebihan teknik tersebut yaitu visualisasi lebih baik sehingga penggunaan alat lebih efisien dan waktu pengerjaan lebih cepat, namun tentu saja, keterampilan seorang dokter yang kompeten menentukan keberhasilan operasi," ujarnya.

Pada bidang urologi atau yang berkaitan dengan saluran kemih, laparoskopi juga bisa dilakukan untuk operasi kista, rekonstruksi saluran kencing serta terutama operasi kanker pada ginjal, prostat dan kandung kemih. “Pada kanker prostat dan ginjal yang cukup tinggi kejadiannya di Indonesia, kami berpengalaman melakukan operasi minimal invasive dengan lapararoskopi 3D/4K. Studi untuk kasus-kasus bedah urologi memang sudah membuktikan bahwa semakin advanced alat laparoskopnya, contohnya 2D versus 3D, maka outcome klinis untuk pasiennya juga lebih baik. Pada kasus pengangkatan kelenjar prostat menggunakan laparoskop yang 3D, waktu operasinya lebih singkat dan kehilangan darahnya juga lebih sedikit. Pasiennya juga lebih cepat pulih kemampuan BAK-nya.”, ujar Dokter Syamsu Hudaya, Sp.U (K) Spesialis Urologi Konsultan Urologi Onkologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan.

Syamsu mengatakan, studi untuk kasus-kasus bedah urologi sudah membuktikan bahwa semakin advanced alat laparoskopnya, contohnya 2D versus 3D, maka outcome klinis untuk pasiennya juga lebih baik. Pada kasus pengangkatan kelenjar prostat menggunakan laparoskop yang 3D, waktu operasinya lebih singkat dan kehilangan darahnya juga lebih sedikit.

"Pasiennya juga lebih cepat pulih kemampuan BAK-nya," ujar Syamsu. Mayapada Hospital telah menggunakan Laparoskopi dengan teknologi terbaru yaitu 3-dimensi dengan ketajaman 4K (ultraHD). Ditunjang dengan keahlian dokter spesialis yang berpengalaman dan alat yang canggih, pasien diharapkan mendapatkan manfaat dan penanganan yang terbaik di Mayapada Hospital.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 19 Juli 2024

  • 18 Juli 2024

  • 17 Juli 2024

  • 16 Juli 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan