Bukit Belalang

Yin Ude, penulis asal Sumbawa Timur, Nusa Tenggara Barat. Ia menulis sejak 1997. Karya-karyanya telah tersiar di sejumlah media.

Tempo

Minggu, 31 Desember 2023

BUKIT BELALANG
Yin Ude


Setiap musim kemarau, selalu ada pemuda yang ditemukan terkapar tak bernyawa di atas rerumputan. Darah tak henti meleleh dari lehernya karena kepalanya terpisah dan tak ada di tempat.

Pemuda-pemuda itu adalah korban perempuan siluman yang berhasil memperdaya mereka dalam jebakan kecantikannya, lalu diajak berhubungan, lalu kepalanya dimakan.

“Apakah cerita ini akan kusampaikan kepada Sisi?” kata hati Usman, lelaki tujuh puluh tahunan yang sedang gundah karena belum tahu cara tepat menghalangi kehendak Sisi yang sangat ingin pergi ke Bukit Belalang.

Ya, cucunya itu sengaja datang jauh-jauh dari kota di luar Kabupaten Sumbawa hanya karena ingin mengetahui di mana dan merasakan sendiri berada di Bukit Belalang. Kini ia sedang dalam perjalanan. Beberapa menit lalu, ponsel Usman berdering, yang ketika diangkat memperdengarkan suara manja gadis itu, memberitahukan bahwa dirinya akan sampai setengah jam lagi.

Setengah jam lagi, sementara Usman masih bingung!

“Apakah cerita ini akan kusampaikan kepada Sisi?” Berulang kembali pertanyaan dalam batin Usman.

“Tapi apakah pantas cerita horor bermuatan tidak patut kukisahkan kepada anak gadis, hanya demi keberhasilanku mengalahkan kehendaknya?”

Usman mematung. Tatapannya kosong memandangi halaman rumah dari jendela tempatnya berdiri.

Ia terpekur saat sadar bahwa cerita pemuda tak berkepala dan perempuan siluman, yang biasa disebut Ratu Belalang Sembah, itu adalah mitos masyarakat Kecamatan Empang.

“Aku akan membohongi cucuku dengan mitos,” bisiknya sedih.

Bayangan wajah Rukayah, istrinya, melintas.

Ia yakin perempuan itu sedang gundah pula. 

***

Rukayah tak hanya gundah. Ia juga marah! Marah kepada Usman.

Tapi tentu saja ia tak bisa serampangan menunjukkan raut muka yang mewakili rasa itu. Sebab, Sisi telah tiba dan kini sedang berbaring lemas di dipan.

Rukayah tahu bahwa tubuh cucu kesayangannya itu lemas tidak hanya karena lelah menempuh perjalanan jauh, tapi juga efek penyakit aneh yang dideritanya dua tahun belakangan.

Sang nenek iba melihat wajahnya yang pucat, matanya yang cekung, yang sayang sekali harus mengganggu kecantikannya. Andai sehat, pipinya montok, matanya bersinar, Sisi akan menjadi anak yang sempurna sekali pesonanya.

“Penyakitnya Sisi aneh, Emak. Kadang ia demam tinggi dan mengeluh nyeri di sekujur tubuhnya, lalu lemas. Kalau sudah begitu, ia hanya bisa berbaring berjam-jam. Kadang pula ia tampak sehat-sehat saja, tak memendam penyakit apa pun. Dokter juga bingung. Berkali-kali diperiksa tak didapati masalah yang mengarah pada satu pun jenis penyakit. Dan lebih aneh lagi, sehabis demam dan nyeri, ia selalu ingin jalan-jalan ke taman atau hutan buatan di tepi kota. Di sana ia terlihat ceria dan tak sakit sedikit pun. Kondisinya akan membaik sampai beberapa minggu. Karena itulah, saya menuruti keinginannya pergi ke Bukit Belalang. Entah dari mana ia tahu, tapi terus meminta-minta untuk pergi ke sana. Padahal tidak pernah saya ceritakan. Bahkan saya pun sudah lupa dengan bukit itu." Terngiang kembali di telinga Rukayah ucapan Marni, anaknya, ibu Sisi. “Cucu Emak mungkin akan sehat kembali dengan mengunjungi bukit yang saya lihat terakhir kali saat ia berumur tiga tahun itu.”

Rukayah juga berharap sama dengan Marni, yang dulu waktu kecil sangat senang bermain-main di Bukit Belalang, yang ia yakini sekarang sudah tidak tahu apa-apa tentang bukit itu. Sebab, sudah tujuh belas tahun anak sulungnya itu tak pernah pulang sejak ikut suaminya yang pindah tugas ke luar Kabupaten Sumbawa. 

***

Usman sadar bahwa Rukayah marah kepada dirinya. Hal itu ia yakini saat mengajak perempuan itu masuk bersama-sama ke dalam kamar yang ditempati Sisi. Rukayah bergeming, tak menanggapi dan baru mau masuk setelah suaminya itu masuk.

Di dalam kamar pun, Rukayah tak mau duduk berdampingan. Ia lebih memilih kursi di samping kursi Randa, pemuda tampan pacar Sisi yang menjadi teman kedatangan cucunya itu.

Tak sekali pun pula sang suami mau ditatapnya. Ia hanya mau memandangi Sisi atau Randa dan tersenyum kepada keduanya.

“Seperti namanya, Bukit Belalang adalah bukit yang dihuni banyak sekali belalang dari berbagai jenis. Belalang kayu, belalang hijau, belalang kaki merah, belalang sembah, belalang daun, belalang ranting, belalang bunga kuning, belalang Cina, dan belalang anggrek, semuanya ada di sana. Layaknya bukit itu disebut Kerajaan Belalang.” Suara berat dan parau Usman membuka cerita yang dijanjikannya malam ini kepada Sisi dan Randa.

“Ya, layak sekali disebut Kerajaan Belalang, dan bisa dibilang satu-satunya di dunia, berdasarkan lengkapnya spesies yang hidup di sana,” ulangnya.

“Mungkin karena lokasinya yang terbentuk dari campuran kawasan padang rumput, hutan, bukit, sawah, dan sungai, makanya cocok untuk semua jenis belalang.”

Mata Sisi melebar dan menunjukkan sinar ketika mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan kakeknya. Ia sepertinya bahagia sekali akan mengetahui banyak hal tentang bukit itu. Usman berjanji akan mengajaknya setelah lima-enam hari ke depan. Sementara itu, hanya akan diceritakan dulu agar Sisi lebih banyak tahu sebelum melihatnya secara langsung. Randa juga ikut antusias. Hanya wajah Rukayah yang sinis, yang disembunyikannya dengan menunduk, pura-pura memutuskan seutas benang dasternya yang mencuat.

“Bukit itu letaknya tiga kilometer dari desa. Aksesnya mudah, apalagi di musim kemarau seperti sekarang, kita hanya melewati jalan usaha tani yang kering dan rata. Tiba di sana, siapa pun akan disambut jutaan belalang segala jenis yang berlompatan dan terbang di rerumputan, kayu, persawahan, dan batu-batu sungai. Akan ada orang-orang, termasuk anak-anak, berlarian mengacungkan jaring, memburu belalang-belalang kayu untuk dijadikan kudapan belalang goreng. Rasanya gurih, pedas manis, dan nikmat dimakan dengan nasi hangat serta sambal bawang. Yang lebih menarik, dan ini yang membuat banyak orang terpikat untuk datang, adalah ketika ratusan atau ribuan belalang membentuk kawanan dan terbang bersama di udara. Bisa puluhan kawanan yang formasinya menari-nari di awang-awang, menukik ke tanah, lalu kembali berputar-putar di langit. Bagus sekali untuk diabadikan dengan kamera. Dan memang banyak fotografer dari luar Empang melakukannya.”

Sisi yang tadi berbaring di dipan sontak bangkit dan duduk. Ia mencubit lengan Randa. “Kameramu sudah siap?” tanyanya penuh semangat.

Randa mengacungkan kedua ibu jari, memberi isyarat “oke”.

“Bagaimana belalang ranting dan belalang anggrek?” seru Sisi mengharapkan penjelasan dari Usman yang sesaat terbatuk-batuk dan menatap meja di dekatnya, berharap ada air putih atau teh di sana. Tapi tak disediakan oleh istrinya.

“Ya, dua belalang ini yang juga banyak diburu pengunjung untuk dibawa pulang. Belalang ranting, sesuai namanya, mirip dengan ranting yang panjang. Bahkan saking panjangnya ada yang mencapai enam puluh sentimeter. Belalang anggrek juga. Tubuhnya indah menyerupai bunga anggrek. Berwarna-warni pula. Ada yang putih, merah muda, kebiruan, ataupun kombinasi ketiganya. Karena keindahannya itu, banyak orang yang menangkap untuk memeliharanya.”

Penjelasan Usman kembali disusul batuk. Kali ini beruntun dan membuat lelaki tua itu harus menekan dadanya yang mendadak perih. 

“Sudah berapa lama Kakek batuk?” tanya Sisi dengan nada khawatir.

Usman yang batuknya sedikit reda menatap cucunya. Ia tak tahu bagaimana caranya menjawab. Sebab, batuknya itu tiba-tiba saja datangnya. Barusan. Sebelumnya tak ada.

Kembali tatapannya menumbuk Rukayah yang terus saja diam, yang ketika ditatap kembali membuang muka. 

Usman semakin yakin bahwa sia-sia saja ia berharap akan disuguhkan minuman penyegar kerongkongannya yang terasa kering dan nyeri.

Tiba-tiba ia pun geram kepada Rukayah setelah menduga-duga tentang penyebab marah istrinya itu.

***

Malam ketiga sejak kehadirannya, Sisi menagih lagi untuk diceritakan tentang hal-hal lain yang menarik dari Bukit Belalang. Tapi Usman kurang sehat. Batuknya menjadi-jadi dan ia meminta izin masuk kamar lebih awal untuk istirahat.

Di atas dipan ia berbaring, mencoba menenangkan napasnya yang tersengal-sengal jika batuk. Ia ingin minum, tapi tak ada gelas air di atas bufet, tempat biasanya Rukayah meletakkan teh buat suaminya itu pada malam hari.

Merasa disia-siakan, Usman menjadi semakin geram kepada istrinya itu.

“Kenapa masa lalu itu masih diingat-ingat?” seru hatinya yang mulai diselimuti api. “Apakah benar kesalahanku fatal? Apakah benar aku yang menjadi pangkal penyebab bencana, seperti yang dipikirkan Rukayah?”

Emosinya memicu batuknya lagi. 

Ia bangkit, duduk di tepi dipan. Ingin mengambil air minum ke dapur, tapi batuknya mendesak lagi.

“Batuk apa ini? Kenapa semakin parah saja?” keluhnya.

Tapi, setelah mengeluh, tebersit juga rasa syukurnya karena dengan kondisi sakit seperti itu dirinya memiliki dalih kuat untuk mengulur-ulur waktu membawa Sisi ke Bukit Belalang, sambil memikirkan cara yang paling baik, yang mungkin saja ia temukan guna mencegah cucunya pergi ke bukit itu.

Sungguh, ia tak ingin memenuhi keinginan Sisi!

Kerongkongannya nyeri lagi. Batuknya terpicu lagi.

Ia berdiri untuk menuju dapur.

Tapi dadanya sesak dan batuknya semakin beruntun, tak terkendali. Usman sampai terbungkuk.

Lalu dadanya nyeri lagi. Lebih keras dan kian keras!

Usman merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak, menendang-nendang dalam dadanya. Tiap bergerak, tiap menendang-nendang, nyeri dadanya kian tak tertahankan.

Ada pula seperti gigitan, pada jantungnya!

Usman mengerang kesakitan. Tak tahan, ia jatuh telentang kembali ke atas dipan. Tubuhnya menggelinjang dengan tangan menekan-nekan dadanya. Pandangannya kabur seiring dengan bertambah kerasnya gigitan-gigitan pada jantungnya.

“Allah! Allah!” erang Usman lemah. Ia yakin dirinya sedang sekarat. 

Ia tak mampu lagi mengerang saat sesuatu dalam dadanya kini bergerak menuju kerongkongan dan keluar dari mulutnya yang menganga dan berbusa merah serta melelehkan darah.

Sesuatu itu terbang, mengapung di depan mukanya dengan badan berbalur darah. Belalang sembah! 

Mata Usman sudah melotot, tubuhnya telah kaku saat Rukayah masuk dan menjerit histeris.

Perempuan itu terus menjerit seraya memeluk jasad suaminya. Ia tak lagi peduli pada belalang sembah yang kini hinggap di atas bantal-guling, yang ketika Rukayah masuk, baluran darah di tubuhnya hilang seketika, dan tampak sebagai belalang biasa.

***

Malam keempat setelah kepergian Usman. Rumah baru saja sepi setelah beberapa jam tadi diisi suara tetangga yang mengaji. Mereka sudah pulang, meninggalkan Rukayah yang duduk sendiri di atas tikar di ruang tamu.

Pandangannya hampa melekati tumpukan Al-Quran di sudut. Ketika dialihkan, menumbuk foto Usman yang menempel di dinding.

Foto itu adalah foto suaminya saat masih muda, ketika masih menjadi polisi kehutanan. Gagah, dengan kemeja lapangan dan topi rimba warna hijau.

Air mata perempuan tua itu meleleh. Ada yang mendera batinnya. Sesal! Ya, penyesalan karena telah bertahun-tahun ia terus-menerus mengecap buruk Usman atas apa yang dilakukan oleh lelaki itu.

Sebagai polisi kehutanan, dulu Usman ditugaskan menjadi Komandan Resor Bukit Belalang. Bersama empat orang bawahan, ia bertanggung jawab menjaga kawasan bukit yang meliputi padang rumput, hutan, bukit, sawah, dan sungai agar tidak dirambah, dicuri kayu-kayunya, dan dirusak dalam bentuk apa pun. Dan yang terpenting agar habitat jutaan belalang tetap lestari. Sebab, ditakutkan, jika terganggu, misalnya kayu-kayunya ditebang, padang rumputnya hilang, dan sungainya dicemari, belalang penghuninya akan kehilangan tempat hidup dan sumber makanan, yang dapat mengancam tanaman sawah serta ladang warga desa.

Warga desa dan Pemerintah Kecamatan Empang serta Kabupaten Sumbawa pun tak ingin “Kerajaan Belalang”, yang sekian lama menjadi destinasi wisata dan penelitian, akan punah. Dan yang tak kalah ditakutkan pula adalah akibat gaibnya. Bisa jadi perempuan siluman, Ratu Belalang Sembah yang menguasai bukit itu, akan marah karena rumah dan prajuritnya diusik!

Tapi Usman pulalah yang melakukan itu.

Lima tahun lalu, beberapa bulan setelah pensiun, Usman menggali tanah untuk menanam sebatang pohon di sisi timur bukit. Pada kedalaman sepuluh sentimeter, tiba-tiba ada batu berukuran segenggam yang menyembul. Batu itu dikelilingi bintik-bintik kekuningan. Usman mengangkatnya. Saat terpapar cahaya matahari, berkilaulah batu itu.

“Batu emas!” bisik Usman terpana.

Batu itu pun ia bawa pulang dengan maksud diperlihatkan kepada Asep, tetangganya yang pernah menjadi penambang batu emas di luar daerah.

Sungguh, ia hanya ingin mengonfirmasi apakah benar itu batu yang mengandung emas atau tidak. Sebatas itu.

Tapi tak ia sangka, apa yang ia lakukan ternyata tidak berhenti sebatas kehendaknya. Asep yang memeriksa batu itu dan mendulangnya sangat terkejut karena, menurut dia, batu itu adalah batu emas, dengan bijih berkualitas tinggi! Kendati telah diwanti-wanti untuk tidak usah menyebarkannya, Asep tak tahan. Lelaki itu memberitahukan warga lain.

Warga bersama Asep yang tak pernah menyangka bahwa Bukit Belalang memendam emas akhirnya mulai mencoba-coba menggali. Awalnya hanya lima orang, dengan kedalaman tidak lebih dari dua meter. Tapi, seiring dengan hasil bagus yang didapatkan keenamnya, bertambahlah jumlah warga yang melakukan penggalian hingga berpuluh-puluh meter di bawah permukaan tanah. Tiba-tiba para warga lupa dengan ketakutan mereka kepada Ratu Belalang Sembah, pada komitmen mereka untuk melestarikan kawasan bukit, bahkan pada peraturan pemerintah yang melarang aktivitas yang mengganggu atau merusaknya. 

Lima tahun berlalu, Bukit Belalang sudah berubah menjadi area penambangan emas ilegal! Lalu, seperti yang dicemaskan, belalang penghuninya kehilangan tempat hidup dan sumber makanan. Beberapa kali panen padi dan palawija warga gagal karena diserang oleh belalang. Untungnya, setahun terakhir, serangan itu reda. Belalang-belalang telah jarang terlihat di bukit, entah pindah ke mana. Kalaupun muncul, hanya satu-dua ekor.

Usman penyebabnya! Usman pangkal bencana itu!

Ini yang selalu lekat dalam pikiran Rukayah. Ia tak mau menyalahkan siapa pun selain suaminya. Dan ketika Sisi datang dengan harapan bisa melihat Bukit Belalang, Rukayah marah kepada Usman yang menurut dia telah menjadi penyebab cucunya itu tak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Adapun Rukayah—sepakat dengan Marni—berpikir mungkin saja Sisi akan bisa sehat kembali dengan melihat Bukit Belalang. Sungguh Rukayah sangat benci pula pada gelagat suaminya yang hendak mengulur-ulur waktu, terus mencoba agar Sisi tak jadi pergi ke Bukit Belalang.

“Pasti Usman tak mau Sisi mendapati bukit itu sudah rusak karena ia akan merasa bersalah kepada Sisi!” umpat Rukayah berulang-ulang, hingga sebelum lelaki itu meninggal. 

Rukayah menghela napas, mencoba mengusir kepedihan yang mendera batinnya. Dentang jam dinding memberitakan pukul sebelas.

Ia ingat belum menyalakan obat nyamuk di kamar Sisi. Seharusnya sejak petang tadi. Tapi ia lupa karena sibuk mengurus penganan orang tahlilan.

Tapi Rukayah ragu untuk masuk. Sebab, sejak tiga malam lalu, Sisi meminta agar sang nenek tidak lagi mengganggunya jika sudah berada di kamar.

“Saya mudah terbangun kalau ada suara, Nek,” katanya. “Jika sudah terbangun, saya akan sangat susah lelap lagi. Bisa sampai pagi. Badan saya akan lemas.”

Rukayah berharap tak ada nyamuk mengganggu cucunya itu. Ia pun tak mau mengusik kenyamanan tidurnya. Apalagi, tiga hari belakangan, Sisi tak lagi mengeluh demam, nyeri, atau lemas. Ia justru terlihat sangat sehat. Rukayah bisa melihat perbedaan jauh dengan saat anak itu baru tiba, yang mukanya pucat pasi. Kini begitu segar. Wajahnya merah merona serta lebih banyak tersenyum.

Rukayah senang dengan keadaan itu. Ia berdoa semoga berlanjut hingga Sisi benar-benar sembuh. Sebab, diam-diam Rukayah membayangkan sang cucu menikah dengan Randa, yang ia tahu adalah kekasih Sisi.

Rukayah menyukai pemuda itu. Sebab, tampaknya sayang sekali kepada Sisi. Bahkan ia cenderung menuruti segala kehendak Sisi yang memang manja dan agak keras kepala. Sering Rukayah melihat atau mendengar Sisi memerintahnya melakukan sesuatu. Randa segera mengerjakannya tanpa sedikit pun menolak atau protes.

Nenek itu geleng-geleng kepala. Tak sadar ia tersenyum mengingat ulah Sisi. “Tak baik Sisi bersikap begitu kepada lelaki. Tapi mungkin begitulah cara keduanya saling mencintai,” batinnya.

Rukayah tersentak. Ada sesuatu, seperti hewan yang tiba-tiba hinggap di bahu kirinya. Lekas ia raba.

“Aduh!” jeritnya pelan ketika ia merasa jarinya perih disentil oleh hewan itu dengan kakinya yang sepertinya berduri.

Hewan itu terbang lalu hinggap di atas tikar di depan Rukayah.

“Belalang sembah! Dari mana datangnya belalang ini malam-malam begini?” ucapnya kepada diri sendiri.

Belalang itu melompat, melompat lagi, lalu masuk ke dalam kamar Sisi melalui celah antara daun pintu dan lantai.

Lekas Rukayah bangkit, bermaksud mengikuti hewan itu yang dikhawatirkannya mengganggu tidur cucunya.

Didorongnya daun pintu yang tak terkunci itu.

“Ya, Allah!” serunya seraya menutup mulut demi menyaksikan pemandangan di atas dipan. Ratusan belalang sembah tindih-menindih! Sisi tak ada pula di sana!

Rukayah melangkah masuk dengan tubuh gemetar karena kaget dan khawatir kepada cucunya. Pandangannya tak beralih dari dipan, tapi tangannya mendorong daun jendela. Tertutup rapat dan terkunci!

“Ke mana Sisi?” bisiknya penuh kecemasan.

Ia keluar dan pergi ke kamar Randa untuk membangunkannya.

Didorongnya daun pintu kamar pemuda itu, yang tak terkunci pula. 

Terbelalaklah mata tuanya demi mendapati pemandangan yang sama dengan pemandangan di kamar Sisi! Di sana jumlah belalang sembah bahkan lebih banyak dan berlompatan ke sana-kemari.

“Ada apa ini, ya Allah?!” keluh Rukayah panik. “Kenapa Sisi dan Randa hilang, sedang dipan mereka dipenuhi belalang sembah?”

Perempuan itu mundur dari pintu kamar Randa. Ia keluar ke teras dengan rasa takut yang semakin menguasainya. 

“Ada apa dengan belalang-belalang itu?” Duduk di kursi, ia mengeluh bingung.

Tiba-tiba terlintas bayangan belalang yang hinggap di bantal-guling saat suaminya meninggal. Darahnya berdesir. Dadanya berdegup.

“Apakah… apakah…?” bisiknya tak sanggup menuntaskan ucapan.

Kerongkongannya tercekat karena kalut memikirkan sebuah kemungkinan.

“Syarif! Syarif!” teriaknya. “Kita ke Bukit Belalang!”

***

“Bu, Bu, istigfar, Bu!”

Bisikan Syarif mengikuti sigap tangannya memegang lengan keriput Rukayah. Perempuan itu kehilangan tenaga, lalu terduduk lemas di atas batu di bawah pohon karena sangat terkejut menyaksikan apa yang sedang berlangsung di sisi timur punggung Bukit Belalang.

Di sana, di bawah terang cahaya purnama, di atas rumput Sisi sedang dalam posisi tengkurap. Randa tengkurap pula di atasnya. Dan beberapa menit kemudian, tubuh cucunya itu berubah bentuk. Tak lagi berupa manusia, melainkan belalang sembah!

Ia terus tengkurap, dengan Randa yang terus pula menempel di atasnya.

Syarif, lelaki pesuruh rumah yang syok pula dengan pemandangan itu, berusaha menjaga Rukayah agar jangan sampai jatuh ketika nenek itu bergegas mengayunkan kaki dalam gelap, meninggalkan kawasan Bukit Belalang dengan langkah terseok.

Sepanjang jalan yang terus disorot senter Syarif, tak henti-hentinya janda itu mengucapkan istigfar, dengan getar dan isakan melatarinya, yang berbaur rintihan, “Duh… Sisi… cucuku…. Duh… Sisi….”

Tubuhnya benar-benar gemetar dan lututnya hampir tak bisa digerakkan karena benaknya terus dicekam ketidakpercayaan akan penglihatannya sendiri atas apa yang terjadi pada cucunya, pada penampakan nyata Ratu Belalang Sembah, yang selama ini hanya ada dalam mitos! 

“Ya, Allah… ternyata aku benar, aku benar! Kehadiran belalang sembah di rumah, di kamar Sisi dan Randa adalah kehadiran Ratu Belalang Sembah dan prajuritnya! Dan kematian Usman pasti adalah hasil perbuatan siluman itu!” serunya, berulang seperti meracau. “Ratu itu membalaskan dendamnya karena Usman telah menghancurkan kerajaan mereka! Karena suamiku berusaha pula menghalangi Sisi pergi ke Bukit Belalang!”

“Oh… pasti Ratu Belalang Sembah juga yang mendorong cucuku datang, menuntunnya ke Bukit Belalang! Ia tak tahu tentang keberadaan bukit itu. Ibunya juga tidak pernah bercerita, bahkan sudah lupa dengan bukit itu!” bisik Rukayah lagi, kian bergetar.

“Bahkan penyakitnya yang aneh, yang reda jika telah jalan-jalan ke taman atau hutan buatan di tepi kota, pasti pula karena ulah Ratu Belalang Sembah!”

“Hati-hati, Bu! Awas!” ucap Syarif menyela luncuran kata-kata dari bibir Rukayah, yang langkah rentanya harus melawan medan jalan yang berbatu dan berlubang. 

“Perubahan kesehatannya juga, setelah Usman meninggal, yang tiba-tiba tak lagi mengeluh demam, nyeri, atau lemas, yang justru terlihat sehat, begitu segar, wajahnya merah merona, serta lebih banyak tersenyum pasti karena pengaruh keberhasilan ratu itu membunuh suamiku…. Pantasan juga cucuku yang malang melarangku masuk ke kamarnya sejak tiga malam belakangan. Rupanya yang melarangku bukan lagi dia, melainkan Ratu Belalang Sembah yang telah menguasai ia dan kamarnya, juga kekasihnya.”

Rukayah tampak kelelahan seusai bicara. Ia berhenti dan duduk menyandarkan tubuh ringkihnya di pohon randu.

Syarif, yang belum sepenuhnya mengerti atas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang diucapkan oleh majikannya itu, ikut pula duduk.

Matanya langsung melebar ketika sambil terengah-engah Rukayah berkata kembali. 

“Kasihan Randa….” 

Lirih suaranya.

Ia lalu diam. Syarif juga diam. Keduanya terdiam. Hanya bertatapan dengan raut wajah bergidik karena di kepala keduanya sama-sama muncul suara yang mengingatkan, “Ini musim kemarau.”


Sumbawa Timur, 16 Desember 2023


Yin Ude, penulis asal Sumbawa Timur, Nusa Tenggara Barat. Ia menulis sejak 1997. Karyanya berupa puisi, cerpen, novel, dan artikel dipublikasikan di media cetak serta online. Ia memenangi beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen.

Berita Lainnya