maaf email atau password anda salah


Profil Waskita Karya, Sejarah, dan Proyek Infrastrukturnya

Waskita Karya merupakan BUMN sektor kontruksi. Berikut ini profil, sejarah, dan proyek-proyek Waskita.

arsip tempo : 171850513180.

Gedung Kantor PT Waskita Karya di Jakarta. TEMPO/Subekti. tempo : 171850513180.

GUNA menyembunyikan kinerja perusahaan yang buruk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk diduga memanipulasi laporan keuangannya. Dugaan ini mengindikasikan adanya kelemahan dalam tata kelola perusahaan negara di sektor konstruksi. Selain merusak kepercayaan investor dan kreditor, laporan keuangan yang menyesatkan dapat merugikan negara.

Isu laporan keuangan palsu Waskita Karya ini dibeberkan Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo. Dia menyatakan bahwa di beberapa BUMN seperti Waskita Karya dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, laporan keuangannya tidak sesuai dengan kondisi nyata perusahaan.

"Laporan keuangannya tidak sesuai dengan kondisi riil," ujar Tiko di Senayan, Jakarta, pada Senin, 5 Juni 2023.

Menyikapi informasi tersebut, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) akan mengaudit laporan keuangan Waskita Karya yang diduga mengalami masalah. Laporan keuangan yang akan diaudit adalah periode 2016 sampai 2018. Selain itu, audit dilakukan berkaitan dengan penyertaan modal negara (PMN).

Baca juga: Gelagat Curang Memoles Kinerja

Berikut ini profil lengkap Waskita Karya.

Profil Waskita Karya

Waskita Karya merupakan sebuah perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor konstruksi yang didirikan pada 1 Januari 1961. Waskita Karya dikenal sebagai salah satu kontraktor dengan pengalaman dan keahlian yang luas dalam bidang konstruksi. Perusahaan ini juga telah menghasilkan berbagai proyek konstruksi besar di Indonesia, seperti jalan tol, jembatan, dan bendungan.

Atas komitmen yang konsisten tersebut, pada November 1995, Waskita Karya memperoleh sertifikat ISO 9002:1994 sebagai pengakuan internasional terhadap sistem manajemen mutu. Sertifikat itu menjadi titik awal bagi anak usaha Waskita Karya, yakni PT Waskita Beton Tbk, menuju persaingan global. Kemudian, pada 2009, perusahaan ini juga dianugerahi pengakuan dengan kategori sistem manajemen mutu ISO 9001:2008.

Waskita Karya menjadi salah satu BUMN karya yang menerima alokasi PMN dari pemerintah. Pada 2022, ia menerima PMN senilai Rp 3 triliun. Dana tersebut diberikan untuk mendukung penyelesaian proyek pembangunan jalan tol Kayu Agung-Palembang-Betung dan jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi. Tujuan pemberian PMN tersebut adalah memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan kapasitas usaha BUMN, sehingga perusahaan dapat melanjutkan penugasan dari pemerintah.

Selama 2022, Waskita Karya mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 15,3 triliun. Pendapatan tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan dari jasa konstruksi sebesar 33,46 persen menjadi Rp 13,56 triliun. Selain itu, ada pendapatan dari jalan tol dan penjualan beton precast, masing-masing sebesar Rp 916,56 miliar dan Rp 344,71 miliar. Total aset yang dimiliki PT Waskita Karya Tbk mencapai Rp 98,23 triliun per 31 Desember 2022.

Baca juga: Proyek Fiktif yang Radar Auditor

Baru-baru ini, Kementerian BUMN berencana melakukan inbreng atau mengalihkan saham Waskita Karya ke PT Hutama Karya (Persero). Dengan begitu, seluruh saham milik pemerintah sebanyak 75,34 persen di Waskita Karya akan dialihkan ke Hutama Karya. Status Waskita pun bakal berubah menjadi anak usaha Hutama. 

Petugas ME Waskita melakukan pemeriksaan instalasi panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

Sejarah Waskita Karya

Waskita Karya didirikan pada 1 Januari 1961 dengan nama awal Volker Aannemings Maatschappij N.V. Mulanya, Waskita merupakan perusahaan yang dioperasikan Belanda. Namun, pada tahun yang sama, perusahaan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1961.

Awalnya, kegiatan Waskita Karya berfokus pada pengerukan, irigasi, reklamasi, dan pembangunan pelabuhan. Namun, pada 1973, Waskita Karya berubah status menjadi perseroan. Dengan perluasan bisnis dan perubahan status tersebut, perusahaan ini mulai aktif sebagai kontraktor umum dalam proyek-proyek seperti pembangunan jalan, jembatan, bandara, pabrik pengolahan limbah, pabrik semen, dan fasilitas industri lainnya.

Pada 1980, Waskita Karya juga mulai menerapkan teknologi canggih dalam setiap proyeknya. Alih teknologi dilakukan melalui kerja sama bisnis dengan perusahaan asing. Salah satu capaian terbesar perusahaan ini adalah berkontribusi dalam pembangunan Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang.

Proyek Waskita Karya

Pada 1980, Waskita Karya melakukan berbagai terobosan dan mengalami kemajuan. Perusahaan ini menjalin kemitraan dengan perusahaan lain untuk menerapkan teknologi dalam kegiatan operasional sehari-hari melalui bentuk kerja sama operasional bersama dan usaha patungan. Beberapa prestasi utama yang dicapai pada tahun tersebut adalah pembangunan Bandara Soekarno-Hatta, Reaktor Serbaguna Siwabessy, dan PLTU Muara Karang di Jakarta.

Masuk ke era 1990-an, Waskita Karya berhasil menyelesaikan berbagai proyek gedung bertingkat, termasuk BNI City, gedung perkantoran Bank Indonesia, Hotel Shangri-La, Menara Graha Niaga, Menara Plaza Mandiri, serta sejumlah apartemen di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Selain itu, Waskita berperan penting dalam pembangunan jembatan panjang dan jalan layang dengan sistem kantilever, seperti Jembatan Rajamandala, Jembatan Barelang IV, Jembatan Rantau Berangin, serta pembangunan jalan layang Pasteur-Cikapayang-Surapati.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang di Jakarta. TEMPO/ Subekti

Pada 2006, Waskita Karya meluaskan segmen pasarnya ke luar negeri dengan membuka cabang di Dubai, Abu Dhabi, dan Jeddah. Di sana, perusahaan ini terlibat proyek-proyek pembangunan gedung tinggi. Waskita bahkan telah mendapatkan lisensi dagang dari otoritas Dubai.

Selama bertahun-tahun beroperasi, Waskita Karya mencatatkan sejumlah prestasi luar biasa dalam pembangunan jembatan beton, termasuk Jembatan Rajamandala, Jembatan Rantau Berangin, dan Jembatan Barelang IV.

Selain itu, perusahaan ini sukses membangun konstruksi seperti Jembatan Pasteur-Cikapayang dan Jembatan Surapati di Bandung. Waskita juga terlibat dalam pembangunan beberapa bendungan, seperti Pondok, Grokgak, Tilong, Gapit, dan Sumi.

RIZKI DEWI A. | VIVIA AGARTA F.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juni 2024

  • 15 Juni 2024

  • 14 Juni 2024

  • 13 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan