Digitalisasi Selamatkan Manuskrip Kuno Bali

Kolaborasi PPIM UIN Jakarta dan Wikimedia Foundation melalui program Wikisource Loves Manuscripts (WILMA).#InfoTempo

Iklan

Selasa, 4 Juli 2023

Dengan telaten Made Oka Suryawan Salain mengelap 32 bundel lontar milik keluarganya. Minyak sereh dan minyak cengkeh dioleskan ke kain lap, lalu mengusap lontar-lontar tersebut dengan perlahan. 

Oka harus hati-hati. Seluruh lontar di hadapannya merupakan manuskrip warisan turun-temurun. Isinya beragam, ada kakawin, perbintangan, dan lainnya. Kendati Oka dengan rajin merawatnya, ia mengaku tetap khawatir lambat laun mengalami kerusakan. 

“Aku ingin ingin manuskrip yang ditulis di daun lontar ini bisa abadi dan bisa dimanfaatkan masyarakat umum sebagai sumber ilmu pengetahuan,” ucap mahasiswa Universitas Udayana Jurusan Sastra Bali ini.

Beruntung, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta yang berkolaborasi dengan Wikimedia Foundation melalui program Wikisource Loves Manuscripts (WILMA) sedang menjalankan program digitalisasi naskah atau manuskrip kuno. 

“Akhirnya apa yang aku impikan bisa terwujud. 32 bundel harta manuskripku bisa lebih bermanfaat dan pastinya lebih awet karena akan disimpan dalam website wikisource,” ucap Oka yang masih tinggal bersama orang tuanya.

Pada hari yang ditentukan, tim WILMA akhirnya menyambangi kediaman Oka di Desa Tojan, Kabupaten Klungkung. Anggota tim yang terlibat antara lain Dosen Sastra Bali Universitas Udayana, Carma Citrawati dan fotografer I Wayan Kasu Wardana.

Sebelum proses digitalisasi dimulai, Oka sempat melakukan ritual memohon izin kepada leluhurnya agar hajatan itu berjalan lancar. Setelahnya, barulah ia dan tim WILMA membersihkan seluruh manuskrip tersebut dengan minyak cengkeh. “Fungsinya untuk menghambat pertumbuhan jamur,” ucap Oka.

Anggota tim lainnya ada yang melepas jalinan lontar agar memudahkan Kasu memotretnya. Pengambilan gambar dengan alat profesional, menurut Kasu, guna menjamin manuskrip digital terlihat seperti aslinya. Setelah dipotret, manuskrip digital itu diunggah ke dalam bentuk data digital milik Wikisource.

Memotret dan memindahkannya jadi data digital sebanyak 32 bundel lontar milik keluarga Oka tentu membutuhkan kesabaran dan waktu. Menurut Oka, bisa 3-4 hari. “Tenang, nanti mereka aku traktir serombotan (makan khas Klungkung serupa urap), deh,” katanya. 

Sambil memotret, Kasu menjelaskan dua manfaat penting digitalisasi manuskrip kuno. Pertama, para peneliti memerlukannya untuk riset. Akan sulit melihat secara langsung manuskrip-manuskrip itu karena terkendala jarak dan waktu. Maka digitalisasi mempermudah para peneliti atau akademisi yang ingin membaca naskah tersebut.

“Manfaat kedua adalah menyelamatkan isi dari naskah-naskah itu. Karena pengaruh usia dan bahan, jadi riskan dimakan rayap atau serangga. Jadi digitalisasi ini berperan untuk menyelamatkan usia naskah tersebut,” tutur Kasu.

Citra, dosen yang juga Manager Hanacaraka Society, menyatakan bahwa manuskrip memiliki posisi sangat penting untuk masyarakat Bali. Banyak keluarga yang memiliki lontar semacam ini, karena yang tertulis di atasnya merupakan dokumentasi dari pengetahuan lokal.

“Masyarakat masyarakat Bali tentu sangat percaya bahwa leluhurnya dahulu telah memberikan sebuah warisan yang luar biasa terhadap pengetahuan lokal, sehingga saat ini lontar-lontar di Bali masih disimpan, kemudian dicoba untuk dibaca, dipahami dan juga diaplikasikan,” kata dia.

Lontar juga bisa mencatat genealogi orang Bali. Artinya, orang Bali bisa mencari klan atau asal keluarganya berdasarkan catatan lontar. Jadi, di dalam lontarnya akan tertulis catatan dari riwayat perjalanan pertama leluhurnya datang dari mana. Semua ini tercatat sampai ke generasi berikutnya. “Nah, di sini pun (lontar milik keluaga Oka) ada. Dia ini dari klan Pase,” ucap Citra.

Berita Lainnya