cloudfront
Koran TEMPO
Cerpen
Minggu, 09 November 2014

Pemuda Penyayang free

Yusi Avianto Pareanom

ITU tanda-tanda kenabian, begitu katamu sembari tersenyum setiap kali ada yang menyebut atau menceritakan ulang kisah masa kecilmu ketika kau pada suatu hari mengeluarkan uang logam bersama kotoranmu. Kau lupa kapan dan bagaimana bisa menelannya. Tahu-tahu uang itu keluar begitu saja membikin kaget keluarga dan orang-orang sekampungmu. Tidak ada yang ingat lagi pecahan apa yang keluar. Kau tak pernah bisa menutupi kebanggaanmu mengalami itu.

Ada nabi yang sejak bayi sudah bicara layaknya orang dewasa, ada yang dadanya dibelah dan jeroannya dicuci oleh malaikat agar kalbunya bersih, dan ada banyak lagi nabi yang mengalami peristiwa menakjubkan pada masa kanak-kanak mereka yang menegaskan tanda-tanda mereka sebagai utusan Tuhan. Bagimu, cukup sekeping uang yang keluar dari pelepasanmu. Yang mungkin tak kaupahami adalah betapa beruntungnya kau karena yang keluar bukanlah sebutir telur emas. Salah-salah, beberapa tetanggamu yang kalap bisa bergotong royong membelah perutmu saat itu juga karena mengira kau menyimpan harta karun di dalam tubuhmu.

Tersebab peristiwa itu beberapa tetanggamu bersepakat memaklumatkan nubuat bahwa kau akan menjadi pemimpin besar spiritual. Bagaimana menghubungkan recehan yang keluar bersama kotoran dengan kecakapan memberikan ajaran yang bisa mengeksploitasi rasa haru manusia sampai pol masih menjadi teka-teki banyak orang. Namun, nubuat itu sedikit banyak mendorong orangtuamu mengirimmu belajar mengaji setiap sore sejak kau duduk di sekolah dasar sampai kau lulus pendidikan menengah atas.

Sepanjang periode itu, tak ada tanda-tanda bahwa kau bakal mewartakan perkara penting bagi umat manusia. Kau belajar dan bermain sebagaimana anak-anak yang lain. Oh, sesekali kau juga melakukan tindakan yang kelak membuat orang geleng-geleng kepala saat kau menceritakannya-tentang ini, nanti akan terbuka, tidak di alinea ini.

Sejak belajar mengaji itu kau memungut sebuah kebiasaan yang kautiru dari gurumu dan masih terbawa sampai sekarang: kau suka sekali mengatakan ini untuk menambah iman, tepat dua detik setelah kau melontarkan pujian, untuk apa saja, baik untuk kecantikan seorang gadis yang kautemui di warung nasi ataupun untuk es krim balok Turki yang kekenyalannya saat digigit mengingatkanmu pada karet penghapus. Teman-temanmu sering cemas bahwa suatu hari kau bisa kena gebuk rombongan pemuda masjid gara-gara kau menuding kutang di jemuran dan dengan jatmika melontarkan kata-kata andalanmu itu tadi. Kekhawatiran teman-teman beralasan karena kau pernah sangat ngotot menghabiskan tiga jam meyakinkan mereka bahwa kutang yang belum dicuci sangat berkhasiat menghaluskan kulit pipi saat diusapkan ke wajah.

Selepas SMA kau kuliah ilmu humaniora di sebuah perguruan tinggi di Kota Pelajar dan sempat menjadi wartawan majalah kampusmu. Sekalipun tak ada bayarannya, kau senang dan bangga karena merasa tugasmu sejalan dengan salah satu sifat kenabian yaitu tabligh atau menyampaikan kabar. Kau selalu senang jika apa yang kaukerjakan ada sangkut-pautnya dengan kenabian dan kau mengumumkan itu kepada teman-temanmu.

Semestinya kau bisa lebih spesifik, jika tidak mau disebut lebih berhati-hati, saat mengeluarkan kata-kata yang terkait kenabian, baik saat kau bercerita bagaimana usus besarmu memproduksi uang maupun saat menjadi reporter tanpa bayaran. Boleh jadi kata-kata itu tanpa kausadari ikut menentukan nasibmu.

Kau tak pernah menyebut nabi mana yang hidupnya ingin kaujadikan model. Padahal, kautahu bahwa peruntungan para nabi berbeda-beda jurusan sekalipun mereka sama-sama mendaku mendapat bocoran langsung dari malaikat mengenai perkara dunia dan seisinya dan juga hal-hal lain yang bersifat gaib: ada yang sudah enak-enak tinggal di surga kemudian ditendang ke Bumi karena menguntal sebutir buah-ya, hanya sebutir, tidak satu tas kresek apalagi sekarung; ada yang mesti memanggul kayu berat yang kemudian dipakai untuk menyalib dirinya sendiri; ada yang berpura-pura selopnya ketinggalan di surga saat diajak menengok ke sana supaya ia bisa balik dan tinggal permanen di sana-alangkah selow-nya nabi yang satu ini; ada yang dimusuhi sanak saudaranya sendiri; dan ada pula yang kaya raya karena mewarisi kerajaan dan sanggup bicara dengan jin dan sebagian serangga.

Kau bahkan mesti lebih spesifik lagi mengenai bagaimana tanda-tanda dan sifat kenabian itu berpengaruh kepada peruntungan asmaramu. Kautahu, ada nabi yang punya istri bawel, ada nabi yang punya istri yang bersekongkol dengan lawan-lawan politiknya, ada nabi yang harus bekerja keras mengabdi kepada calon bapak mertuanya yang juga nabi selama tujuh tahun sebelum ia diberi anak gadis sang bapak mertua yang ternyata bukan perempuan yang ia inginkan, melainkan saudara perempuannya sehingga ia harus kerja mengabdi tujuh tahun lagi di tempat yang sama sebelum benar-benar mendapatkan perempuan yang ia idamkan, ada nabi yang punya puluhan istri cantik yang tindak-tindak mereka serba jatmika menarik hati, dan ada pula nabi yang melajang sampai akhir hidupnya.

KAU perlu spesifik karena sebentar lagi usiamu dua puluh enam tahun dan meskipun peruntunganmu tak buruk karena kau punya pekerjaan tetap dengan gaji bulanan lumayan sebagai kerani kantor paten dan beroleh kawan-kawan dekat yang bisa kauajak tertawa sering-sering, tetap saja tak tanda-tanda memadai kau bakal mendapatkan pasangan dalam waktu dekat. Padahal, kau sudah sangat ingin.

Kau sering tertawa saat kawan-kawanmu meledekmu. Sehari-hari kau memang periang tetapi kautahu bahwa kau adalah orang periang yang tak berbahagia. Kadang ketidakbahagiaanmu mrucut saat kau mengeluarkan olok-olok ah paling sebulan lagi putus jika ada kawanmu sedang dikunjungi pacarnya dan kau menyaksikan kemesraan mereka. Kau tidak bangga dengan kata-katamu. Sesungguhnyalah kau ingin hubungan mereka baik-baik saja, kau pemuda baik yang kebetulan sedang merana.

Karena pekerjaanmu kau bertemu orang-orang baru, beberapa lebih tua puluhan tahun. Kepada mereka yang terlihat heran karena kau belum punya pasangan padahal kau cukup pintar dan parasmu tidak buruk dan kau ramah dan kau sangat suka berkesenian sekalipun sedikit gemuk-setidaknya, itu yang kauyakini-kau selalu bilang bahwa kau saat ini sedang mencintai kesendirian melebihi cinta malam kepada kegelapan atau cinta lintah darat kepada uang rente atau bahkan cinta hiu kepada darah. Mestinya kau memberi peringatan jika ingin membuat teman-temanku kaku perut karena tertawa panjang. Salah seorang dari mereka akhirnya berkata, Kalau sudah begini, sepertinya kau juga bakal kebal kalau diselomot rokok ya, Dave? Namamu bukan Dave, tapi siapa pun yang bisa membikin takjub orang dengan kata-kata gagah istimewa seperti yang barusan kauucapkan memang pantas dipanggil Dave.

Ketika ada yang bertanya bahwa jangan-jangan kau tak pernah punya pacar sama sekali sampai usiamu lewat seperempat abad kau dengan cepat menjawab, Pernah punya dong, pacaran dua tahun. Kau juga menjelaskan bahwa kau benar-benar berpacaran, bukan ta'aruf model anak-anak pengajian kampus. Ketika ada pertanyaan terusan apakah kau pernah berhubungan badan dengan mantan pacarmu kau menjawab lebih cepat lagi, Tidak dong. Aku menyayanginya, tidak tega. Pegang-pegang juga tidak, paling cium pipi. Yang bertanya kemudian menunjuk kegemaranmu pada film-film asyik dari Jepang dan kemudian berkata, Kalau kau bukan pengecut pasti kebanyakan baca memoar Soe Hok Gie. Kau meringis lalu manggut-manggut lalu mencoba mengubah topik pembicaraan menjadi pesan tersembunyi lagu-lagu The Beatles. Teman-teman kantormu mafhum kebiasaanmu. Kau membuka dengan pertanyaan apa yang ingin disampaikan John Lennon dengan lirik I am the eggman dalam lagu "I am the Walrus". Belum ada kawanmu yang menyambut, salah seorang tamu kantor yang kebetulan ikut dalam pembicaraan hari itu malah melontarkan komentar ini, Jangan-jangan pacarmu minta putus karena tidak kausentuh padahal ia sudah ingin. Katamu, Kami pisah karena beda prinsip. Kau membuat perut teman-temanmu kembali sakit. Ya, beda prinsip. Pacarmu, mantanmu tepatnya, ingin kaupegang-pegang tetapi kau tak mau karena tak punya nyali, kata si tamu.

Kau tak mau kalah set. Kau lalu bercerita bahwa kau juga pernah pegang payudara perempuan, sejak usia remaja malah. Pertama kali di kolam renang. Yang mengajakmu menyenggol dada perempuan dengan cara seolah-olah tak sengaja adalah kawanmu yang bernama Marjiyo yang kelak ketika mulai berumur dua puluh tahun rutin mencukur licin rambut kepalanya-sebuah tindakan yang sesungguhnyalah tanpa ia ketahui bisa memberinya peluang besar ditawari bergabung ke grup lawak Srimulat jika saja ia ketemu pemandu bakatnya karena paras gundulnya itu mengisyaratkan kelucuan tanpa ia perlu bicara apa-apa. Kau mula-mula takut, kau tak ingat apakah pada aksi pertamamu kau benar-benar berhasil menyenggol dada perempuan yang kauincar atau hanya merasa berhasil.

Tapi, alah bisa karena dipanas-panasi terus oleh Marjiyo, begitu katamu. Keberhasilan-keberhasilan kecil membuat nyalimu tumbuh sehingga ketika Marjiyo mengajak lebih jauh lagi, yaitu meremas payudara para perempuan muda yang sama-sama menjadi penggemar berat tim sepak bola kota kecilmu saat pertandingan digelar di stadion kebanggaan kota kalian, kau menyambutnya bergita-gita. Ketika ceritamu ini mengundang keheranan kawan-kawanmu karena alangkah ajaibnya laki-laki yang menolak menyentuh pacarnya tetapi bisa dengan santai meremas dada perempuan tak dikenal di tempat publik, kau membela diri, Tapi yang dipegang-pegang juga suka. Untuk jawabanmu ini yang hadir memaki serempak, Matamu! Kau gusar, tak mengerti mengapa kawan-kawanmu baik yang sepantaran ataupun yang lebih tua tak paham pemikiranmu yang cemerlang ini: Pacar ya harus disayang, jangan dipegang-pegang; kalau yang nonton bola pakai kaus seksi menonjolkan aset kan memang menawarkan diri.

BELUM reda jengkelmu, tamu kantor yang sebelumnya meragukan nyalimu mengajakmu bertaruh bagaimana jika sebelum usiamu mencapai dua puluh enam tahun, artinya dua puluh hari lagi, kau sudah berhasil memegang payudara perempuan dewasa dalam situasi satu lawan satu dan perempuan itu bukanlah perempuan bayaran. Si tamu menjanjikan dua setengah persen dari hasil penjualan novelnya yang akan terbit sebentar lagi kalau kau berhasil. Tak perlu bukti keras, cukup kata-katamu, kau gentleman yang bisa kupercaya, katanya. Kau menyeringai, kau merasa sedikit tertantang, tergiur, dan sekaligus agak terhina. Kau pernah membaca manuskrip novel si tamu dan kau yakin dengan pemasaran yang tepat akan terjual setidaknya puluhan ribu dan itu artiya uang yang tak sedikit untukmu. Kau juga tak mempedulikan kata-katanya tentang perempuan bayaran.

Soal itu tak merisaukanmu. Bukan apa-apa, kau memang sampai saat belum pernah terpikir menggunakan jasa perempuan bayaran. Kau takut penyakit dan kondisi keuanganmu juga tak memungkinkan sekiranya sekali mencoba kau lantas suka dan ingin melakukannya setidaknya sepekan sekali. Kau agak terhina karena ia tak memintamu menyodorkan bukti keras, seolah kau sudah divonis bakal tumbang sebelum berlaga. Cari saja yang sudah punya pacar, syukur-syukur kalau kautahu ia sedang bermasalah dengan pacarnya, si pengusul memberi saran. Kenapa, tanyamu. Kau akan dilihat sebagai rumput tetangga, menu alternatif, katanya. Sialan, katamu, dan kau ikut tertawa bersama teman-teman lain yang mendengarkan percakapan kalian. Diam-diam kau mengiyakan perkataan si pengusul yang sehari-hari kaupanggil Paman itu karena kautahu ia punya pengalaman yang lebih dari cukup untuk urusan pembinaan dedek-dedek, baik yang unyu maupun sangat unyu.

Hari berganti dan tahu-tahu besok kau akan berulang tahun kedua puluh enam. Kau tahu kau tak akan menang dalam taruhan yang diajukan Si Paman. Pekerjaan menyita waktumu, itu alasan yang ingin kaumajukan jika ada yang bertanya. Tapi, sesungguhnyalah kau tak melakukan gerak apa pun. Nyalimu yang ingin kautumbuhkan justru makin mengempis mendekati hari jadimu. Diam-diam kau mengirikan nasib salah seorang tetanggamu di kampung yang semasa kecilnya pernah kecemplung jumbleng-lubang penampungan tahi di kebun. Tetanggamu itu peruntungan asmaranya bisa dibilang ciamik karena sudah menikah empat kali. Memang tetanggamu itu juga bercerai tiga kali, tapi setidaknya ia selalu punya pasangan dan bahkan salah seorang istrinya adalah wanita kulit putih dari Skandinavia. Kautahu, rambut mereka yang sewarna madu dan kulit mereka yang bersih sangat pantas diklaim sebagai bukti pencapaian. Kau iri karena sama-sama berurusan dengan tahi semasa kecil kok nasib kalian bisa jauh sekali bedanya soal asmara.

Kau makin merasa merana karena malam sebelum hari ulang tahunmu adalah malam Minggu. Kau akhirnya mengambil keputusan, kau ingin mabuk malam itu. Kau tak ingin minum-minum sendirian. Kau pun memasukkan sebotol vodka simpanan hadiah salah seorang teman ke dalam ransel. Kau naik angkot menuju selatan, mengunjungi kawan sekantormu yang tinggal di kota satelit tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Kau kecele, kawanmu tak ada di tempas kosnya karena sedang menonton pertunjukan jazz di sebuah kampus perguruan tinggi negeri. Kau bisa menyusulnya karena jaraknya sangat dekat, tapi kau tak mau.

Kau merasa sangat sedih malam itu. Kau membuka botolmu dan pada malam sebelum usiamu menginjak dua puluh enam tahun kau menenggaknya sampai habis, tidak sekaligus, di depan sebuah kedai roti bakar. Lampu kendaraan bermotor yang lewat di depanmu mengabur dan antara sadar dan tidak kau teringat sembilan ratus tujuh kunang-kunang di kampungmu dan kau mengancam akan membikin syair kepahlawanan tentang mereka-kunang-kunang, bukan lampu-lampu motor. Usiamu genap dua puluh enam ketika tengah malam tiba. Kau masih punya waktu panjang mewujudkan nubuat tetanggamu.

Catatan: Beberapa kalimat dalam cerita ini dipungut dari obrolan dengan A.S. Laksana, Dea Anugerah, dan Dedik Priyanto.

Yusi Avianto Pareanom tinggal di Depok. Buku kumpulan ceritanya adalah Rumah Kopi Singa Tertawa (2012).

TEMPO ID




Forgot your password?

Forgot your username?