Peran Strategis Anak Muda Agar Kebijakan Iklim Memiliki Daya Gigit

Sri Mulyani mengapresiasi Manifesto Orang Muda Indonesia untuk Berkelanjutan sebagai sebuah tekad bersama untuk berkontribusi aktif dalam kebijakan perubahan iklim. #Infotempo

Iklan

Kamis, 22 Desember 2022

Dengan populasi sekitar 50% dari total penduduk Indonesia, orang muda punya andil besar dalam berbagai kebijakan iklim, di tingkat nasional dan global. Sri Mulyani, Menteri Keuangan, menekankan hal itu beberapa kali dalam pertemuannya secara daring dengan 10 orang perwakilan anak muda di acara Town Hall Meeting TEMPO “Orang Muda Bersama Sri Mulyani Indrawati,” Kamis, 15 Desember 2022.

Dalam acara tersebut, sebuah manifesto sebagai buah pemikiran 50 anak muda dari rangkaian kegiatan Youth Virtual Conference (YVC) 2022 #WeFightFor #AsaIndonesia2045 dibacakan. Manifesto itu dibuat sebagai respons isu keadilan iklim, energi terbarukan, hutan dan lahan, ruang publik, serta perempuan dan kesetaraan.

Sri Mulyani pun menanggapi Manifesto Orang Muda Indonesia untuk Keberlanjutan sebagai hal yang positif. Memiliki resonansi yang sama dengan pemangku kebijakan. 

“Di satu sisi manifesto ini menunjukkan suatu determinasi keinginan bersama dan tekad bersama. Namun, kita tahu untuk bisa menjaga dan menyelamatkan dunia perlu langkah-langkah di berbagai hal, termasuk dari sisi kebijakan, regulasi dan kompetensi anak-anak muda. Karena ini tentu tidak bisa selesai dengan retorika, tapi harus ada aksi, dan pemikiran secara sistematik,” kata Sri Mulyani.

Paparan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Town Hall Meeting Tempo "Orang Muda Bersama Sri Mulyani Indrawati" - Manifesto Orang Muda Indonesia Untuk Keberlanjutan, Kamis, 15 Desember 2022.

Sri Mulyani pun menekankan, perlunya beberapa modal dasar yang harus dimiliki anak muda. Dia meminta anak muda untuk mengisi pengetahuan dan pengalaman dengan kompetensi, agar berkembang dan dapat menyelesaikan masalah. Memiliki pola pikir yang terbuka, kritik yang membangun, tidak sinis tapi penuh dengan konten yang substantif.

Dia ingin kalangan muda tidak mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan permasalahan. “Jangan berharap masalah itu diselesaikan oleh orang lain. Itu sikap jelek dan salah. Masalah itu kita selesaikan bersama,” kata dia. Kemampuan bekerja sama juga menjadi salah satu kunci dalam mencapai tujuan yang besar. “Kami yakin manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk menundukkan, asal kita bekerja sama,” ujarnya.

Peran anak muda dalam kesepakatan multinasional

Dalam acara Town Hall, Co-Chair dari the Coalition of Finance Ministers for Climate Action periode 2021-2023 itu memaparkan informasi bertajuk “Penanganan Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan”. Sri Mulyani menggambarkan, dunia sedang mengalami shock global, dimulai dengan hadirnya pandemi Covid19, dampak perubahan iklim yang kian signifikan, perkembangan teknologi digital, hingga masalah geopolitik.

Masalah-masalah global itu kemudian dibahas melalui KTT G20, di mana perubahan iklim dan sustainable finance diangkat menjadi agenda prioritas. “Dan agenda prioritas ini diterjemahkan ke dalam langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh negara-negara G20. Dan apakah penting G20 itu? Penting banget, karena begitu G20 mendeklarasikan langkah (sebuah kebijakan), maka akan mempengaruhi 192 negara lainnya.”

Masalah perubahan iklim juga dibahas melalui forum Conference of the Parties (COP)-27 UNFCCC yang diadakan di Sharm El Sheikh, Mesir. Indonesia menaikkan komitmen penurunan emisi C02 menjadi 31,8 persen dengan usaha sendiri dan 43,2 persen dengan dukungan internasional.

Terkait loss and damage fund, Sri Mulyani mengakui belum terlalu mendalami hasil dari COP di Mesir, namun dia melihat dana ini akan difokuskan kepada negara-negara kepulauan termasuk Indonesia. Para negara kepulauan ini terus memperjuangkan agar kerusakan yang berasal dari perubahan iklim harus dibayar oleh negara-negara maju.

Pada Perjanjian Paris beberapa tahun lalu, sesungguhnya negara-negara maju, yang berkontribusi besar pada emisi CO2, berkomitmen untuk memberikan USD 100 Milyar sebagai kompensasi pembayaran emisi karbon. “Namun, sampai hari ini tidak terdeliver USD 100 Milyar,” kata Sri Mulyani.

Hal itu dikarenakan kesepakatan global di bidang perubahan iklim tidak memiliki daya gigit dan daya punishment terhadap komitmen yang tidak tercapai. “Generasi muda seperti kalian itu punya peranan penting untuk terus menyuarakan, sehingga akan ada punishment yang sifatnya tidak dalam bentuk punishment konsekuensi finansial, tetapi secara moral dan politik. Pressure itu perlu dijaga dan ditingkatkan terus,” kata Sri Mulyani.

Sementara itu, Indonesia memerlukan dana hingga Rp 3.500 Triliun untuk mengkonversi sektor energi dan transportasi agar tidak memperburuk emisi C02. Menurut Sri Mulyani, dibutuhkan dukungan dana swasta atau philantropis untuk memenuhi kebutuhan konversi energi, menjaga hutan dan menangani limbah.

Pemikiran kritis anak muda terhadap masalah iklim

Dalam acara Town Hall, perwakilan anak muda diberikan kesempatan berdiskusi langsung dengan Sri Mulyani seputar isu iklim dan keuangan. Lamtiar Nauli Sabrina Margareth Nababan, mahasiswi, berpendapat, untuk mewujudkan masyarakat dunia yang berdaya tanpa diskriminasi dan marginalisasi, kolaborasi anak muda di tingkat tapak, kelestarian alam, lingkungan masyarakat yang nir-kekerasan dan nir-pembungkaman menjadi langkah penting.

“SDGs (Sustainable Development Goals) yang sudah kita kenal sejak tahun 2015, mungkin sulit untuk dibayangkan benar-benar terjadi di bumi ini. Bahkan tak jarang kata utopis selalu terdengar saat membicarakan tentang SDGs. Tapi, SDGs akan selalu utopis jika tidak ada kesadaran kolektif dari kita semua,” ujar Lamtiar.

Berita Lainnya