maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


UNiversitas Muhammadiyah Tangerang

Dari Guru Honorer Menjadi Rektor

Sabtu, 13 November 2021

Ahmad Amarullah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang periode 2021-2025. Memulai karir sebagai guru sekolah dasar.

Rektor Universitas Muhammadiyah Tanggerang Ahmad Amarullah, berfoto bersama keluarga. Dari kiri ke kanan: Khusnul Hatimah (anak pertama), Ilmiyati Salsabila (anak ketiga), Siti Nuraeni (Istri) Amarullah, Zulfa Hasanah (anak kedua).. tempo : 167027592624

Sebagai pengajar, Ahmad Amarullah, tak pernah mengira dirinya dapat mencapai posisi paling tinggi memimpin universitas sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Menjadi guru adalah pilihan profesi yang ditekuninya. Berawal sebagai guru honorer di Sekolah Dasar Muhammadiyah Tangerang pada 1989. “SD Muhammadiyah yang dekat kantor pos," ujarnya.

Keterampilan dalam mengajar diasah melalui pengajian-pengajian yang diampunya. Amarullah bercerita, dalam salah satu kesempatan, ia mengajar mengaji di masjid tidak ada muridnya karena hujan deras. Bukan malah pulang ke rumah, dia mengajar dan berceramah menggunakan pengeras suara. "Warga mengira, itu yang ngaji ramai. Padahal cuma saya," tuturnya diiringi tawa.

Tidak hanya sekolah, Amarullah juga menjadi pengajar di lima sekolah termasuk sekolah menengah pertama. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Total penghasilan bila dijumlahkan saat itu hanya Rp 87 ribu,” ujarnya.

Amarullah mengaku uang yang diperolahnya hanya cukup untuk membayar rumah kontrakan. Beli susu anak harus utang,” ucapnya.

Mantan Ketua Cabang Muhammadiyah Tangerang ini kemudian mengikuti tes calon pegawai negeri sipil dan lulus. Pada 1998, dia diangkat sebagai pegawai negeri sipil dan ditempatkan sebagai guru di Bayah, Lebak, Banten.

Masyarakat di Bayah menyambut hangat kehadiran Amarullah sebagai guru di wilayah pedesaan ini. Pada saat pulang mengajar, ada saja warga yang menyapa dan mengajak mampir ke rumahnya. “Ada juga yang menawari makan,” tuturnya. 

Kiprah Amarullah di Muhammadiyah sejak masih menjadi pelajar dalam Pelajar Muhammadiyah (IPM). Kemudian menjadi Ketua IPM Ranting Tanahtinggi pada 1982. Pada 1989, dia menjadi Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Tangerang dan Ketua Pemuda Muhammadiyah Wilayah Banten pada 2002.

Di bidang pendidikan, dia mengaku sangat dekat dengan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang, Achmad Badawi. Mereka berdua ikut mengembangkan dua sekolah tinggi Muhammadiyah menjadi universitas. “Pak Badawi adalah mentor yang sangat baik dan cerdas,” ujarnya.

Dia mengaku membantu Badawi mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muhammadiyah pada 1992-1993. Bahkan selama proses pendirikan, Amarullah sering pulang larut. “Ketika saya pulang, istri menangis memeluk saya dan bilang urusin saja Muhammadiyah,” kata Amarullah mengenang.

Amarullah dan Badawi terus bekerja sama mengembangkan dan membangun pendidikan tinggi Muhammadiyah di Tangerang. Sebagai mentor, Badawi banyak memberikan pengalamannya dalam pendidikan dan pengajaran.

Begitupala ketika Badawi menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang, Amarullah turut mendampingi sebagai salah satu wakil rektor. Tak heran tongkat estafet kepemimpin rektor dilanjutkan Amarullah ketika Badawi meninggal pada 2019.

Amarullah terpilih secara aklamasi dalam melanjutkan masa jabatan Badawi hingga 2021 dan kembali menjadi rektor periode 2021-2025.

Menjadi pimpinan tertinggi universitas tak pernah terbayangkan dalam hidup Amarrullah. Ketika muda, ia hanya bercita-cita menjadi guru dan mempunyai usaha bimbingan belajar. "Mungkin karena pengalaman dan upaya saya dahulu, saya bisa menjadi rektor," tuturnya. 

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 6 Desember 2022

  • 5 Desember 2022

  • 4 Desember 2022

  • 3 Desember 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan