Etnis Tionghoa Optimistis Berkontribusi di Tanah Air.

Semangat toleransi dan keberagaman di Indonesia akan terus berlanjut.#infotempo

Iklan

Selasa, 18 April 2023

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto, mengatakan etnis Tionghoa telah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak abad ke-15 dan berperan penting dalam sejarah dan perkembangan politik di Tanah Air. "Tionghoa adalah salah satu dari 15 kelompok etnik terbesar di negeri ini, namun mereka menjadi target dari berbagai peraturan diskriminatif yang diterapkan oleh pemerintah otoritarian orde baru,” ujarnya pada saat menjadi pembicara dalam Seminar "Tionghoa dan Politik Indonesia: Pandangan dan Harapan” di Jakarta, Jumat, 14 April 2023. 

Menurut Johanes, menguatnya iklim demokrasi pada era reformasi ini menjadi berkah tersendiri. “Komunitas Tionghoa Indonesia kembali memperoleh hak dan ruang untuk mengekspresikan identitas, budaya, dan meningkatkan partisipasi politik mereka,” kata dia. 

Beberapa individu Tionghoa bahkan berhasil meraih jabatan-jabatan politik. Salah satunya adalah Basuki Tjahaja Purnama (BTP) yang memiliki karier mulus dan dianggap sebagai simbol dari penerimaan masyarakat terhadap politikus dengan latar belakang etnik Tionghoa.  

"Di tengah optimisme terhadap makin meningkatnya penerimaan tersebut, resistensi terhadap kepemimpinan BTP justru meningkat, khususnya pada pertengahan hingga akhir 2016,” kata Johanes. 

Menurut dia, yang penting untuk dicatat adalah etnisitas BTP sebagai Tionghoa turut pula menghadirkan dalam gelombang penolakan. Muncul kembalinya isu identitas dalam gelombang resistensi menjelang dan sepanjang Pilkada 2017. Kondisi ini membawa dampak tertentu bagi masyarakat Tionghoa. 

Pada masa orde baru, kata dia, pemerintah menerapkan kebijakan asimilasi yang merugikan etnis Tionghoa dan berdampak pada kehidupan politik dan ekonomi mereka di Indonesia.

Meski beberapa tokoh mengungkapkan kekecewaan dan kekhawatiran atas maraknya isu etnisitas di sekitar Pemilu 2017, 

Menurut Johanes, etnis Tionghoa optimis dan semangat terus berkontribusi bagi negara melalui partisipasi politik, meski beberapa tokoh mengungkapkan kekecewaan atas maraknya isu etnisitas pada 2017. “Hal ini terlihat dari banyaknya warga etnis Tionghoa yang mengikuti Pemilu 2019 sebagai calon anggota legislatif, baik di tingkat nasional maupun daerah,” ucapnya. 

Johanes menilai optimisme dan semangat tersebut antara lain karena kepercayaan dan harapan mereka yang terus berlanjut terhadap semangat toleransi dan keberagaman di Indonesia. “Mereka berharap peran partai politik dalam meningkatkan kualitas demokrasi dan hak asasi manusia,” tuturnya. 

Pembicara kedua, Ketua Umum Perhimpunan Tionghoa Indonesia (INTI) cabang Jakarta IW Suparmin, mengatakan etnis Tionghoa tercatat berperan aktif dalam gerakan nasionalis, khususnya pada masa penjajahan Belanda. Sejak masa prakemerdekaan hingga pascakemerdekaan, peran masyarakat Tionghoa sangatlah penting. Di antaranya, mendirikan rumah sakit, universitas dan sekolah swasta.

“Acara Sumpah Pemuda di gedung milik Sie Kong Liong. Peristiwa di Rengasdengklok menggunakan rumah milik Djiaw Kie Siong,” kata IW Suparmin yang juga Ketua Yayasan Sosial Candranaya. 

Namun, dia mengimbau masyarakat Tionghoa tetap bijak dan berhati-hati karena masih ada riak dan tantangan menjelang tahun politik 2024.

Berita Lainnya