Ekonomi dan Bisnis

Tingkat Konsumsi Masyarakat Naik Terbatas

Edisi, 4 Mei 2021

BPS melaporkan tingkat inflasi bulanan April mencapai 0,13 persen, naik dibanding inflasi bulanan Maret yang sebesar 0,08 persen. Ekonom dan pengusaha berpendapat bahwa kenaikan yang sangat tipis justru pertanda masih lemahnya daya beli serta keyakinan konsumen.

Pedagang merangkai parcel lebaran di Cikini, Jakarta, 27 April 2021. TEMPO/Tony Hartawan

JAKARTA — Tingkat inflasi April meningkat tipis dibanding Maret lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan inflasi April sebesar 0,13 persen secara bulanan. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan angka tersebut naik dibanding bulan sebelumnya yang hanya 0,08 persen.

"Inflasi April sebesar 0,13 persen ini artinya daya beli sudah meningkat yang tecermin dari laju inflasi inti 0,14 persen dan memberikan andil 0,09 persen terhadap pembentukan inflasi," tutur Iskandar kepada Tempo, kemarin.

Iskandar menuturkan, kenaikan konsumsi bisa dilihat dari peningkatan purchasing managers index (PMI) manufaktur versi IHS Markit yang berada pada level 54,6. Angka ini naik dibanding Maret yang berada di level 53,2. Artinya, keyakinan sektor industri semakin ekspansif.

"Pemerintah tentunya ingin inflasi terkendali di tengah peningkatan permintaan tersebut," tutur Iskandar. IHS Markit mencatat PMI manufaktur mencapai rekor tertinggi baru selama dua bulan berjalan. Kondisi bisnis kini telah menguat dalam enam bulan berturut-turut.

Direktur Ekonomi IHS Markit, Andrew Harker, berujar bahwa produksi manufaktur Indonesia terus meningkat pada April di tengah ekspansi permintaan baru yang sangat kuat. Andrew menambahkan, kenaikan ekspor yang terjadi karena menguatnya permintaan internasional menunjukkan tanda-tanda perbaikan ekonomi.

“Namun agak mengecewakan mengingat, meski pertumbuhan permintaan menguat, perusahaan masih enggan menambah karyawan," tutur Andrew. Dengan adanya penumpukan pekerjaan yang terus terakumulasi, ia berharap perusahaan manufaktur akan cukup percaya diri untuk menambah jumlah tenaga kerja.

Pegawai menata etalase pakaian di Matahari Department Store, Mal Artha Gading, Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menilai tingkat inflasi April yang rendah disebabkan oleh masih lemahnya daya beli dan kepercayaan konsumsi masyarakat. "Kami memperkirakan daya beli dan kepercayaan konsumsi masih akan terus lemah sampai penciptaan lapangan kerja terjadi secara signifikan," ujar Shinta.

Penciptaan tenaga kerja, kata dia, harus mampu mengimbangi jumlah pekerja yang dipecat pada masa pandemi maupun pekerja yang produktivitasnya dikurangi karena turunnya daya beli konsumen. Menurut dia, perlu waktu lama untuk mengembalikan inflasi Indonesia ke level sebelum pandemi yang rata-rata 3 persen. "Paling tidak akan butuh satu tahun."

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, berujar bahwa kelompok inti pada April 2021 mencatat inflasi bulanan 0,14 persen, meningkat dari realisasi bulan sebelumnya yang deflasi 0,03 persen. Menurut Erwin, peningkatan inflasi inti didorong oleh tekanan inflasi emas perhiasan seiring dengan kenaikan harga emas global dan peningkatan permintaan selama Ramadan.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 1,18 persen. Angka tersebut sedikit menurun dibanding inflasi tahunan Maret 2021 sebesar 1,21 persen. "Inflasi inti yang tetap rendah merupakan imbas dari permintaan domestik yang belum kuat, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan konsistensi kebijakan BI dalam mengarahkan ekspektasi inflasi," ujar Erwin.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance, Eko Listiyanto, menyebutkan, meskipun PMI manufaktur Indonesia terus berada di level ekspansif, indeks keyakinan konsumen masih berada di zona pesimistis. Eko menyebutkan indeks keyakinan konsumen belum mencapai level 100 selama pandemi berlangsung.

"Sektor produksi lebih optimistis dibanding konsumsi," ujar Eko.

Walaupun konsumsi dinilai membaik pada Ramadan dan Lebaran tahun ini, Eko melihat kondisi tersebut masih sangat jauh dibanding tahun-tahun sebelum pandemi. Kenaikan harga pada awal Ramadan dinilai masih sangat landai. Menurut dia, kondisi tersebut erat kaitannya dengan daya beli masyarakat yang belum pulih.

Eko berujar bahwa Ramadan biasanya bisa mendorong inflasi bulanan. Ia mengatakan inflasi Ramadan 2019 mencapai 0,68 persen dibanding bulan sebelumnya. Namun Ramadan dalam dua tahun terakhir hanya sedikit mendorong inflasi, masing-masing 0,08 dan 0,13 persen.

LARISSA HUDA

JAKARTA — Tingkat inflasi April meningkat tipis dibanding Maret lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan inflasi April sebesar 0,13 persen secara bulanan. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan angka tersebut naik dibanding bulan sebelumnya yang hanya 0,08 persen.

"Inflasi April sebesar 0,13 persen ini artinya daya beli sudah meningkat yang te

...

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami:

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB