maaf email atau password anda salah


PPIM

Tantangan Melestarikan Bujangga di Era Digital

Bujangga merupakan tradisi membaca dan melantunkan teks naratif yang tertulis dalam manuskrip kuno dalam aksara dan bahasa Jawa. Manuskrip berisi tentang agama, moral, etika, catatan sejarah hingga catatan agraria. #Infotempo

arsip tempo : 172188230242.

Diskusi bertajuk “Bujangga dan Tantangan Pelestariannya di Era Digital untuk Ketahanan Pangan” digelar di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Indramyu, Rabu, 25 Januari 2022.. tempo : 172188230242.

Indramayu adalah salah satu salah satu kabupaten yang memiliki beragam tradisi dan budaya masyarakat yang diwariskan secara turun temurun dan sarat nilai-nilai luhur. Salah satunya adalah Bujanggaan. 

Tradisi ini merupakan aktivitas membaca dan melantunkan teks naratif yang tertulis dalam manuskrip kuno dalam aksara dan bahasa Jawa. Isi teks yang terkandung di dalam manuskrip-manuskrip kuno di Indramayu amat beragam, mulai dari ajaran-ajaran agama, moral, etika, catatan sejarah, hingga tata cara aktivitas dan catatan agraria yang populer pada masa silam.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini terancam punah. Salah satun faktor adalah regenerasi yang tidak berlangsung baik seiring para maestro Bujanggaan tutup usia. Selain itu adanya penentangan dari kelompok-kelompok keagamaan ekstrem tertentu sehingga mempengaruhi pandangan masyarakat, kesenjangan akses dan media penyebaran yang digunakan. 

Di sisi lain, hal ini turut berdampak pada Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) di Provinsi Jawa Barat (52,04) juga yang masih di bawah angka IPK Nasional. Padahal Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan mencantumkan tradisi lisan dan manuskrip sebagai objek kebudayaan yang wajib dilestarikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat sebagai identitas budaya bangsa. 

Selain itu, survei Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Indramayu, menunjukkan 63 persen generasi muda Indramayu tidak berminat menjadi petani. Kondisi ini menjadi ancaman ketahanan pangan di wilayah dan Jawa Barat sebagai salah satu lumbung pangan nasional. 

Yayasan Surya Pringga Dermayu, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada edukasi dan pelestarian manuskrip-manuskrip kuno di Indramayu, menginisiasi diskusi melibatkan banyak pihak. Diskusi terpumpun bertajuk “Bujangga dan Tantangan Pelestariannya di Era Digital untuk Ketahanan Pangan” digelar di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Indramyu, Rabu, 25 Januari 2022. 

Hadir dalam diskusi Dr. Munawar Holil, Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Ilham Nurwansah, M.Pd., peneliti Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (Dreamsea) PPIM Universitas Islam Negeri Jakarta. 

Acara ini dihadiri pejabat di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Arsip beserta para pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu. Selain itu, maestro Bujanggaan Indramayu, Ki Lebe Warki dan timnya turut meramaikan acara melalui tembang-tembang Bujanggaan yang tertulis dalam manuskrip. 

Diskusi juga dihadiri berbagai masyarakat lintas kalangan mulai dari akademisi, siswa sekolah menengah atas, hingga para pegiat literasi daerah khususnya di Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui program DanaIndonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Dalam sambutannya Sri Tanjung Sugiarti Tarka, Ketua Yayasan Surya Pringga Dermayu, mengapresiasi sinergi pemerintah dengan masyarakat dalam upaya bersama melestarikan tradisi Bujanggaan dan manuskrip-manuskripnya, “Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah merupakan hal yang harus dilakukan dalam pelestarian tradisi Bujanggaan ini,” ujarnya. 

Menurut dia, kegiatan ini dipandang sebagai upaya masyarakat pegiat manuskrip kuno di Indramayu mendekatkan akses-akses pengetahuan yang terkandung dalam tradisi dan budaya masyarakat pada masa silam. “Tradisi dan budaya  selalu relevan dalam kehidupan hari ini, termasuk dalam aspek pertanian,” kata Sri Tanjung. 

Munawar Holil dalam uraian materinya mengungkap bahwa tradisi membaca naskah di Indonesia amat beragam. “Indonesia memiliki kekayaan tradisi intelektual bangsa berupa tradisi membaca manuskrip mulai dari ujung barat Nusantara hingga wilayah paling timurnya,” ujarnya. 

Setiap daerah, kata dia, memiliki penyebutan masing-masing. “Misalnya wilayah Sunda ada Wawacan, Mamaos, Beluk, dan sejenisnya. Jawa mengenal istilah Macapat, Mocoan, Lombok dengan tradisi Pepaosan-nya dan Bali dengan tradisi Mabasan-nya. Indramayu ternyata memiliki tradisi yang sama dalam pembacaan manuskrip yakni Bujanggaan,” ucapnya. 

Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mengatakan dari sekian banyak riset yang dilakukan tentang manuskrip dan tradisinya, baru sedikit penelitian yang mengkaji tradisi membaca manuskrip khususnya Bujanggaan di Indramayu. “Padahal, tradisi Bujanggaan memuat dua komponen penting objek Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yakni tradisi lisan dan manuskrip,” kata Munawar. 

Adapun Ilham Nurwansah, mengatakan Dalam beberapa data manuskrip di Indramayu terdapat manuskrip-manuskrip yang mencatat data-data pertanian pada masa silam. “Seperti mencatat tentang buah mangga dan kopi yang bermanfaat untuk arah kebijakan pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan di wilayah ini. Apalagi Indramayu merupakan salah satu wilayah lumbung pangan nasional,” tuturnya. 

Alumnus Fakultas Sastra Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, menyebutkan teks-teks yang dilantunkan Bujangga menjadi sarana komunikasi budaya efektif oleh pemerintah kolonial dalam menyebarkan informasi-informasi penting. “Namun, perlu adanya penyesuaian cara untuk menyampaikan konten-konten lokal yang terkesan berat ini seperti kolaborasi dengan para influencer, alih media teknologi sehingga mendekatkan tradisi ini kepada kawula muda,” kata Ilham.

Kepala Bidang Pengelolaan Perpustakaan dan Pelestarian Bahan Pustaka Dinas Perpustakaan dan Arsip Indramayu, Tati Hartati, mengapresiasi kegiatan kolaboratif dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya Bujangga ini. “Acara ini merupakan bukti bahwa pemerintah bersama-sama masyarakat hadir dalam upaya pelestarian dan penanaman nilai-nilai luhur dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya masyarakat Indramayu sesuai dengan amanat undang-undang,” ujarnya. 

Konten Eksklusif Lainnya

  • 25 Juli 2024

  • 24 Juli 2024

  • 23 Juli 2024

  • 22 Juli 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan